Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Musik AI: Antara Inovasi dan Tantangan bagi Musisi Asli

Iklan Landscape Smamda
Musik AI: Antara Inovasi dan Tantangan bagi Musisi Asli
pwmu.co -

Belakangan ini, dunia musik sedang ramai diperbincangkan karena kehadiran musik yang diciptakan oleh kecerdasan buatan (AI). Sebuah platform musik ternama baru-baru ini mengungkapkan bahwa 18% lagu di platform mereka adalah hasil karya AI.

Fenomena ini semakin mencuri perhatian ketika sebuah lagu berjudul Dust on the Wind dari band bernama The Velvet Sundown berhasil menduduki puncak tangga lagu di Spotify dengan jutaan streaming.

Lagu ini viral di mana-mana, namun ternyata baik lagu maupun gambar promosi band ini adalah buatan AI. Visual band yang terlihat begitu nyata dan lagu yang begitu enak didengar ternyata murni diciptakan oleh teknologi, bukan manusia.

Kehadiran musik AI ini memunculkan pertanyaan besar: apakah ini fenomena positif atau justru ancaman bagi ekosistem musik, termasuk di Indonesia?

Ketika kita mencari “Jazz Indonesia” di YouTube, misalnya, hasilnya bercampur antara karya musisi asli dan kompilasi lagu-lagu AI. Bagi pendengar awam, mungkin sulit membedakan mana yang asli dan mana yang buatan AI.

Namun, ada cara sederhana untuk mengenalinya: perhatikan deskripsi video. Jika tidak ada nama musisi atau penyanyi yang jelas, kemungkinan besar itu adalah karya AI. Suara AI sering kali terasa “berbeda” bagi telinga yang terlatih, meskipun lagunya sendiri bisa terdengar sangat enak.

YouTube baru-baru ini juga mengeluarkan kebijakan terkait konten AI, khususnya untuk menangani content farms—konten yang diproduksi secara massal dan bersifat spam.

Gambar ilustrasi musik AI. (Istimewa/PWMU.CO)

Namun, musik AI yang viral seperti karya The Velvet Sundown sepertinya belum masuk kategori ini, sehingga kemungkinan besar masih bisa dimonetisasi.

Hal ini menimbulkan spekulasi: apakah platform seperti Spotify sengaja mempromosikan musik AI karena lebih menguntungkan? Dengan musik AI, platform tidak perlu berbagi royalti dengan label atau artis, sehingga keuntungan bisa masuk langsung ke kantong mereka.

Contohnya, kompilasi musik Jazz Swing Indonesia Classic di YouTube sering kali tidak mencantumkan nama penyanyi dan deskripsinya tampak seperti ditulis oleh AI seperti ChatGPT. Meski enak didengar, kenyataan bahwa ini bukan karya manusia membuat kita bertanya-tanya tentang masa depan musik.

Bagi penikmat musik, kehadiran AI menawarkan tantangan sekaligus peluang. Sekarang adalah saatnya untuk lebih mendukung musisi asli.

Membuat lagu atau album bagi musisi manusia membutuhkan waktu, tenaga, dan biaya yang besar—bisa berbulan-bulan untuk satu karya.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Sementara itu, AI bisa menghasilkan ratusan lagu dalam sehari, seperti yang ditawarkan platform seperti Suno yang memungkinkan produksi hingga 500 lagu per hari dengan langganan berbayar.

Musisi asli jelas tidak bisa bersaing dengan kecepatan ini. Oleh karena itu, sebagai penikmat musik, kita bisa mendukung musisi dengan membeli merchandise, menonton konten mereka, atau menghadiri konser langsung.

Ini bukan hanya soal menikmati musik, tetapi juga mencegah dunia musik jatuh ke dalam apa yang disebut dead internet theory—sebuah dunia di mana semua konten di internet, termasuk musik, film, dan artikel, didominasi oleh AI tanpa sentuhan manusia.

Bagi musisi, tantangan ini juga menuntut strategi baru. Salah satu keunggulan musisi asli adalah kemampuan mereka untuk menjalin hubungan emosional dengan pendengar, sesuatu yang tidak bisa dilakukan oleh AI.

Musisi AI tidak bisa tampil di konser, memiliki akun Instagram, atau berinteraksi langsung dengan penggemar. Karena itu, musisi harus fokus membangun koneksi dengan audiens, tidak hanya sekadar menciptakan musik. Menjadi musisi kini bukan lagi hanya soal membuat lagu, tetapi juga tentang menciptakan pengalaman dan kedekatan dengan pendengar.

Di sisi lain, kita tidak perlu memusuhi AI. Teknologi ini memiliki manfaat besar jika digunakan dengan bijak. Musisi dan penikmat musik bisa mempelajari AI untuk memanfaatkannya secara positif, misalnya untuk bereksperimen dengan ide-ide baru atau mempercepat proses kreatif. Yang terpenting adalah menemukan keseimbangan agar musisi asli tetap bisa bersinar di tengah gelombang musik AI.

Jadi, mari kita dukung musisi asli dengan penuh cinta dan apresiasi. Dunia musik yang hidup adalah dunia yang dipenuhi karya manusia, dibuat dengan hati, dan dinikmati dengan jiwa.

Terima kasih telah mendengarkan, dan jangan lupa: support live musicians. (*)

 

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu