Dalam rangka menyambut peringatan Hari Jadi Kabupaten Bondowoso sekaligus Bulan Kemerdekaan RI, siswa-siswi SD Aisyiyah Cindogo melaksanakan Napak Tilas Sejarah yang sarat makna, Senin (18/8/2025).
Tiga situs bersejarah dipilih sebagai medium pembelajaran: Taman Makam Pahlawan yang menyimpan kisah tragis Gerbong Maut, Makam Raden Bagus Asra (Ki Ronggo)—tokoh pendiri Bondowoso—dan Museum Stasiun Kereta Api Bondowoso yang menyimpan memori kelam Gerbong Maut dalam wujud fisik.
Siswa tidak hanya melihat, tetapi juga merasakan dan menangkap makna dari setiap jejak sejarah. Makna yang kaya akan nilai-nilai keberanian, pengorbanan, dan kesadaran kolektif—esensi dari deep learning ala Prof Abdul Mukti—yang tidak sekadar menghafal fakta, tetapi menyelami nilai serta membangun sikap berbudaya dan beridentitas.
Peristiwa berdarah Gerbong Maut terjadi pada 23 November 1947, ketika 100 pejuang Republik Indonesia ditawan Belanda dan dimasukkan ke dalam tiga gerbong barang tertutup tanpa ventilasi dalam perjalanan ke Surabaya.
Akibat kondisi ekstrem di dalam gerbong, 46 pejuang gugur, sementara lainnya mengalami kondisi kritis. Peristiwa ini mewujudkan keganasan penjajahan sekaligus keteguhan semangat perjuangan rakyat Bondowoso.
Museum Stasiun Bondowoso kini menjadi saksi bisu tragedi ini, sebagai transformasi stasiun tua menjadi ruang edukatif dan pengingat sejarah. Museum tersebut resmi dibuka sejak 17 Agustus 2016.

Kunjungan ke Makam Ki Ronggo
Sementara itu, kunjungan ke makam Raden Bagus Asra (Ki Ronggo) menyajikan narasi heroik fondasi berdirinya Bondowoso.
Seorang pemimpin yang diangkat sebagai Bupati Pertama Bondowoso pada 17 Agustus 1819 (25 Syawal 1234 H), ia membangun wilayah baru dari hulu ke tepian hutan belantara serta mensyiarkan Islam sekaligus menghadirkan pemerintahan yang adil.
Kegiatan ini bukan semata kunjungan sejarah, melainkan penghayatan holistik dan kritis. Siswa belajar secara menyeluruh dari data sejarah, konteks heroik, serta implikasi nilai-nilai moral untuk penerus bangsa.
Inilah wujud pembelajaran mendalam yang melampaui sekadar tahu, menuju memiliki dan menjadikan diri bagian dari narasi bangsa.
Kegiatan Napak Tilas Sejarah SD Aisyiyah Cindogo membuktikan betapa pembelajaran sejarah yang dirancang dengan baik dapat menumbuhkan semangat nasionalisme, kebanggaan lokal, dan kedalaman pemahaman.
Hal ini menjadi hadiah terbaik dalam memperingati Hari Jadi Bondowoso dan Bulan Kemerdekaan RI bagi anak-anak.





0 Tanggapan
Empty Comments