Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Nabi Ibrahim dan Inspirasi Pembelajaran Penemuan

Iklan Landscape Smamda
pwmu.co -
Oleh Drs Najib Sulhan, MA – Ketua PCM Mulyorejo, Surabaya

PWMU.CO – Allah SWT telah mengabadikan kisah Nabi Ibrahim as mencari Tuhan dalam Al-Qur’an Surat Al-An’am ayat 76 – 79. Rasa ingin tahu yang besar itu telah menjadikan Nabi Ibrahim as melakukan pengamatan terhadap alam sekitar dengan berpikir kritis.

Nabi Ibrahim hidup di era Raja Namrud yang terkenal sombong dan kejam. Raja Namrud juga memiliki kebijakan politik, yaitu memerintahkan tentaranya untuk membunuh setiap bayi laki-laki lahir. Kebijakan yang tidak berperikemanusiaan itu berdasarkan pada ‘bisikan’ atau ramalan yang mengabarkan bahwa akan lahir bayi laki-laki yang hendak menghancurkan kekuasaannya. 

Ketika ibunda Nabi Ibrahim, Amathlaah, mengandung, ia pun menyembunyikan kehamilannya dan berlindung di sebuah gua di kampung Barzah, wilayah Damaskus, demi menyelamatkan sang bayi.

Sejak remaja, Nabi Ibrahim memiliki pemikiran yang tajam dan kritis. Setelah mendengar kisah tentang asal-usul dirinya, rasa penasaran dalam dirinya pun membuncah. Ia tidak hanya ingin memahami kisah kelahirannya, tapi juga mencari kebenaran hakiki—mencari Tuhan yang sebenarnya.

Suatu malam, saat keluar dari tempat persembunyiannya, Nabi Ibrahim melihat gemerlap bintang di langit. Ia pun berkata dalam hatinya, “Inilah Tuhanku.” Namun, saat bintang itu menghilang, ia berkata, “Aku tidak suka kepada yang tenggelam (lenyap).”

Pencarian pun berlanjut. Ketika melihat cahaya bulan purnama yang lebih besar dan terang, ia menganggap bulan sebagai Tuhan. Namun, ketika bulan pun menghilang, ia kembali meragukannya. Dalam benaknya, Tuhan sejati tidak mungkin hilang atau lenyap.

Akhirnya, pada siang hari, Nabi Ibrahim melihat matahari yang lebih terang dan dominan. Ia pun berpikir bahwa mataharilah Tuhannya. Namun, saat senja tiba dan matahari perlahan tenggelam, ia pun menyadari bahwa semua benda langit itu hanyalah makhluk ciptaan Tuhan.

Dari perenungan tersebut, Nabi Ibrahim menarik sebuah kesimpulan yang mendalam: bintang, bulan, dan matahari bukanlah Tuhan, melainkan ciptaan-Nya. Tuhan yang sejati adalah Dia yang menciptakan alam semesta dan tidak pernah lenyap.

Dalam proses berpikir kritisnya, Nabi Ibrahim akhirnya mengambil sebuah keputusan penting dan bersujud seraya berikrar, “Sesungguhnya aku hadapkan wajahku kepada Sang Pencipta langit dan bumi dengan lurus, dan aku bukanlah termasuk golongan orang-orang musyrik.”

Perjalanan intelektual dan spiritual tersebut mencerminkan sebuah proses pembelajaran mendalam (deep learning) yang menjadi inspirasi bagi lahirnya pendekatan pembelajaran penemuan, baik melalui model discovery learning maupun inquiry learning. Kedua pendekatan ini memungkinkan peserta didik untuk mengorganisasi pengetahuan melalui pemahaman yang diperoleh dari proses pengamatan, hingga akhirnya mampu menarik kesimpulan secara mandiri. Proses ini tidak hanya menghasilkan pemahaman, tetapi juga menumbuhkan keyakinan yang mendalam.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Kedua pendekatan itu sama-sama menekankan pada penemuan konsep atau prinsip yang awalnya tidak diketahui. Sedangkan perbedaannya, pada discovery learning, masalah yang muncul semacam masalah yang dari rekayasa guru. Sebaliknya, pada inquiry learning, masalahnya bukan rekayasa, sehingga temuannya harus melalui proses penelitian yang alami.

Peristiwa Nabi Ibrahim “mencari tuhan” ini memberi inspirasi pada model pembelajaran yang berbasis masalah atau problem base learning (PBL). 

Pada konsep pembelajaran PBL ini guru memberikan stimulus pada siswa yang berupa masalah. Selanjutnya siswa melakukan pengamatan untuk menemukan pemecahan masalah. Melalui konsep pembelajaran ini, siswa pun memperoleh keterampilan baru berupa proses pengamatan dan pemecahan masalah.

Konsep PBL memiliki tiga ciri utama, yaitu: satu, sebuah proses berfikir aktif dan kritis, berkomunikasi, mencari, dan menyimpulkan. Dua, menjadikan pemecahan masalah sebagai dasar sebuah proses untuk menghasilkan keputusan. Dan tiga, pemecahan masalah dengan melakukan pendekatan berpikir secara ilmiah.

Menurut Wilcolx dalam kutipan Muhammad Nur (2000), pembelajaran penemuan — baik itu discovery learning, inquiry learning, maupun PBL — mendorong siswa terlibat dalam konsep-konsep, prinsip, untuk mengamati sehingga sampai bisa mengalami. Kemudian setelah siswa menemukan prinsip itu, selanjutnya membuat simpulan. 

Konsep tersebut, sangat mungkin terinspirasi dari bagaimana Nabi Ibrahim berproses dalam mencari tuhan. Maka sesungguhnya melalui pembelajaran mendalam (deep learning) dengan pengamatan itu, akan mampu menghasilkan kesimpulan berupa keyakinan kuat dalam bertuhan.(*)

Editor Notonegoro

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu