Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Murid Aras-Arasen Sekolah: Penyebab dan Solusinya

Iklan Landscape Smamda
Murid Aras-Arasen Sekolah: Penyebab dan Solusinya
Imam Sapari, S.H.I., M.Pd.I. Foto: Istimewa/PWMU.CO
Oleh : Imam Sapari, S.H.I., M.Pd.I. Kepala SMP Muhammadiyah 7 Surabaya – Ketua Majelis Tabligh PDM Surabaya

Pemandangan di gerbang sekolah pada pagi hari sering kali mengusik batin. Alih-alih melihat binar mata penuh rasa ingin tahu, justru lebih sering tampak wajah-wajah lemas, loyo, dan kosong. Anak-anak datang ke sekolah seolah hanya untuk menggugurkan kewajiban. Fenomena aras-arasen ini bukan sekadar rasa malas biasa, melainkan tanda bahwa ada sesuatu yang “mati” dalam aktivitas harian mereka di kelas.

Mengapa Mereka Kehilangan Ghirah?

Dalam perspektif psikologi pendidikan, kondisi “blank” dan tidak antusias ini kerap dipicu oleh kejenuhan eksistensial. Murid merasa terjebak dalam rutinitas mekanis: datang, duduk, mendengar, dan mencatat. Ketika hari-hari hanya menjadi pengulangan tanpa kejutan atau tantangan baru yang relevan dengan dunia mereka, otak akan masuk ke mode hemat energi atau autopilot.

Akibatnya, murid kehilangan makna. Mereka tidak memahami tujuan mempelajari rumus atau peristiwa sejarah jika tidak terhubung dengan realitas hidup mereka. Di sinilah ghirah atau semangat belajar mulai padam dan berganti menjadi beban mental.

Menata Jiwa Sebelum Mengisi Logika

Langkah paling mendesak untuk mengatasi fenomena ini bukan langsung menyodorkan materi pelajaran, melainkan memberi ruang transisi batin. Sebelum otak bekerja keras, jiwa perlu diisi terlebih dahulu. Pembiasaan ibadah di awal hari menjadi kunci.

Dengan memulai pagi melalui dzikir, muroja’ah surat-surat pendek, dan shalat Dhuha, siswa tidak langsung dihadapkan pada beban kognitif yang berat. Aktivitas spiritual ini berfungsi sebagai penyelarasan batin. Dzikir menumbuhkan ketenangan, muroja’ah melatih fokus, dan shalat Dhuha menjadi momentum berserah diri sekaligus memohon keberkahan.

Praktik ini tidak hanya menurunkan tingkat stres, tetapi juga mengisi kekosongan batin yang sering menjadi akar sikap apatis di sekolah.

Mengapa Pendekatan Spiritual Efektif?

Secara keilmuan, aktivitas spiritual yang dilakukan secara kolektif dan tenang di pagi hari berdampak signifikan terhadap kesiapan belajar:

Regulasi Emosi dan Kortisol

Penelitian psikoneuroimunologi menunjukkan bahwa dzikir dan doa dapat menurunkan hormon kortisol (stres) serta meningkatkan endorfin dan serotonin yang memunculkan rasa tenang dan bahagia.

Aktivasi Gelombang Alfa

Saat muroja’ah dan shalat dilakukan dengan khusyuk, otak memasuki gelombang alfa (8–13 Hz). Kondisi ini ideal untuk belajar karena siswa berada dalam keadaan rileks namun tetap waspada.

Fokus dan Memori Kerja

Pengulangan ayat secara rutin terbukti memperkuat koneksi sinapsis di prefrontal cortex, bagian otak yang berperan dalam konsentrasi dan pengambilan keputusan.

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

Mengembalikan “Nyawa” ke Sekolah

Untuk memulihkan antusiasme siswa, diperlukan langkah nyata dari tiga pilar pendidikan:

1. Kepala Sekolah sebagai Arsitek EkosistemKepala sekolah perlu berani merombak kultur agar tidak kaku. Sekolah harus menghadirkan hal baru secara berkala, seperti proyek kepemimpinan, kompetisi kreativitas, dan integrasi teknologi. Sekolah perlu diposisikan sebagai ruang eksplorasi yang menyenangkan, bukan sekadar tempat menghafal.

2. Guru sebagai Pemantik InspirasiGuru tidak lagi sekadar penyampai materi, tetapi fasilitator yang mengaitkan pelajaran dengan isu nyata. Dengan memberi ruang bagi suara dan pilihan siswa (student agency), murid merasa memiliki kendali atas pembelajaran. Rasa memiliki ini akan menghidupkan kembali semangat belajar.

3. Orang Tua sebagai Penjaga KeseimbanganPeran keluarga sangat penting. Orang tua perlu memastikan anak memiliki waktu istirahat cukup dan kesempatan mengembangkan hobi. Validasi emosional dari orang tua membantu anak merasa dihargai, sehingga lebih kuat menghadapi tantangan akademik.

Penutup

Pendekatan ini bukan sekadar teori. SMP Muhammadiyah 7 Surabaya telah membuktikan efektivitasnya melalui pembiasaan pagi yang konsisten selama lima tahun.

Hasilnya nyata. Integrasi dzikir, muroja’ah, dan shalat Dhuha sebelum kegiatan belajar mengajar mampu mengubah atmosfer sekolah dari lesu menjadi penuh ghirah. Siswa menunjukkan ketahanan mental yang lebih baik, antusiasme belajar meningkat, dan perilaku yang lebih santun.

Pembiasaan ini menjadi fondasi karakter yang menyiapkan siswa tidak hanya secara intelektual, tetapi juga spiritual. Sekolah tidak lagi dirasakan sebagai beban, melainkan tempat menemukan ketenangan dan semangat baru setiap hari.

Mengatasi murid yang aras-arasen tidak dapat dilakukan dengan paksaan atau ancaman nilai. Pendekatan yang menyentuh sisi kemanusiaan menjadi kunci. Ketika sekolah kembali menghadirkan makna, tantangan, dan penghargaan terhadap proses, maka binar mata siswa akan menyala kembali secara alami. (*)

Revisi Oleh:
  • Wildan Nanda Rahmatullah - 12/04/2026 14:02
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡