Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Nyantri di Maskumambang, Mengajar Silat di Masjid KH Mas Mansur

Iklan Landscape Smamda
Nyantri di Maskumambang, Mengajar Silat di Masjid KH Mas Mansur
Chusnan David. Foto: Dok/keluarga
pwmu.co -

Chusnan David lahir di Surabaya, 3 April 1945, ketika Kota Pahlawan masih bernafas dalam sisa-sisa pergolakan. Pendudukan, perang, dan ketidakpastian pascakemerdekaan baru saja dilewati, meninggalkan suasana yang belum sepenuhnya tenang. Dari rahim zaman yang gelisah itulah, perjalanan seorang pendekar besar kelak bermula.

Berikut Kisah Lahirnya Jurus Harimau, Warisan Pendekar Besar Chusnan David untuk Tapak Suci Dunia (Bagian 3)

Chusnan David adalah putra Haji Chasan dan Hj. Mafrucah. Haji Chasan adalah seorang wiraswasta yang mapan. Bukan hanya berhasil secara ekonomi, tetapi juga masyhur karena kedermawanannya.

Rumah keluarga Chasan di Jalan Krembangan selalu terbuka. Orang datang dan pergi; urusan dagang bercampur dengan urusan sosial, dan tangan sang ayah nyaris tak pernah tertutup rapat ketika ada yang membutuhkan.

Dalam suasana itulah Chusnan kecil tumbuh. Chusnan David adalah anak kedua dari sebelas bersaudara. Kakaknya, Ali Hasan, menjadi figur awal yang ia hormati. Adik-adiknya kemudian melengkapi lingkar keluarga besar itu: Eva Rosdiana Dewi, Muhammad Erfan Effendi, Zulaichah, Farida, Chumaidi, Syaiful Burhan, Mimi Rahmawati. Agus Santoso, dan Sofyan Arif.

Sebagai keluarga yang berkecukupan, Chusnan David kecil tak asing dengan kemewahan sederhana.

Muhammad Zamrony, putra sulung Chusnan David, pernah mengenang bahwa masa kecil sering diberi cincin emas oleh kakeknya itu. “Kalau dikasih saya berikan ibu untuk disimpan,” katanya

Sejak dini, Chusnan justru terbiasa hidup disiplin, menghormati orang tua, dan menjaga sikap. Hari-hari masa kecilnya dihabiskan di dua kawasan yang membentuk wataknya, yakni di Krembangan dan Perak.

Pada satu fase penting, Chusnan mengenyam pendidikan di Sekolah Rakyat (SR) Pondok Maskumambang, Dukun, Gresik. Lingkungan sekolah itu berbeda dari Surabaya.

Pondok Maskumambang bukan sekadar tempat belajar membaca dan berhitung. Pondok itu adalah ruang pembentukan watak. Disiplin terasa lebih kuat, relasi guru dan murid lebih dekat, dan nilai-nilai hidup diajarkan lewat contoh sehari-hari. Di sanalah Chusnan kecil belajar hidup lebih tertata, lebih sabar, dan lebih peka terhadap lingkungan sekitar.

Dari pondok inilah jalannya perlahan bersinggungan dengan dunia para pendekar. Chusnan mulai dekat dengan sosok-sosok tua di Sedayu. Orang-orang yang tidak banyak bicara, tetapi menyimpan laku panjang.

Chusnan belajar ilmu Sedayuan. Ilmu diajarkan setahap demi setahap, sering kali tanpa penjelasan panjang. Yang dituntut bukan hanya kekuatan tubuh, tetapi ketenangan batin.

Beberapa keterangan yang saya peroleh, Ilmu Sedayuan dikenal sebagai ajaran yang bertolak belakang dengan pencak silat pada umumnya.

Jika dalam pencak silat serangan dibalas dengan pukulan atau tangkisan, maka dalam Ilmu Sedayuan, ketika dipukul justru diberikan—bukan ditolak. Kekuatan bertumpu pada olah tangan, yang kemudian dikenal sebagai ciri khas pencak silat pantai.

Memasuki usia remaja, ketekunannya pada pencak silat semakin nyata. Dia berlatih dalam situasi yang sangat berbeda dengan hari ini. Belum ada Tapak Suci. Belum ada seragam baku, kejuaraan resmi, atau sistem organisasi yang rapi.

Latihan berlangsung di halaman rumah, di tanah lapang, atau di sudut-sudut kampung saat senja turun. Guru dan murid terhubung oleh kepercayaan. Ilmu dijaga sebagai amanah, bukan tontonan.

Pada masa itulah Chusnan membentuk dirinya. Tubuh yang terlatih, gerak yang efisien, dan sikap yang terkendali. Chusnan belajar bahwa kekuatan tidak selalu harus ditunjukkan. Keahlian juga tidak selalu perlu diumumkan. Nilai-nilai itu kelak menjadi ciri khasnya, dan kelak pula meresap ke dalam Jurus Harimau yang ia rumuskan bertahun-tahun kemudian.

Di tengah kesibukannya berlatih, Chusnan tetap menjadi anak keluarga. Ia dikenal sangat menyayangi orang-orang terdekatnya. Salah satu adik yang paling menonjol adalah Eva Rosdiana Dewi.

Eva kemudian dikenal sebagai artis ternama perfilman Indonesia, membintangi berbagai film populer seperti Mutiara (1977), Perawan Desa (1978), Bayang-Bayang Kelabu (1979), Mawar Cinta Berduri Duka (1981), Lingkaran Cinta (1981), Medali Bukit Selatan (1981), hingga Gepeng Bayar Kontan (1983). Puncaknya, film Penyesalan Seumur Hidup (1986) melambungkan namanya secara nasional.

Tak hanya di layar lebar, Eva juga berkiprah dalam organisasi dengan menjabat Ketua Persatuan Artis Film Indonesia (PARFI) cabang Jawa Timur selama lebih dari tiga dekade (1968–2002).

Bagian inilah yang kelak menjelaskan mengapa Jurus Harimau tidak lahir sebagai ledakan, melainkan sebagai rangkuman panjang dari hidup yang ditempa sejak kanak-kanak.

Nyantri di Maskumambang, Mengajar Silat di Masjid KH Mas Mansur
(ki-ka) Rusbandi, Bonang, dan Khusairi saat latihan Sedayuan di Surabaya. Foto: Dok/keluarga

Melatih TNI AD

Memasuki masa dewasa, kemampuan pencak silat Chusnan David tidak lagi berhenti di lingkar kampung atau perguruan kecil. Ilmunya mulai dicari oleh mereka yang membutuhkan ketangkasan, disiplin, dan ketenangan. Termasuk institusi yang jarang disebut secara terbuka.

Menurut Zamrony, Chusnan David pernah melatih silat di Masjid Taqwa (Madrasah Mufidah) yang didirikan KH Mas Mansur, tokoh besar dan menjadi ketua Muhammadiyah Pertama di Surabaya, sekitar tahun 60-an. Lokasinya kawasan Ampel. Waktu itu namanya Tunas Melati.

Saat itu, memasuki era 1965-an, situasi Surabaya—bahkan Indonesia—berada dalam ketegangan yang mencekam. Muhammadiyah Surabaya merasakan kebutuhan mendesak akan latihan bela diri. Teror, intimidasi, hingga kekerasan yang dilakukan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) beserta antek-anteknya terhadap umat Islam semakin sering terjadi.

Dalam situasi genting itu, Pemuda Muhammadiyah Surabaya Utara, bersama KOKAM sebagai unsur pengamanan, merasa terpanggil. Mereka sadar, menjaga tegaknya agama Islam di bumi Indonesia tidak cukup hanya dengan dakwah lisan, tetapi juga kesiapsiagaan fisik.

Hingga akhirnya, pada pertengahan tahun 1966, Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur mengambil keputusan penting. Chusnan David ditunjuk sebagai pelatih bela diri Pemuda Muhammadiyah Surabaya.

Keputusan itu mengguncang batin Chusnan David. Hatinya terenyuh sekaligus tergugah. Dia merasa sangat dihormati oleh pimpinan Muhammadiyah. Dalam benaknya terlintas keraguan: pantaskah dirinya, seorang pemuda, melatih orang-orang yang usianya lebih tua dan posturnya lebih besar?

Namun amanah adalah amanah. Dengan niat yang kuat dan keyakinan bahwa semua ini adalah rahmat Allah, Chusnan David melangkah maju. Latihan bela diri pun berjalan lancar. Perlahan, kegiatan ini berkembang dan mendapat sambutan luas dari masyarakat serta pemuda Muhammadiyah.

Orientasi latihan saat itu jelas dan tegas: pertahanan diri. Bukan untuk gagah-gagahan, bukan pula untuk unjuk kekuatan, melainkan untuk melindungi umat Islam dari kekejaman PKI yang kala itu telah merenggut banyak nyawa.

Nilai-nilai keislaman yang hidup di lingkungan masjid menjadikan latihan bukan sekadar rutinitas fisik, melainkan ruang pembinaan karakter dan spiritualitas.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Tak hanya itu saja. Chusnan David juga pernah melatih prajurit TNI Angkatan Darat (AD) di Surabaya.

“Namun, ayah Chusnan tidak pernah cerita detailnya. Tidak pernah disebutkan kesatuan apa, berapa lama, dan lainny,” ujar Zamrony yang mengira hal itu bukan sesuatu yang perlu diumumkan.

Sedangkan pada tahun 1967, Chusnan David mengajar pertama kali di Perguruan Kapasan angkatan Fanan Hasanuddin cs dengan jurus Sedayuan.

Yang bisa ditangkap dari cerita Zamrony hanyalah potongan kecil. Chusnan datang, melatih, lalu pergi. Tidak banyak tanya. Tidak banyak komentar. Ilmu disampaikan seperlunya. Fokus pada efektivitas gerak, ketahanan tubuh, dan pengendalian diri.

Bukan pencak silat sebagai seni pertunjukan, melainkan sebagai keterampilan hidup dan pertahanan.

Dalam lingkungan militer yang menuntut presisi dan kedisiplinan tinggi, karakter Chusnan yang tenang dan tidak banyak bicara justru menemukan tempatnya.

Semua itu dilakukan tanpa ambisi membangun nama. Chusnan tidak pernah menempatkan dirinya sebagai pusat. Ia percaya bahwa ilmu akan menemukan jalannya sendiri, selama disampaikan dengan niat yang lurus.

Dalam perjalanannya, Chusnan David sering bepergian ke Solo dan Yogyakarta. Kota-kota ini bukan sekadar tujuan singgah, melainkan ruang pertemuan penting dalam hidupnya. Di sanalah dia kemudian sangat akrab dengan Muhammad Barie Irsjad, pendiri dan guru besar Perguruan Tapak Suci.

Barie Irsjad bukan sosok sembarangan. Dia adalah tokoh sentral yang memperjuangkan Tapak Suci agar berdiri sebagai organisasi otonom Muhammadiyah. Di tangannya, pencak silat tidak hanya menjadi warisan budaya, tetapi juga sarana dakwah, pembinaan akhlak, dan pembentukan kader.

Kedekatan Chusnan David dengan Barie Irsjad tidak lahir dari formalitas organisasi, melainkan dari kesamaan pandangan. Keduanya melihat pencak silat bukan semata urusan fisik, tetapi juga laku hidup. Gerak harus berakar pada nilai. Kekuatan harus dibingkai oleh adab.

Dalam pertemuan-pertemuan di Solo dan Yogyakarta itulah, gagasan besar Tapak Suci berkembang. Chusnan bukan tipe yang banyak berbicara dalam forum. Dia memilih menampilkan  melalui kualitas dengan ketelatenan melatih, kedalaman teknik, dan kesetiaan pada nilai Muhammadiyah.

Dari jalan itulah Chusnan David kelak menempatkan dirinya dalam sejarah Tapak Suci. Bukan sebagai tokoh yang paling sering disebut, tetapi sebagai salah satu penjaga kualitas. Dia melatih di banyak tempat, bertemu banyak orang, dan masuk ke banyak lingkaran.

Bagian inilah yang menjadi jembatan penting menuju lahirnya Jurus Harimau, jurus yang bukan sekadar teknik, melainkan rangkuman dari perjalanan panjang lintas perguruan, lintas kota, dan lintas zaman.

Nilai Agama dan Kesederhanaan

Di balik laku sunyi dan perjalanan panjangnya sebagai pendekar, Chusnan David membangun satu ruang yang paling ia jaga: keluarga. Di sanalah dia menempatkan dirinya bukan sebagai guru, bukan sebagai pelatih, melainkan sebagai suami dan ayah. Peran yang justru paling menentukan arah hidupnya.

Chusnan David menikah dengan Yusnaini, tahun 1972. Yusnaini yang lahir tahun 1955 menikah saat usia 17 tahun. Di  adalah perempuan yang tenang dan kokoh.

Yusnaini bukan figur yang tampil di depan, tetapi menjadi penyangga utama ritme keluarga. Dari rumah inilah Chusnan David berangkat dan ke rumah inilah dia selalu kembali.

Nilai-nilai agama, kesederhanaan, dan tanggung jawab dirawat dalam keseharian: tanpa slogan, tanpa ceramah panjang.

Dari pernikahan itu, Chusnan dan Yusnaini dikaruniai enam orang anak: Muhammad Zamrony, Mamik Indahwati, Fatma Kumala Dewi, M. Iqbal Paradiso, Akbar Najamuddin, dan Satria Tubagus Mukmin. Keenamnya tumbuh dalam lingkungan yang tidak memisahkan antara disiplin dan kasih sayang.

Sebagai anak sulung, Muhammad Zamrony menjadi saksi paling dekat atas laku hidup ayahnya. Dia tumbuh dengan melihat bagaimana Chusnan David lebih banyak memberi contoh ketimbang perintah.

Zamrony menyaksikan bagaimana ayahnya berlatih, melatih, dan berinteraksi dengan banyak orang. Dari sanalah Zamrony mengenal satu prinsip penting: ilmu bukan untuk dipamerkan, tetapi untuk dijaga.

Chusnan David tidak membedakan pendidikan anak laki-laki dan perempuan dalam hal nilai. Mereka dibesarkan dengan kemandirian, keteguhan, dan kesadaran bahwa kehormatan diri lahir dari sikap, bukan dari status keluarga.

Di usia ini, Chusnan tidak lagi mengejar pengakuan apa pun. Dia lebih selektif dalam berbicara, lebih berhati-hati dalam bertindak, dan lebih fokus pada pembinaan di lingkar terdekat: keluarga.

Di rumah, Chusnan David bukan pendekar yang ditakuti. Dia tidak membawa kerasnya latihan ke dalam ruang keluarga.

Chusnan David dikenal sebagai ayah yang jarang meninggikan suara, tetapi sekali berbicara, kata-katanya cukup.

Dia mengajarkan disiplin bukan lewat hukuman, melainkan lewat konsistensi. Waktu menjadi alat pendidikannya seperti datang tepat waktu, menepati janji, dan menyelesaikan tanggung jawab.

Di ruang keluarga itulah nilai Tapak Suci, Muhammadiyah, dan pencak silat bertemu secara alami. Tidak ada doktrin resmi.

“Yang pasti kebiasaan sholat tepat waktu, menghormati yang lebih tua, menyayangi yang lebih muda. Dan kalau bekerja harus sungguh-sungguh,” tutur Zamrony. (*/bersambung)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu