
Narasi Gerakan Perempuan Muda Berkemajuan Menuntut Pembuktian; Bedah tema Musywil XII Jatim oleh Hervina Emzulia; Sekretaris Tim Materi Musyawarah Wilayah XII Nasyiatul Aisyiyah Jawa Timur
PWMU.CO – Sebagai organisasi yang telah bergerak sedari 16 Mei 1931 silam—yakni sebelum negara ini lahir—Nasyiatul Aisyiyah telah banyak menebar benih di ladang pertiwi untuk dituai kebaikan-kemanfaatannya.
Kelahiran Nasyiatul Aisyiyah bukan semata menjadi tempat berkumpulnya pada perempuan muda, ia bahkan dapat dilihat sebagai wujud gagasan dan cita-cita untuk menjadikan perempuan sebagai subjek: bahwa perempuan bukanlah warga kelas dua yang tak punya daya.
Sejatinya, sejarah telah mencatat, pergerakan para perempuan yang berhimpun dalam satu wadah nyatanya memiliki efek luas dan mampu memproduksi resonansi dengan daya jangkau ke mana-mana.
Peran para perempuan tidak bisa dipandang sebelah mata kendati sedari dahulu hingga kini pergerakannya—tentu saja mengalami pasang surut oleh sebab zaman yang menempanya. Nyatanya, gerakan perempuan mampu meretas zaman dan mereka secara fasih dapat menyesuaikan diri.
Dunia dan Agregasi Baru
Kemajuan pesat arus informasi belakangan yang hingga menemukan eranya ini dapat ditengarai seiring-sejalan dengan bertumbuhnya partisipasi umat manusia terhadap akses internet. Aktivitas saling terhubung ini, pada perkembangannya, memunculkan banyak medium; salah satu di antara yang paling populer adalah media sosial. Media sosial bak sumbu yang melejitkan populasi warga digital secara drastis dalam kurun yang relatif singkat.
Dalam kasus Indonesia, hal ini amat ditunjang oleh satu ekosistem yang tercipta sebab adanya populasi yang tinggi pemilik ponsel. Pintu masuk orang Indonesia ke internet sekarang ini lebih mungkin dilakukan melalui ponsel murah, mayoritas, buatan Cina. Belakangan kedatangannya membanjiri Republik ini dan menjangkau nyaris ke seluruh pelosok dan menyebar ke hampir setiap kalangan dan kelas masyarakat—ketimbang melalui medium ‘tradisional’ seperti warnet pada masa yang lalu.
Media digital semakin menjadi ruang di mana agregasi ide dan gagasan para warganya yang berkerumun dan diadu di sana. Pola-pola pertarungan yang oleh Jenkins (2006) disebut sebagai ‘lebih dari sekadar pergeseran teknologi’ ini, bukan hanya persoalan pemindahan medium interaksi sosial belaka.
Lebih dari itu, fenomena ini bahkan telah berada pada titik revolusi yang ‘mengubah’ hubungan antara teknologi yang sudah ada, industri, pasar, genre, dan khalayak. Nyaris setiap detak kejadian di mana saja dapat diketahui dari sana. Uraian ini didukung oleh temuan Hirst (2011).
Internet, katanya, tidak syak lagi memungkinkan munculnya beragam berita dan sudut pandang—yang meskipun media arus utama menjadi ruang dominan tempat mereka yang berkepentingan menggunakan kuasanya di era digital—namun media sosial tetap menjadi medium yang digemari warga digital senyampang masing-masing dari mereka dapat mengendalikan sepenuhnya—warganet adalah media bagi diri mereka sendiri. Maka, kekuatan media partisipatoris yang bergerak dari bawah ini menjadi semakin lazim.
Gambaran ‘dunia baru’ inilah yang sejatinya akan diarungi oleh Nasyiatul Aisyiyah sebagai sebuah gerakan. Entitas dan identitas Nasyiatul Aisyiyah sebagai gerakan perempuan muda berkemajuan kian menemukan tantangan yang tak ringan.
Nasyiatul Aisyiyah dan Peradaban Baru
Jargon gerakan perempuan muda berkemajuan yang dianggit oleh Nasyiatul Aisyiyah bukan tanpa maksud. Isu-isu sekitar perempuan dan posisi keberdayaannya menjadi titik tumpu dari bangunan narasi gerakan yang selama ini digagas dan diaksinyatakan dari pusat hingga ranting.
Kita yang saat ini berada pada peradaban media dan teknologi yang pergerakannya kian hari kian tak terkendali dan terprediksi. Entah akan menuju titik mana, peradaban yang tengah kita arungi hari-hari ini bahkan pelari yang gesit dan berbakat—sementara kita acap tercecer dan, mungkin, tertinggal. Zaman yang serba-tak pasti ini memunculkan apa yang oleh para ahli disebut sebagai disrupsi. Dan, kita semua, suka tidak suka akan turut terimbas. Tanpa kecuali Nasyiatul Aisyiyah.
Gerakan-gerakan yang dipelopori oleh Nasyiatul Aisyiyah haruslah senantiasa relevan dengan zaman, kendati—pada saat yang sama, Nasyiatul Aisyiyah harus tetap mempertahankan jati diri. Era disrupsi berikut segala tuntutan kepada kita semua agar memiliki keterampilan yang cakap dan bekal ilmu yang cukup untuk mengarungi belantaranya membuat akselerasi dan kolaborasi bisa menjadi kunci.
Nasyiatul Aisyiyah harus fasih menyuarakan isu sekitar perempuan—dan dunia sekelilingnya, sekaligus tampil untuk menjadi pihak yang otoritatif. Maka, kecakapan semisal literasi yang memadai, yakni keterampilan ‘membaca’ dunia mutlak dikuasai. Nichols (2017) berpesan: manusia modern memiliki sumber informasi yang melimpah, tetapi sayangnya mereka tampak tidak informatif. Maknanya, seluruh elemen di Nasyiatul Aisyiyah harus senantiasa menempa diri dengan memupuk bekal yang cukup.
Narasi Gerakan Perempuan Muda Berkemajuan akan tetap menuntut pembuktian dengan gerakan berkelanjutan dan berkesinambungan. Maka, menguatkan peradaban menjadi fokus isu gerakan pada gelaran Musyawarah Wilayah XII ini. Atau jika tidak, Nasyiatul Aisyiyah akan terseret arus. Lalu tertelan zaman. Kemudian ia tidak lagi relevan.
Selamat bermusywil. (*)
Editor Mohammad Nurfatoni


0 Tanggapan
Empty Comments