Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Niat yang Sering Dilupakan Saat Sahur dan Berbuka

Iklan Landscape Smamda
Niat yang Sering Dilupakan Saat Sahur dan Berbuka
Ilustrasi menu buka puasa Ramadan (foto: Shutterstock/ist)
Oleh : Nashrul Mu’minin Content Writer Yogyakarta
pwmu.co -

Ramadan selalu identik dengan sahur dan berbuka. Namun di balik aktivitas makan sebelum fajar dan menikmati hidangan saat magrib, ada satu hal yang justru paling mendasar tetapi sering terlupakan. Yaitu niat. Banyak orang sibuk menyiapkan menu sahur terbaik dan berburu takjil favorit. Tetapi jarang benar-benar memahami bagaimana niat sahur dan niat berbuka yang sebenarnya dalam ibadah puasa.

Puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus. Allah menegaskan tujuan spiritual puasa dalam Al-Qur’an sebagaimana dalam QS. Al-Baqarah: 183. Ayat ini menunjukkan bahwa inti puasa bukan makan sahur atau berbuka itu sendiri. Melainkan niat ibadah yang mengarah pada ketakwaan. Tanpa niat, puasa hanya berubah menjadi kebiasaan biologis. Bukan ibadah spiritual.

Dalam Islam, niat memiliki posisi yang sangat penting. Rasulullah saw bersabda:

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ

 “Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menjadi fondasi seluruh ibadah. Termasuk puasa. Artinya, sahur bukan sekadar makan pagi sebelum subuh. Tetapi tindakan ibadah yang bernilai pahala karena diniatkan untuk menguatkan diri menjalankan puasa.

Niat sahur sebenarnya tidak harus diucapkan keras atau dibaca panjang. Banyak ulama menjelaskan bahwa keinginan dalam hati untuk berpuasa esok hari sudah termasuk niat. Bahkan ketika seseorang bangun sahur dengan kesadaran akan berpuasa Ramadan, maka niat itu telah hadir di dalam hatinya.

Rasulullah saw sangat menganjurkan sahur karena mengandung keberkahan:

تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً

“Bersahurlah kalian, karena dalam sahur terdapat keberkahan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Keberkahan sahur bukan hanya pada makanan. Tetapi pada niat spiritual yang membedakan puasa umat Islam dengan sekadar menahan lapar biasa. Sahur menjadi simbol kesiapan ruhani menyambut ibadah sepanjang hari.

Sering terjadi kesalahpahaman di masyarakat bahwa niat harus dilafalkan dengan bacaan tertentu agar puasa sah. Padahal mayoritas ulama sepakat, tempat niat adalah hati. Yang terpenting adalah kesadaran batin bahwa esok hari ia berpuasa karena Allah.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Lalu bagaimana dengan niat berbuka? Banyak orang mengira berbuka hanyalah momen balas dendam setelah seharian lapar. Padahal berbuka juga ibadah. Rasulullah saw bersabda:

لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ

 “Orang yang berpuasa memiliki dua kebahagiaan: ketika berbuka dan ketika bertemu Tuhannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kebahagiaan berbuka bukan karena makanan semata. Tetapi karena berhasil menyempurnakan amanah ibadah. Niat berbuka adalah bentuk syukur kepada Allah atas kekuatan yang diberikan sepanjang hari.

Menariknya, sahur dan berbuka sebenarnya adalah dua titik yang mengapit satu perjalanan ibadah. Sahur adalah niat memulai, sedangkan berbuka adalah niat mensyukuri penyelesaian. Jika sahur diisi kesadaran ibadah dan berbuka diiringi rasa syukur, maka puasa menjadi pengalaman ruhani yang utuh.

Masalahnya, di era modern, sahur sering berubah menjadi aktivitas setengah sadar. Bangun karena alarm, makan sambil mengantuk, lalu tidur lagi tanpa menghadirkan niat. Begitu pula berbuka yang kadang berubah menjadi pesta konsumsi. Di sinilah esensi niat perlahan memudar.

Padahal Ramadan mengajarkan kesadaran spiritual sejak detik pertama sahur hingga suapan pertama berbuka. Setiap tegukan air saat sahur adalah persiapan jihad melawan hawa nafsu. Dan setiap kurma saat berbuka adalah simbol kemenangan pengendalian diri.

Para ulama mengingatkan bahwa kualitas puasa tidak hanya dinilai dari lapar dan haus, tetapi dari kesungguhan niatnya. Orang bisa sama-sama berpuasa, tetapi nilai ibadahnya berbeda karena perbedaan keikhlasan dalam hati.

Akhirnya, sahur dan berbuka bukan sekadar rutinitas tahunan. Ia adalah latihan menghadirkan Allah dalam setiap awal dan akhir aktivitas. Ketika niat benar sejak sahur dan syukur hadir saat berbuka, maka puasa tidak lagi terasa berat. Melainkan menjadi perjalanan cinta seorang hamba menuju Tuhannya.

Ramadan pada akhirnya mengajarkan satu hal sederhana namun mendalam. Yang membuat lapar menjadi ibadah bukan makanannya, tetapi niatnya. Dan mungkin, di situlah rahasia puasa yang sesungguhnya.

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu