Masjid bukan sekadar bangunan tempat bersujud, tetapi juga ruang lahirnya gagasan dan energi positif bagi generasi muda. Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern yang kerap menguras emosi, masjid menjadi tempat menenangkan jiwa sekaligus memperkuat spiritualitas.
Semangat itulah yang terlihat pada Ahad, 1 Maret 2026, ketika Pimpinan Cabang Nasyiatul ‘Aisyiyah (PCNA) Buduran berkolaborasi dengan Departemen Muslimah Masjid Ar-Royyan Muhammadiyah Buduran menggelar kajian muslimah bertajuk “Ramadan Therapy: Menyembuhkan Luka Hati”.
Kegiatan yang berlangsung di ruang utama Masjid Ar-Royyan tersebut diikuti puluhan muslimah dari berbagai latar belakang. Mayoritas peserta berasal dari kalangan generasi muda, khususnya generasi Z yang sedang menempuh pendidikan.
Ramadan sebagai Momentum Pemulihan Jiwa
Sejak pukul 16.00 WIB, para peserta sudah mulai memenuhi area utama masjid. Antusiasme tersebut menunjukkan bahwa masjid masih menjadi ruang yang relevan bagi anak muda untuk bertumbuh secara spiritual.
Acara kemudian dimulai pukul 16.30 WIB dengan menghadirkan Ustazah Sarah Syahida sebagai narasumber utama. Ia dikenal sebagai Muslimah Motivator sekaligus Co-Founder Komunitas Buku Soba Sabi.
Dalam paparannya, Sarah menegaskan bahwa Ramadan merupakan momentum penting untuk melatih sekaligus menyembuhkan jiwa manusia.
“Dalam Islam, hati menjadi pusat dari seluruh perilaku manusia. Ketika hati baik, maka baik pula seluruh amal perbuatan seseorang. Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi sarana melatih jiwa untuk mengendalikan emosi serta mendekatkan diri kepada Allah melalui muhasabah,” jelasnya.
Tiga Tahapan Transformasi Diri
Lebih lanjut, Sarah menjelaskan bahwa proses penyembuhan batin dan perbaikan diri dapat dimulai melalui tiga tahapan penting.
Tahapan pertama adalah menyadari kondisi diri secara jujur. Kedua, menerima kekurangan yang dimiliki tanpa menyalahkan keadaan. Ketiga, memperbaiki diri melalui konsistensi dalam menjalankan ibadah.
Menurutnya, tiga proses tersebut menjadi langkah awal untuk membangun ketenangan jiwa sekaligus memperkuat hubungan spiritual dengan Allah SWT.
Ruang Refleksi bagi Muslimah Muda
Ketua Pelaksana kegiatan, Athiyah Rahmah, menjelaskan bahwa kajian ini dirancang sebagai ruang refleksi bagi muslimah, khususnya generasi muda.
“Kami ingin mengajak para muslimah menempuh perjalanan menuju Allah sambil menyembuhkan luka batin. Tujuannya agar jiwa kembali utuh dan penuh harapan dalam menyambut rahmat bulan suci Ramadan,” ungkap Athiyah.
Senada dengan itu, Ketua PCNA Buduran Rifatul Hidayah menilai kegiatan ini penting sebagai upaya menjaga kesehatan mental sekaligus spiritual perempuan di tengah dinamika kehidupan modern.
“Kami ingin memaknai Ramadan tidak hanya sebagai ritual tahunan, tetapi sebagai momentum memperbaiki kondisi hati. Setiap orang memiliki kesempatan untuk memulai perubahan dan menjalani kehidupan yang lebih tenang serta bermakna,” tutur Rifatul.
Ditutup dengan Buka Puasa Bersama
Kajian yang berlangsung hangat tersebut ditutup dengan sesi tanya jawab interaktif. Para peserta tampak antusias berbagi pengalaman sekaligus mencari solusi berdasarkan perspektif Islam.
Rangkaian acara kemudian diakhiri dengan buka puasa bersama yang semakin mempererat silaturahmi antar kader Nasyiatul Aisyiyah dan jamaah masjid.
Kegiatan ini diharapkan dapat terus menjadi ruang pembinaan spiritual bagi generasi muda, sekaligus memperkuat peran masjid sebagai pusat pembelajaran, refleksi, dan penguatan karakter umat.






0 Tanggapan
Empty Comments