Di tengah pergeseran geopolitik dunia yang semakin dinamis, Tiongkok tidak lagi hanya dipandang sebagai “pabrik dunia”, melainkan sebagai kekuatan hegemonik baru yang mendefinisikan ulang cara kerja komunikasi global.
Melalui buku terbarunya yang berjudul Ideologi, Media dan Globalisasi Tiongkok, Dr. Anang Masduki memberikan sebuah lensa analitis yang tajam dan jernih untuk memahami bagaimana Negeri Tirai Bambu tersebut mengintegrasikan kekuatan ideologi dan infrastruktur media untuk memperluas pengaruhnya secara global.
Anang Masduki bukan sekadar akademisi yang mengamati fenomena dari permukaan.
Sebagai pengajar di Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Ahmad Dahlan (UAD) yang telah menempuh studi doktoral dan memiliki rekam jejak riset yang luas di bidang komunikasi politik, beliau memiliki otoritas intelektual yang kuat.
Keahliannya dalam memetakan dialektika komunikasi dan politik—seperti yang terlihat dalam karya-karya sebelumnya—memberikan bobot “ilmiah namun tetap aksesibel” pada buku ini.
Ketajaman metodologisnya memungkinkan pembaca memahami fenomena globalisasi Tiongkok bukan sebagai peristiwa acak, melainkan sebagai sebuah desain strategis yang terstruktur.
Buku ini membedah hubungan triadik antara ideologi negara, mekanisme kerja media, dan ekspansi global.
Anang Masduki berargumen bahwa globalisasi versi Tiongkok memiliki karakteristik unik yang berbeda dari globalisasi Barat.
Jika Barat cenderung membawa nilai-nilai liberalisme dan pasar bebas, Tiongkok membawa model “Kapitalisme Negara” yang dibungkus dengan ideologi sosialis berkarakteristik Tiongkok.
Penulis menjelaskan bagaimana media di Tiongkok bukan sekadar alat informasi, melainkan perpanjangan tangan negara untuk membentuk narasi global.
Melalui konsep soft power, Tiongkok menggunakan media (baik media tradisional seperti CGTN maupun platform digital modern) untuk membangun citra positif, meredam kritik internasional, dan mempromosikan inisiatif besar seperti Belt and Road Initiative (BRI).
Urgensi dan Pentingnya Buku dalam Tantangan Global
Salah satu kontribusi terbesar buku ini adalah relevansinya dalam menjawab tantangan global saat ini. Mengapa buku ini sangat penting?
Pertama, Literasi Geopolitik bagi Indonesia. Sebagai negara yang memiliki hubungan ekonomi erat dengan Tiongkok, masyarakat Indonesia—khususnya para pengambil kebijakan dan akademisi—perlu memahami “logika” di balik kerja sama tersebut.
Anang Masduki mengajak kita untuk melihat melampaui angka-angka investasi, yakni memahami ideologi yang menyertai setiap langkah diplomasi media Tiongkok.
Kedua, Menghadapi Hegemoni Informasi. Di era disrupsi, arus informasi seringkali menjadi senjata (weaponization of information).
Buku ini membekali pembaca dengan kemampuan kritis untuk membedah pesan-pesan media yang didorong oleh agenda ideologis tertentu.
Penulis menunjukkan bahwa dalam globalisasi Tiongkok, media berfungsi sebagai “benteng pertahanan” sekaligus “ujung tombak” dalam perang narasi melawan dominasi Barat.
Ketiga, Model Komunikasi Alternatif. Melalui analisis Masduki, kita diajak melihat bagaimana sebuah negara berkembang mampu menantang dominasi informasi Barat yang telah bertahan selama berabad-abad.
Ini memberikan perspektif baru bagi negara-negara di belahan dunia selatan (Global South) tentang bagaimana mengelola kedaulatan informasi di tengah arus globalisasi.
Ideologi sebagai Kemudi
Anang Masduki dengan sangat piawai menjelaskan bahwa globalisasi Tiongkok tidak pernah lepas dari kontrol ideologi Partai Komunis Tiongkok (PKT).
Penulis menunjukkan bahwa media di sana memiliki mandat untuk “menceritakan kisah Tiongkok dengan baik” (tell China’s story well).
Buku ini mendemonstrasikan bagaimana teknologi komunikasi mutakhir, seperti kecerdasan buatan (AI) dan algoritma media sosial, diadopsi untuk menyebarkan ideologi ini dengan cara yang sangat halus namun masif.
Kekuatan narasi Masduki terletak pada kemampuannya menyajikan data empiris yang dipadukan dengan teori komunikasi kontemporer.
Ia tidak hanya menyajikan teori yang membosankan, tetapi menghubungkannya dengan realitas praktis bagaimana media Tiongkok beroperasi di Afrika, Asia Tenggara, hingga Eropa.
Buku Ideologi, Media dan Globalisasi Tiongkok bisa menjadi bacaan wajib bagi siapa saja yang ingin memahami arsitektur kekuasaan dunia di abad ke-21.
Anang Masduki telah berhasil menyusun sebuah karya yang sangat relevan, tepat waktu, dan berwawasan luas.
Keberhasilan buku ini terletak pada kemampuannya membongkar kompleksitas hubungan antara kekuasaan, pesan, dan teknologi.
Di tengah ketidakpastian global, karya ini berfungsi sebagai kompas intelektual yang membantu kita memahami bahwa globalisasi bukan sekadar pertukaran barang dan jasa, melainkan pertarungan ideologi dan narasi yang dimediasi oleh teknologi.
Masduki tidak hanya memberikan informasi, tetapi juga memberikan peringatan dini agar kita tetap kritis dan waspada dalam menavigasi arus globalisasi yang semakin kompleks.
Buku ini bukan hanya sekadar literatur akademik; ia adalah kontribusi penting bagi kedaulatan berpikir bangsa dalam menghadapi raksasa baru di panggung dunia.***





0 Tanggapan
Empty Comments