Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

My Green Bag: Solusi Kreatif Siswa Kelas 2 Atasi Sampah Plastik Minimarket Sekolah Melalui Pembelajaran STEAM

Iklan Landscape Smamda
My Green Bag: Solusi Kreatif Siswa Kelas 2 Atasi Sampah Plastik Minimarket Sekolah Melalui Pembelajaran STEAM
Siswa mempresentasikan tas dari bahan blacu yang sudah dilukis (Istimewa/PWMU.CO)
pwmu.co -

Siswa kelas 2 SDMM menunjukkan kreativitas dan kepedulian lingkungan mereka melalui proyek pembelajaran STEAM bertajuk My Green Bag. Proyek ini merupakan alternatif solusi nyata terhadap masalah penggunaan kantong plastik sekali pakai di minim

Market sekolah yang terbilang tinggi dan mendorong kesadaran lingkungan siswa. Dengan mengadopsi pendekatan Design Thinking, para siswa diajak untuk tidak hanya belajar teori, tetapi juga menjadi agen perubahan yang solutif.

Apa itu Pembelajaran STEAM?

STEAM adalah pendekatan pembelajaran interdisipliner yang menggabungkan lima disiplin ilmu, yaitu Science (Sains), Technology (Teknologi), Engineering (Teknik), Art (Seni), dan Mathematics (Matematika).

Pendekatan tersebut bertujuan untuk mendorong siswa berpikir kritis, kreatif, logis, dan mampu memecahkan masalah kompleks yang terjadi di dunia nyata.

Langkah Design Thinking: Dari Empati ke Inovasi

Proyek ini dipandu melalui lima tahapan inti dalam Design Thinking:

1. Empathize (Berempati)

Guru memulai kegiatan dengan menayangkan video Hikmah, petugas minimarket sekolah yang sedang melayani pembeli dengan kantong plastic setiap harinya. Tujuannya agar siswa merasakan dan memahami masalah yang terjadi.

Siswa kemudian diajak menyiapkan pertanyaan untuk diutarakan kepada Mbak Hikmah untuk menggali lebih dalam kesulitan dan dampak dari penggunaan kantong plastik setiap hari di lingkungan sekolah.

2. Define (Mendefinisikan Masalah)

Berdasarkan hasil empati, siswa kemudian memetakan kebutuhan, tantangan, dan sumber daya sekolah. Mereka merumuskan masalah spesifik: Bagaimana cara membuat alternatif tas ramah lingkungan yang mudah, murah, dan menarik sehingga dapat menggantikan kantong plastik di sekolah?

3. Ideate (Menciptakan Ide)

Tahap ini menjadi ajang curah gagasan. Siswa secara berkelompok mencari berbagai alternatif solusi tas ramah lingkungan (misalnya dari bahan kain, kantung beras dan lain-lain) dengan mengidentifikasi kelebihan dan kekurangannya. Ide-ide terbaik disajikan dalam bentuk mind mapping dan dipresentasikan, hingga akhirnya mereka sepakat menentukan jenis tas pengganti kantong plastik yang paling realistis.

4. Prototype (Membuat Prototipe)

Siswa mulai mewujudkan ide mereka. Mereka membuat sketsa desain tas pada bahan-bahan ramah lingkungan yang telah disiapkan, seperti goni, kain blacu, atau karung beras bekas, sesuai pilihan kelompok masing-masing.

Bagian menariknya adalah mereka mewarnai kedua sisi tas menggunakan cat akrilik, memadukan unsur seni (Art) dan teknik (Engineering).

5. Test & Present (Menguji dan Mempresentasikan)

Tahap terakhir adalah pengujian. Setiap kelompok menguji coba penggunaan tas sesuai jenis bahan pilihan mereka. Misalnya membawa botol minum dan makanan ringan untuk mengetahui mana jenis tas yang paling kuat, cocok, dan menarik sebagai pengganti kantong plastik.

Puncaknya, setiap kelompok mempresentasikan tas ramah lingkungan yang mereka buat. Mereka menjelaskan proses pembuatan, bahan yang digunakan, alasan memilih desain tertentu, dan melakukan demonstrasi cara menggunakan tas tersebut saat berbelanja, menuntaskan proses pembelajaran STEAM yang mengintegrasikan semua elemen disiplin ilmu.

Tujuan Kegiatan My Green Bag

Ketua jenjang kelas 2,Pr ima Ari Rosyida menyampaikan tujuan utama dari kegiatan STEAM di kelas 2 ini adalah agar siswa dapat mengintegrasikan kelima disiplin ilmu (STEAM) untuk memecahkan masalah kontekstual yang berkaitan dengan lingkungan yaitu penggunaan kantong plastik di minimarket sekolah.

“Penggunaan tas ramah lingkungan yang diberi nama My Green Bag menjadi solusi pengganti kantong plastik. Hal ini sesuai dengan tema besar dari sekolah yaitu SDMM ramah iklim,” tuturnya.

Kreatifitas siswa terwujud di tahap Prototype (Pembuatan Model). Setiap kelompok membuat sketsa dan kemudian mewarnai tas ramah lingkungan menggunakan cat akrilik pada bahan-bahan bekas seperti kain goni, kain blacu, atau karung beras yang sudah disiapkan. Pewarnaan dilakukan pada kedua sisi tas untuk meningkatkan nilai estetika.

Pembelajaran STEAM ini merupakan kegiatan dan pengalaman baru bagi siswa kelas 2 SDMM. Mereka tidak hanya belajar teori, tetapi langsung memecahkan masalah nyata tentang isu lingkungan. Hasilnya, mereka menjadi lebih kreatif, kolaboratif, dan yang terpenting, menumbuhkan rasa tanggung jawab terhadap bumi.

Salah satu siswa, Sarah dari kelas 2 Prisma mengaku senang dan antusias dalam kegiatan membuat tas ramah lingkungan dalam pembelajaran STEAM ini.

“Ada susah ada gampangnya juga kegiatan ini. Susahnya saat tahap ideate karena harus memikirkan apa yang ditulis di worksheet, sedangkan gampangnya saat tahap prototype karena hanya menuangkan ide dan melukis pada bahan tas yang dipilih. Saya bangga bisa melukis motif alam pada tas blacu yang hasilnya bagus,” ujarnya.

Melalui proyek My Green Bag ini, siswa kelas 2 telah membuktikan bahwa pembelajaran STEAM dapat dimulai sejak usia dini, memberikan fondasi yang kuat bagi mereka untuk menjadi generasi penerus yang inovatif dan berwawasan lingkungan. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu