
PWMU.CO – Esai ini tidak bermaksud membenarkan paham keagamaan tertentu atau menyederhanakan konflik panjang antara dua mazhab terbesar dalam Islam, yakni Sunni dan Syiah. Penulis menempatkan diri sebagai pengamat yang berupaya memisahkan antara dimensi geopolitik dan dimensi akidah dalam menyikapi konflik yang sedang melanda dunia Islam saat ini. Segala bentuk fatwa dan penilaian keagamaan tetap menjadi kewenangan para ulama yang memiliki kompetensi di bidangnya.
Konflik antara Iran dan penjajah Zionis Israel kembali membangkitkan gema takbir serta memicu perdebatan panjang di tengah umat Islam. Sebagian pihak bersorak atas hantaman rudal ke jantung kekuatan penjajah, sementara yang lain mempertanyakan motif di balik serangan tersebut: benarkah ini bentuk jihad, ataukah sekadar manuver diplomatik yang dibungkus semangat keagamaan?
Perdebatan yang tak kunjung usai ini kembali membuka luka lama yang belum sepenuhnya sembuh—luka perpecahan antara Sunni dan Syiah. Namun, haruskah konflik ini selalu dilihat melalui kacamata mazhab? Tidakkah ada persoalan lain yang lebih penting untuk dikedepankan? Bagaimana seharusnya umat Islam menyikapi konflik global dengan kecerdasan geopolitik dan kematangan iman?
Iran, persimpangan akidah dan politik
Penting untuk menegaskan bahwa aqidah merupakan wilayah yang sakral. Hanya yang memiliki kedalaman ilmu, sanad yang valid dan keluasan pemahaman saja yang berhak untuk membicarakan persoalan-persoalan fundamental, seperti: klaim kekafiran, vonis sesat atau penentuan kelompok fasiq. Sayangnya, media sosial kerap menyederhanakan semua itu menjadi bahan perdebatan publik tanpa tanggung jawab ilmiah.
Dalam konteks ini, membutuhkan sikap bijaksana dengan tidak melompati pagar keilmuan yang bukan kapasitas kita. Meskipun Syiah memiliki banyak cabang yang berbeda dalam pandangan ulama, — mulai dari Zaidiyah, Jafariyah hingga yang dianggap ekstrim (Ghulat) — tetap membutuhkan kehati-hatian dalam bersikap. Karena secara fakta, sebagian besar pengikut Syiah tetap mengimani Al-Qur’an, Rasulullah Muhammad SAW sebagai Nabi terakhir dan menegakkan syariat Islam.
Namun, bukan berarti kita harus menutup mata terhadap perbedaan besar antara Sunni dan Syiah, karena perbedaan itu memang nyata adanya. Tetapi ketika Iran meluncurkan serangan ke negara penjajah, apakah tindakan tersebut harus serta-merta dianggap sebagai sandiwara hanya karena pelakunya bukan berasal dari kelompok kita?
Musuh bersama lebih nyata daripada perbedaan mazhab
Jika kita kembali membuka lembar sejarah, kita akan menemukan satu hikmah dari sikap Abu Bakar Ash-Shiddiq ra. Ketika Persia (Majusi) dan Romawi (Kristen) berperang, beliau justru berpihak pada Romawi, meskipun keduanya bukan Muslim. Alasannya sederhana: Romawi lebih dekat kepada Islam karena masih meyakini kitab samawi. Sikap itu kemudian dikukuhkan oleh wahyu dalam Surah Ar-Rum:
“Alif Lam Mim. Telah dikalahkan bangsa Romawi, di negeri yang paling dekat; dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang…” (QS. Ar-Rum: 1–3).
Apa pelajaran dari sini? Bahwa keberpihakan politik tak selalu identik dengan keberpihakan aqidah. Umat Islam bisa dan boleh mendukung sebuah entitas politik yang dalam konteks tertentu sejalan dengan kepentingan umat, tanpa harus menyetujui seluruh doktrin internal kelompok tersebut.
Begitu pula hari ini dengan heroisme Iran — terlepas dari mazhab dan kebijakan luar negerinya — yang memperlihatkan keberanian dalam melawan Israel. Peluncuran rudal ke jantung Tel Aviv bukanlah basa-basi politik, tapi bentuk nyata dari keberanian militer Iran akibat dari kearogansian penjajah Israel yang menyerang Iran. Rudal-rudal Iran yang menimbulkan kehancuran di pihak Israel terasa sangat memuaskan hati umat, terutama bagi warga Gaza dan Lebanon yang lama mengalami penindasan.
Perang bukan sekadar retorika
Kecurigaan sebagian orang terhadap Iran seringkali dilandasi asumsi bahwa “Syiah dan Yahudi bersatu melawan Sunni.” Narasi ini bukan hanya lemah secara data, tetapi juga tak adil secara etika. Jika serangan Iran merupakan sandiwara, mungkinkah pemimpin tertinggi Garda Revolusi Iran dibunuh dalam serangan balik? Mungkin hilangnya jenderal-jenderal Hizbullah dalam konflik nyata di perbatasan Lebanon juga sebagai sandiwara?
Perang selalu memiliki konsekuensi, darah dan nyawa tak bisa disebut sebagai panggung sandiwara. Tuduhan seperti itu hanya memperlihatkan kekaburan dalam memahami geopolitik dunia Islam. Sekali lagi, perlu adanya pembeda antara logika akidah dan analisis geopolitik.
Barangkali yang paling penting bagi umat Islam saat ini adalah bersatu dalam menghadapi musuh yang nyata (zionis Israel.red) daripada sekadar memperdebatkan mazhab. Hingga kini penjajah zionis terus memperluas cengkeramannya di Palestina, menghina masjid Al-Aqsa dan membunuhi anak-anak yang tak berdosa. Di tengah kepedihan ini, haruskah kita terus menambah perihnya luka karena perbedaan?
Indonesia, sebagai negeri mayoritas Muslim yang plural, harus menjadi contoh bagaimana perbedaan tidak mematikan kerja sama. Dalam soal kemanusiaan, boikot, dukungan politik dan tekanan diplomatik kepada penjajah, Sunni-Syiah bahkan non-Muslim, bisa berjalan bersama. Kita tidak perlu menafikan identitas masing-masing, cukup menyepakati bahwa menentang penjajahan adalah tanggung jawab bersama.
Dalam dunia yang makin terpolarisasi, umat Islam harus belajar menyeimbangkan keberanian dengan kebijaksanaan. Boleh jadi kita tidak sependapat dengan Iran dalam hal aqidah, tapi tak perlu malu untuk mengakui keberanian Iran saat melawan zionis Israel, yang hakikatnya adalah musuh bersama umat Islam. Meskipun pada saat yang sama, kita perlu waspada adanya infiltrasi ideologi ekstrem dari manapun datangnya yang mengancam persatuan umat.
Mengelola perbedaan dengan cerdas adalah bagian dari jihad intelektual. Karena hari ini, kita butuh lebih banyak pemersatu daripada penghasut, lebih banyak penyejuk daripada provokator.
“Dan janganlah kebencianmu kepada satu kaum membuat kamu berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena keadilan itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Ma’idah: 8)
Umat yang dewasa bukan yang selalu setuju, tapi yang tahu kapan menyatukan barisan dan kapan menahan lidah demi keselamatan bersama.***
Editor Notonegoro






0 Tanggapan
Empty Comments