Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Musik Bicara Lebih Lantang dari Kata: Kisah di Balik Jingle MIM Delapan

Iklan Landscape Smamda
Musik Bicara Lebih Lantang dari Kata: Kisah di Balik Jingle MIM Delapan
Gedung MIM 08 Pelangwot tampak dari depan. (Hikmatul Karomah/PWMU.CO).
pwmu.co -

Suara riuh tepuk tangan pecah di halaman Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah (MIM) 08 Pelangwot pada Sabtu (14/06/2025).

Jingle baru MIM Delapan untuk pertama kalinya diperdengarkan, bukan lewat paduan suara, melainkan sebagai iringan musik pembuka menjelang momen istimewa.

Dua tokoh alumni, Dr Mustakim SS MSi dan Dr Ahsan Hakim MPd naik ke panggung untuk berbincang santai bersama penonton.

Acara pelepasan siswa, pagelaran seni, dan cangkrukan alumni malam itu terasa berbeda. Di tengah obrolan hangat, jingle itu mengalun lembut, menyelimuti suasana dengan rasa bangga.

Lagu sederhana tersebut menjadi latar kisah tentang para alumni yang sukses dan tetap membawa nama harum madrasah tempat mereka tumbuh.

Malam yang Melahirkan Ide

Ide jingle itu muncul di suatu malam yang sunyi. Di sela mengerjakan administrasi madrasah, saya—guru yang juga alumni MIM Delapan—merenung tentang betapa besar anugerah bisa mengabdi di tempat pertama kali belajar mengenal huruf dan akhlak.

Dari rasa syukur itulah tercetus keinginan untuk menghadirkan karya yang dapat mewakili semangat seluruh warga madrasah. Bukan dalam bentuk pidato atau tulisan panjang, tetapi melalui musik, karena saya percaya: musik bicara lebih lantang dari kata.

Berikut merupakan Lirik Jingle MIM 8 Cipt. Hikmatul Karomah:

Di bumi Pelangwot nan mulia
Berdiri tegak penuh cahaya
Madrasah kami tempat mengabdi
Mim delapan kebanggaan hati
Didirikan Kyai Haji Munawar
Dengan tegak kuat dan sabar
Membimbing umat mencetak insan
Berilmu tinggi berakhlak iman
Mim delapan terus maju
Menebar ilmu sepanjang waktu
Demi bangsa, demi agama
Mencetak insan yang mulia
Di tepian Bengawan Solo
Madrasah tumbuh tak pernah layu
Siswa-siswi melangkah pasti
Menggapai cita di jalan Ilahi
Bersama-sama
Mengukir sejarah penuh arti
Mim delapan tetap jaya
Dalam ridhonya selamanya

Setiap baitnya adalah potongan kisah nyata tentang perjuangan dan keikhlasan. “Didirikan Kyai Haji Munawar dengan tegak kuat dan sabar” bukan sekadar kalimat, tetapi penghormatan kepada pendiri madrasah yang menanamkan nilai keikhlasan dan keteguhan. Liriknya juga mencerminkan filosofi pendidikan Islam: ilmu, iman, dan akhlak harus berjalan seiring.

Launching Pertama: Lagu yang Menyatukan

Peluncuran perdana jingle ini disaksikan dua tokoh alumni, Dr Mustakim SS MSi dan Dr Ahsan Hakim MPd., yang turut memberi apresiasi.

Mereka menyebut jingle ini sebagai karya sederhana namun sarat makna. Para siswa menyanyi dengan semangat, guru dan orang tua menatap dengan bangga, sementara sebagian alumni menitikkan air mata haru.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Di balik panggung sederhana itu, saya merasakan sesuatu yang berbeda. Lagu itu seperti menjembatani masa lalu dan masa kini—antara guru, siswa, dan alumni—yang semuanya memiliki satu semangat: menjadikan MIM Delapan semakin berdaya dan bermakna.

Beberapa bulan kemudian tepatnya Minggu (28/09/2025) di halaman MIM 8 Pelangwot, lagu ini kembali diperdengarkan dalam Pengajian Muhammadiyah se-Cabang Laren.

Kali ini tampil lebih megah: siswa kelas 3 hingga 6 membawakan lagu dengan gerakan koreografi yang penuh ekspresi, diiringi musik dan gema Paduan suara Harmoni alam PRNA Pelangwot.

Sorak penonton menggema. Banyak yang merekam dengan gawai, bahkan beberapa guru dari madrasah lain mengaku terinspirasi. Salah seorang peserta pengajian berkomentar lirih.

“Lagu ini bikin merinding, seperti mengingatkan kita bahwa madrasah bukan sekadar tempat belajar, tapi tempat membangun jiwa” tambahnya.

Makna di Balik Nada dan Kata

Jingle MIM Delapan bukan sekadar proyek musik sekolah. Ia adalah simbol identitas madrasah pedesaan yang terus tumbuh di tepian Bengawan Solo, tempat tradisi dan semangat pembaruan berpadu.

Lagu ini menggambarkan bahwa madrasah tidak hanya kuat dalam bidang agama, tetapi juga kreatif dalam menghidupkan nilai-nilai melalui seni dan budaya.

Musik menjadi media dakwah yang lembut—mengajarkan cinta, disiplin, dan kebersamaan. Ia menggerakkan tanpa paksaan, menyatukan tanpa batas.

Bagi saya pribadi, menciptakan jingle ini adalah bentuk syukur yang hidup. Karena melalui nada, saya dapat mengucap terima kasih kepada tempat yang telah membentuk saya menjadi pendidik.

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu