Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Nashaihul Ibad: Hujah Allah pada Hari Kiamat dengan Empat Orang dan Empat Lainnya

Iklan Landscape Smamda
Nashaihul Ibad: Hujah Allah pada Hari Kiamat dengan Empat Orang dan Empat Lainnya
Kajian kitab Nashaihul Ibad selepas subuh di masjid Al-Falah Jalen oleh ketua PCM Genteng. (Alib/PWMU.CO)
pwmu.co -

Kajian kitab Nashaihul Ibad kembali digelar selepas salat Subuh pada Kamis (4/3/2026) di Masjid Al-Falah Pusdamu Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Jalen, Genteng, Banyuwangi. Kajian tersebut diasuh oleh Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Genteng, Taslim, M.Pd.

Memasuki pertemuan ke-13, kajian membahas materi tentang “Hujah Allah SWT pada Hari Kiamat dengan Empat Golongan Manusia.”

Mengawali kajian, Ustadz Taslim menyampaikan bahwa pembahasan pagi itu masih berada pada Bab III kitab Nashaihul Ibad, yang mengutip salah satu akhbar atau hadis Rasulullah SAW tentang empat golongan manusia yang akan dijadikan hujah oleh Allah SWT pada hari kiamat.

Dari Nabi SAW, beliau bersabda:
“Sesungguhnya Allah SWT berhujah pada hari Kiamat dengan empat orang atas empat orang lainnya, yaitu: terhadap kaum hartawan Allah mengemukakan Nabi Sulaiman bin Dawud; terhadap hamba sahaya Allah mengemukakan Nabi Yusuf; terhadap orang-orang sakit Allah mengemukakan Nabi Ayub; dan terhadap orang-orang fakir Allah mengemukakan Nabi Isa.”

Ustadz Taslim menjelaskan bahwa setelah kehidupan dunia berakhir dan terjadi hari kiamat, manusia akan berpindah ke alam akhirat.

Pada saat itulah setiap manusia akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT atas segala perbuatannya selama hidup di dunia.

“Allah akan menanyakan mengapa seseorang sampai meninggalkan ibadah, sejauh mana ia menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya, serta bagaimana pengabdian seorang hamba kepada Tuhannya,” jelasnya.

Dalam hadis tersebut dijelaskan bahwa Allah SWT akan membantah berbagai alasan manusia yang meninggalkan ibadah dengan menghadirkan teladan para nabi.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Pertama, kepada orang kaya yang beralasan sibuk mengurus harta dan kekuasaannya hingga meninggalkan ibadah. Allah akan membantah dengan menghadirkan Nabi Sulaiman AS yang memiliki kerajaan besar dan harta melimpah, namun tetap taat beribadah.

Kedua, kepada hamba sahaya yang meninggalkan ibadah dengan alasan sibuk melayani tuannya. Allah menghadirkan Nabi Yusuf AS yang pernah menjadi pelayan penguasa Mesir, tetapi tetap menjalankan ibadahnya.

Ketiga, kepada orang yang meninggalkan ibadah karena sakit. Allah menghadirkan Nabi Ayub AS yang diuji dengan penyakit berat, namun tetap sabar dan tidak meninggalkan ibadah kepada-Nya.

Keempat, kepada orang fakir yang meninggalkan ibadah dengan alasan kemiskinan. Allah menghadirkan Nabi Isa AS yang hidup sederhana, bahkan tidak memiliki rumah, harta, maupun keluarga, tetapi tetap tekun beribadah.

Melalui penjelasan tersebut, Ustadz Taslim mengajak jamaah untuk menjadikan para nabi sebagai teladan dalam beribadah kepada Allah SWT.

“Semoga hadis Rasulullah SAW ini menambah keteguhan iman kita untuk terus memupuk ibadah, sehingga kita mendapatkan ridha Allah SWT,” pungkasnya menutup kajian.(*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu