
Anak-anak IPM Desa Golokan ziara ke makam Nyai Walidah Dahlan di Kauman Yogyakarta.
PWMU.CO-Sebanyak 31 Pimpinan Ranting IPM Desa Golokan Sidayu Gresik napak tilas jejak perjuangan KH Ahmad Dahlan di kampung Kauman Yogyakarta, Kamis (27/12/2018).
Di kampung ini, anak-anak mengunjungi Langgar Kidul dan rumah KH Ahmad Dahlan. Langgar Kidul ini dulu pernah dibakar karena ada orang yang tak suka dengan cara dakwah Kiai Dahlan.
Lalu bergeser melihat gedung TK Aisyiyah Bustanul Athfal yang pertama kali didirikan oleh Nyai Walidah Dahlan. Sekolah ini masih operasional hingga kini.
Gedungnya masih kokoh. Dindingnya bercat coklat cerah dengan pintu jendela berwarna kuning. Gedung ini dulu tempat pengajian wanita Sopo Trisno. Di sini Kiai Dahlan mengajar Alquran. Jamaah pengajian inilah sebagai cikal bakal lahirnya Aisyiyah pada tahun 1917.
Menurut catatan sejarah, berdirinya TK ini berawal dari keprihatinan Nyai Walidah melihat anak-anak kecil telantar. Hanya kelururan dan bermain, karena ditinggal orangtuanya bekerja.
Lantas anak-anak itu dikumpulkan diajari mengaji dan membaca di gedung itu. Anak laki-laki maupun perempuan. Padahal di zaman itu, sekitar tahun 1922, belum ada anak perempuan pribumi yang bersekolah.
Awalnya sekolah anak-anak ini bernama Siswo Projo Wanito. Dua tahun kemudian, 1924, diberi nama TK Aisyiyah Bustanul Athfal. Artinya taman bermain Aisyiyah hingga menyebar di mana-mana sekarang ini.
Kemudian rombongan mengunjungi Masjid Gede. Di masjid kraton ini, murid-murid Kiai Dahlan di awal dakwah pernah meluruskan kiblat sehingga menimbulkan konflik. Akibatnya Langgar Kidul dibakar. Namun konflik ini akhirnya mereda dan berakhir damai.
Beberapa tahun kemudian Kiai Dahlan diangkat menjadi imam masjid kraton menggantikan bapaknya. Bahkan pengurus masjid dan orang-orang kraton akhirnya mendukung dakwah Muhammadiyah.
Terakhir ziarah ke makam Nyai Walidah. Lokasinya di belakang masjid ini. Dekat makam itu juga ada SD Muhammadiyah yang pertama kali didirikan Kiai Dahlan. Makam Nyai Walidah bercampur dengan makam warga Kauman. Tapi makam umum ini sekarang sudah ditutup karena penuh.
Danu, kader Pemuda Muhammadiyah Yogya yang menjadi tour guide menceritakan, sebenarnya keluarga ada keinginan memakamkan Nyai Walidah berdampingan dengan makam Kiai Ahmad Dahlan. Tapi lokasinya jauh di Kampung Karangkajen, Brontokusuman, Mergangsan. Lokasi makam Kiai Dahlan berada di belakang Masjid Jamik Karangkajen. Karena ingin dimakamkan secepatnya maka diputuskan dikuburkan di Kauman.
”Nyai Walidah meninggal 31 Mei 1946 pada umur 74. Sedangkan Kiai Dahlan meninggal 23 Februari 1923 pada umum 54 tahun. Nyai Walidah diangkat oleh pemerintah menjadi Pahlawan Nasional pada tanggal 22 September 1971. Seperti tertulis dalam prasasti ini,” katanya.
Tiba-tiba seorang anak IPM nyelutuk,”Lho di belakang itu kok ada makam Ahmad Dahlan. Siapa ya? Tapi kok dari Semarang?”
Danu menjelaskan, itu bukan makam KH Ahmad Dahlan tapi orang lain yang kebetulan namanya saja sama. Karena itu diberi penjelasan dari Semarang. Sedangkan KH Ahmad berasal dari Yogyakarta.
Mendengarkan kisah jejak perjuangan KH Ahmad Dahlan dan Nyai Walidah di kampung Kauman ini, anak-anak jadi merinding hatinya. Ternyata ada kegigihan dan kesedihan di balik besarnya Muhammadiyah sekarang ini. Mereka merasa belum berbuat apa-apa untuk dakwah Islam. (Yana)






0 Tanggapan
Empty Comments