Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Nahari Achyar, Guru Musik yang Menyalakan Irama di Mudipat

Iklan Landscape Smamda
Nahari Achyar, Guru Musik yang Menyalakan Irama di Mudipat
Nahari Achyar. Foto: Dok/Pri
pwmu.co -

Di SD Muhammadiyah 4 Surabaya (Mudipat), nama Nahari Achyar mungkin terdengar sama seperti guru lainnya. Namun begitu dia masuk kelas dan memegang gitar, suasana berubah.

Nada-nada sederhana yang dia petik membuat siswa lebih fokus, lebih tenang, dan lebih berani mencoba. Dari ruang kelas itulah, Nahari menyalakan irama belajar, dengan cara yang hanya bisa dilakukan oleh seorang guru yang hidup bersama musik.

Musik adalah dunia yang membedakan Nahari dari banyak guru lain. Dunia itu ia bawa masuk ke kelas, ke hati murid-muridnya, dan ke setiap momen belajar.

Dari sanalah ratusan lagu lahir—lagu-lagu yang ia tulis sendiri, tumbuh dari keseharian, percakapan kecil, senyum murid, hingga pengalaman sederhana yang ia nikmati sebagai guru.

Padahal perjalanan Nahari tidak dimulai dari panggung profesional. Dia bukan lulusan sekolah seni. Dia adalah alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Surabaya (kini Umsura).

Namun justru di kampus itulah musik menemukan jalurnya: di sela-sela kuliah, Nahari kerap tampil di pentas di dalam ataupun di luar kampus. Mengasah telinga, melatih rasa, dan menyimpan mimpi dalam diam.

Ketika kemudian menjadi guru di Mudipat, kreativitasnya justru mekar. Lingkungan sekolah Muhammadiyah yang dinamis mempertemukannya dengan dunia baru: dunia anak-anak. Dari ruang kelas itulah muncul lagu-lagu sederhana. Ketika ditanya tentang sumber inspirasi, ia menjawab ringan, “Saya melihat hal-hal sderhana.”

Ide-ide itu lahir dari kebiasaan sehari-hari—melihat anak-anak diantar orang tua setiap pagi, membimbing mereka sholat, atau mengamati percakapan tentang persahabatan. Dari situ tercipta lagu KAMU SELALU ADA UNTUKKU, juga lagu-lagu tentang kedisiplinan, kejujuran, hingga ketaatan yang dikenalkan kepada anak-anak setiap pagi.

Saat pandemi Covid-19 melanda, Nahari menulis lagu Cuci Tangan: lagu pendek, praktis, dan sangat berguna untuk membantu anak-anak memahami kebiasaan baru.

Anak-anaklah yang menjadi pemain pertama dari setiap lagunya. Mereka menyanyikannya di kelas, di panggung sekolah, hingga di berbagai lomba. Karena itu pula, Nahari selalu menyesuaikan ciptaan lagunya dengan kemampuan anak didiknya.

“Kalau bahasanya sulit, ya saya sederhanakan. Kalau konsepnya rumit, saya ringankan,” ujarnya.

Ratusan lagu yang ia hasilkan bukan sekadar capaian angka, melainkan perjalanan yang tumbuh dari rutinitas harian. Sebagian ditulis untuk panggung sekolah, sebagian untuk lomba, sebagian lain lahir dari percakapan kecil dengan murid.

“Saya tidak hafal berapa banyak lagu yang saya tulis. Kalau dibilang ratusan, itu mungkin kalau dijumlah dengan lagu-lagu yang dibawa sekolah-sekolah lain saat mereka magang di Mudipat sejak 2008 sampai sekarang,” tuturnya.

“Banyak sekolah lain mengirim utusan(magang) ke Mudipat. Saya ditugasi menciptakan lagu sekolah tersebut, langsung direkam, lalu dibuat sangu untuk pulang,” imbuh pria berpenampilan kalem itu.

Nahari Achyar, Guru Musik yang Menyalakan Irama di Mudipat
Dua siswa Mudipat tampil dalam musikalisasi puisi untuk warga Palestina pada momen kelulusan sekolah. Foto: Erfin/Klikmu.co

Benih Irama dari Kota Blitar

Bakat musik Nahari tumbuh jauh sebelum ia berdiri di depan kelas sebagai guru. Kecintaannya pada musik muncul sejak kelas 3 SD, ketika ia bersekolah di SDN 1 Blitar. Saat duduk di kelas 5 dan 6, ia sudah mulai menerima “job” manggung kecil-kecilan—kadang menyanyikan lagu pop, kadang membawakan satu-dua lagu keroncong.

“Pulangnya saya sering diberi berkat (bingkisan),” ujarnya, lalu tersenyum mengenang masa itu.

Masuk SMPN 1 Blitar, bakat Nahari berkembang lebih besar. Di sekolah inilah ia bertemu sosok penting dalam hidupnya: guru musik yang ia panggil Bu Sulis. Dia tak hapal nama lengkapnya.

Dalam ingatannya, Bu Sulis adalah guru yang luar biasa. Saat mengajar, ia hanya membawa garpu tala dan mampu menentukan nada dasar dari lagu yang dimainkan murid-muridnya–tanpa gitar, tanpa piano, hanya dengan telinga.

“Padahal dia tidak memegang alat musik. pendengarannya sangat peka. Beliau tahu nada apa yang dimainkan,” kenang Nahari.

Dari sosok itulah dia belajar ketelitian, belajar mendengarkan, belajar memahami bahwa musik bukan sekadar suara, tetapi soal kepekaan dan rasa.

Di SMP pula Nahari diarahkan menjadi penyanyi solo. Dia tidak direkomendasikan bergabung dalam paduan suara. “Karakter suaramu cocok untuk tampil sendiri,” kata gurunya kala itu.

Sejak itu dia tampil di banyak kesempatan, meski di balik panggung ia masih sering merasa kurang percaya diri. Nahari merasa membutuhkan “teman” untuk menguatkan diri. Dan dari situlah gitar masuk ke hidupnya. Gitar menjadi sahabat, penopang nada, sekaligus penyempurna keberanian.

Perjalanan musik Nahari makin matang ketika ia melanjutkan pendidikan ke SMA Negeri 1 Blitar. Di sekolah itu, ia memperoleh fasilitas dan dukungan penuh.

Nahari tampil di berbagai acara, bergabung dalam band sekolah, dan semakin dikenal sebagai “anak musik.” Ia tampil menonjol, menguasai panggung, bahkan menjadi parameter bagi sekolah-sekolah lain.

Salah satu prestasi besarnya adalah meraih Juara 2 Festival Musik se–Jawa–Bali. Pengalaman itu menjadi titik balik. Penegas bahwa musik bukan sekadar bakat masa kecil, tetapi bagian dari hidupnya.

Nahari juga pernah tampil di Gedung Islamic Center Surabaya dalam lomba Qosidah Tingkat jawa timur dan memperoleh juara harapan.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Dari rock ke pop, dari dangdut ke keroncong, dari Qasidah ke lagu anak-anak, perjalanan musiknya berputar luas, namun ujungnya selalu sama: kembali ke anak-anak.

Di Mudipat Surabaya, Nahari menjalani hari-harinya sebagai guru dan pencipta lagu. Ia tidak lagi mengejar panggung besar. Yang dia kejar adalah kebermanfaatan. Musik yang hidup di mulut anak-anak dan menemani proses belajar mereka.

Setiap lagu yang dia tulis menjadi jembatan: antara guru dan murid, antara nilai dan pengalaman, antara pelajaran dan kebahagiaan.

Jadi EO Dadakan

Tahun 1991, Nahari masuk Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Surabaya. Di masa ini, pergaulannya semakin luas. Dia bertemu banyak musisi. Banyak karakter. Banyak warna.

Genre musik mereka beragam. Ada yang keroncong. Ada yang pop. Ada yang dangdut, bosanova, jazz, bahkan fusion. Dunia Nahari seperti dibuka lebar. Ia belajar banyak hal. Ia menyerap banyak gaya.

Nahari juga mulai sering tampil di berbagai kampus di Surabaya. Dari panggung kecil antar fakultas hingga acara besar lintas universitas. Namanya pelan-pelan mulai dikenal. Sosoknya mudah dikenali: gitar di tangan, senyum di bibir, dan aura panggung yang kuat.

Suatu hari, ada pihak yang melaporkan kegiatannya kepada Lubis Arsyad, Dekan Fakultas Ekonomi saat itu. Nahari pun dipanggil khusus. Doa sempat tegang. Mengira akan ditegur. Namun yang terjadi justru sebaliknya.

“Tolong kamu buat pentas seni di sini (Kampus, red),” kata Lubis Arsyad kepadanya. Saat itu, Kampus Universitas Muhammadiyah Surabaya masih di Pucang, belum pindah ke Sutorejo.

Nahari terdiam. Lalu mengangguk. Tugas itu datang tiba-tiba. Namun dia menerimanya dengan mantap. Pentas seni itu akhirnya menjadi sejarah Fakultas Ekonomi menggelar acara seni penuh oleh mahasiswa sendiri. Dan Nahari berdiri di balik layar sebagai motor kreatifnya.

Sejak itu, pentas seni menjadi kegiatan periodik. Dan Nahari sering menjadi “event organizer (EO)” dadakan. Mendadak diminta menata acara. Mendadak diminta membuat konsep. Banyak alat musik tidak tersedia. Banyak pemain yang belum siap. Tetapi dia jalan terus.

Nahari Achyar, Guru Musik yang Menyalakan Irama di Mudipat

Melatih Kreativitas di Era Digital

Kini, tantangan baru muncul. Zaman berubah cepat. Teknologi melaju. Artificial intelligence (AI) semakin canggih. Banyak proses menjadi instan. Karya bisa muncul dalam sekali klik.

Namun Nahari punya pendirian. “Di dalam AI tetap butuh kreativitas,” tegasnya.

Mesin, kata dia, mungkin bisa meniru gaya. Namun tidak dapat menggantikan pemahaman dasar. Tidak bisa menggantikan telinga yang terlatih. Tidak bisa menggantikan kepekaan manusia yang benar-benar memahami nada.

Karena itu Nahari selalu menekankan pentingnya teori: pentingnya notasi, pentingnya memahami struktur musik.

“Banyak yang mainnya hebat, “tapi ketika berhadapan dengan partiture not, mereka seperti enggan,” ungkapnya

Nahari ingin mengubah itu. Dia ingin melahirkan musisi yang bukan instan. Dia ingin anak-anak yang dia ajar benar-benar mengerti musik. Dari dasar, dari akar, dari not-not kecil yang tersusun menjadi melodi.

Tak heran jika ia kemudian dijuluki “penemu matematika musik.” Julukan itu lahir dari ketelitiannya mengolah nada, dari cara ia menyusun lagu dengan ketepatan seperti rumus, dan dari keyakinannya bahwa musik dan logika dapat berjalan berdampingan.

Nahari Achyar bukan sekadar guru atau pencipta lagu. Dia adalah penanam biji-biji musik yang perlahan tumbuh menjadi karakter, keberanian, dan keceriaan anak-anak. Lagu-lagunya hidup di kelas, di panggung, dan di hati murid-muridnya.

Di kelas musiknya, anak-anak tidak hanya bernyanyi. Mereka membaca not balok, memahami ritme, dan mempraktikkan teknik dasar.

“Empat puluh sampai lima puluh persen dari jumlah keseluruhan siswa bisa membaca not, itu sudah sangat hebat,” ujarnya.

Karena baginya, musik bukan hanya soal rasa, tetapi juga ilmu.
Dan Nahari ingin murid-muridnya mampu keduanya: bermain dengan hati, tapi memahami dengan kepala. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu