
PWMU.CO – Di tengah keindahan alam dan kekayaan laut yang melimpah, masyarakat Raja Ampat justru mulai kehilangan arah hidup. Transformasi ekonomi di kawasan ini bergerak menjauh dari sistem tradisional berbasis laut, bergeser menuju ekonomi ekstraktif yang bertumpu pada pertambangan nikel. Bukan hanya lingkungan yang terancam rusak, tetapi juga identitas budaya, solidaritas sosial, dan kearifan lokal masyarakat adat yang perlahan-lahan ikut tergerus.
Setelah berabad-abad masyarakat Raja Ampat hidup dalam ekonomi subsistem yakni dengan memancing, bertani sagu, membuat homestay sederhana, dan menjaga laut lewat praktik sasi. Sasi merupakan kearifan lokal masyarakat Raja Ampat, Papua, yaitu aturan adat dalam menjaga kelestarian lingkungan, terutama laut, dengan cara membatasi atau melarang pengambilan hasil alam di wilayah tertentu untuk jangka waktu tertentu. Mereka tidak kaya secara statistik, tetapi cukup dalam secara filosofi dan struktur sosial. Maka ketika industri tambang datang membawa eskavator dan janji kesejahteraan, struktur itu mulai retak.
Saat ini, anak-anak yang masih berusia sangat belia lebih tertarik bekerja di pertambangan nikel daripada melaut atau melayani wisatawan. Ini terlihat di beberapa kampung seperti Gag dan Kawe. Status sosial masyarakat pun menjadi berubah drastis. Bekerja di pertambangan menjadi lebih merasa memiliki prestige daripada menjadi nelayan atau pengrajin.
Di titik ini, terjadi apa yang saya sebut sebagai pergeseran nilai dari keberlanjutan menuju ketergantungan.
Ekonomi ekstraktif dan ketergantungan baru
Pertambangan nikel di Raja Ampat bukan hanya mengekstraksi logam dari perut bumi. Ia juga menyedot solidaritas sosial, menimbulkan ketimpangan, dan melahirkan kelas sosial baru berbasis koneksi dengan perusahaan. Ekonomi tradisional yang dahulu berbasis komunitas kini berubah menjadi ekonomi ketergantungan pada perusahaan besar.
Data Greenpeace Indonesia (2025) menunjukkan bahwa empat izin tambang telah dicabut, masih menyisakan satu perusahaan yang masih beroperasi, yakni PT. Gag Nikel. Meskipun hanya ada satu perusahaan yang beroperasi, jejak sosial dan ekologisnya masih cukup besar yang ditinggalkannya. Residu dan hasil sedimentasinya menutupi terumbu karang, ikan makin sulit ditangkap dan kepercayaan masyarakat adat terhadap lembaga adat maupun negara melemah.
Padahal, Raja Ampat termasuk dalam daftar kawasan konservasi prioritas dunia. UNESCO mengakui kawasan ini sebagai geopark global karena keanekaragaman hayati dan budaya yang unik. Ironisnya, kekayaan yang seharusnya dijaga justru dijual murah untuk kepentingan jangka pendek.
Kerusakan ekologi tak terhindarkan
Penambangan, apapun bentuk dan skalanya, hampir selalu membawa dampak ekologis. Laporan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Papua Barat tahun 2022 mencatat bahwa potensi degradasi lingkungan akibat aktivitas tambang, khususnya nikel, sangat tinggi. Dampaknya mencakup sedimentasi perairan laut, pencemaran logam berat, kerusakan terumbu karang, serta penurunan kualitas air bersih.
Di Kabupaten Raja Ampat, wilayah pesisir dan laut menjadi sumber utama mata pencaharian masyarakat, terutama sebagai nelayan dan pemandu wisata. Ketika perairan tercemar, sumber pendapatan pun ikut hilang. Sayangnya, model pembangunan ekstraktif tidak memberi alternatif ekonomi berkelanjutan bagi warga yang terdampak.
Tak hanya itu, penambangan juga membuka ruang bagi deforestasi hutan tropis yang selama ini menjadi benteng keanekaragaman hayati. Padahal, Raja Ampat bukan hanya penting untuk Indonesia, tetapi juga dunia. Kawasan ini termasuk dalam Coral Triangle, kawasan laut dengan keanekaragaman hayati tertinggi di bumi.
Retaknya ikatan sosial
Pertambangan tidak hanya menciptakan lapangan kerja, tapi juga membelah komunitas. Ketika satu keluarga menjadi bagian dari perusahaan, sementara tetangganya tetap hidup dari laut, ketegangan mulai tumbuh. Lembaga adat kehilangan legitimasi karena keputusan pembangunan tidak lagi melewati musyawarah. Tetapi keputusan pembangunan itu datang dari luar, lewat kontrak dan investasi.
Dalam masyarakat adat, laut bukan sekadar ruang ekonomi. Bagi masyarakat adat setempat, laut juga ruang spiritual. Praktik sasi yang berupa larangan berburu atau menangkap ikan pada musim tertentu, dilakukan bukan karena logika konservasi modern, tetapi karena keyakinan bahwa alam punya waktu sakralnya sendiri.
Saat tambang menggusur hutan sakral atau mencemari teluk, bukan hanya ikan yang hilang, tetapi makna hidup sebagai masyarakat pesisir pun ikut lenyap. Hilangnya kearifan lokal ini jauh lebih tragis dari sekadar kehilangan pekerjaan.
Banyak pihak berargumen bahwa tambang memberikan penghasilan tetap dan membuka akses terhadap modernisasi. Tetapi pembangunan seperti ini adalah pembangunan yang memutus akar kultural. Ketika struktur ekonomi dipisahkan dari nilai, kita akan melihat masyarakat yang bingung terhadap masa depannya.
Apalagi, industri ekstraktif seperti tambang bukanlah jawaban jangka panjang. Saat cadangan habis, perusahaan pergi. Yang tersisa adalah luka ekologis dan masyarakat yang kehilangan tanah, laut, dan keterampilan tradisionalnya. Model pembangunan seperti ini hanya akan meninggalkan kawasan miskin yang terlihat kaya di awal, tetapi hancur secara sosial dan ekologis di akhir.
Ekonomi biru berbasis budaya
Transformasi ekonomi tidak bisa ditolak, tetapi bisa diarahkan. Raja Ampat memiliki potensi besar di sektor ekonomi biru seperti: pariwisata laut, perikanan berkelanjutan, konservasi, serta budaya maritim. Banyak kampung adat telah membuktikan bahwa homestay komunitas, guiding, hingga konservasi terumbu karang bisa menghasilkan pendapatan yang stabil dan yang lebih penting mempertahankan jati diri.
Pemerintah daerah dan pusat perlu melakukan diversifikasi ekonomi yang tidak menggantungkan nasib masyarakat pada tambang. Program pelatihan pariwisata berbasis adat, dukungan infrastruktur ramah lingkungan, dan perlindungan terhadap hak ulayat laut bisa menjadi langkah awal. Pembangunan harus dimulai dari bawah, dari masyarakat adat sendiri.
Jika pembangunan tidak berpijak pada nilai sosial dan kultural, maka keberhasilan ekonomi hanya menjadi statistik semu. Masyarakat Raja Ampat tidak sedang melawan perubahan, tapi mereka mempertanyakan arah dan siapa yang memegang kendali atas perubahan itu.
Bukan tambang yang membuat mereka kaya, tapi laut yang menjadikan mereka hidup. Bukan ekskavator yang membentuk identitas, tapi upacara adat, sasi, dan hubungan spiritual dengan alam. Jika semua itu hilang, maka yang kita bangun bukan kemajuan, tetapi kehampaan.
Raja Ampat bukan untuk ditambang, tapi untuk dihargai. Dan warisan terbesarnya bukan nikel, tetapi cara hidup yang selaras dengan bumi dan laut.***
Editor Notonegoro





0 Tanggapan
Empty Comments