Isu lingkungan hidup merupakan salah satu tantangan besar bagi masyarakat global saat ini.
Permasalahan pelik seperti akumulasi sampah, pencemaran, dan degradasi kualitas lingkungan tidak cukup diurai hanya melalui regulasi atau kecanggihan teknologi.
Perlu adanya transformasi mendasar pada sikap dan perilaku manusia.
Transformasi ini idealnya diinisiasi sejak usia dini, fase saat nilai-nilai dan kebiasaan masih bersifat plastis atau mudah dibentuk.
Dalam konteks inilah, pendidikan memegang peran strategis untuk menyemai kepedulian lingkungan pada anak-anak.
Sekolah dasar, sebagai fondasi pembentukan karakter, memiliki posisi sentral dalam menumbuhkan kesadaran tersebut.
Sekolah bukan sekadar ruang transfer ilmu akademik, melainkan laboratorium kehidupan tempat siswa mengaktualisasikan nilai-nilai moral.
Salah satu upaya sederhana namun sarat makna adalah melalui kegiatan Operasi Semut, sebagaimana yang diimplementasikan oleh siswa SD Muhammadiyah 1 Pucanganom, Sidoarjo, atau yang lebih dikenal sebagai SD MUHIDA.
Operasi Semut sebagai Pembelajaran Kontekstual
Kegiatan dimulai dengan diskusi interaktif mengenai urgensi menjaga kelestarian sekolah.
Melalui pemantik pertanyaan sederhana, siswa merefleksikan korelasi antara lingkungan yang kotor dengan aspek kesehatan serta kenyamanan belajar.
Dialog ini memberi ruang bagi siswa untuk menyuarakan pengalaman mereka.
Terlihat bahwa meski siswa telah memiliki pemahaman kognitif tentang kebersihan, hal tersebut belum sepenuhnya terinternalisasi menjadi perilaku konsisten.
Memasuki tahap aksi, siswa mengelompok ke dalam beberapa area.
Berbekal perlengkapan sederhana seperti kantong sampah dan sarung tangan, mereka menyisir halaman, lorong, hingga sudut-sudut tersembunyi yang kerap luput dari perhatian.
Aktivitas berkelompok ini secara alami memupuk semangat kolaborasi, gotong royong, dan rasa kepemilikan (sense of belonging) terhadap lingkungan sekolah.
Selama kegiatan berlangsung, interaksi antara pendidik dan siswa menjadi inti dari proses pembelajaran.
Saat memungut sampah-sampah kecil, siswa menyadari sebuah filosofi penting: bahwa sampah sekecil apa pun akan berdampak besar jika dibiarkan terakumulasi.
Pengalaman empiris ini mengajarkan bahwa menjaga bumi tidak selalu dimulai dari langkah raksasa, melainkan dari konsistensi tindakan-tindakan kecil.
Penanaman Nilai Karakter dan Refleksi
Operasi Semut selaras dengan prinsip pembelajaran kontekstual dalam Kurikulum Merdeka.
Nilai-nilai Profil Pelajar Pancasila, seperti kemandirian dan tanggung jawab, tumbuh secara organik tanpa kesan menggurui.
Setelah aksi selesai, sesi refleksi dilakukan untuk membantu siswa mengeksplorasi perasaan dan pemahaman baru mereka.
Mayoritas siswa mengekspresikan kepuasan batin saat melihat sekolah mereka kembali asri.
Refleksi ini krusial agar pengalaman fisik tersebut mengendap menjadi nilai yang menetap dalam memori jangka panjang.
Dari perspektif pedagogis, Operasi Semut membuktikan bahwa pendidikan lingkungan tidak efektif jika penyampaiannya hanya melalui ceramah abstrak.
Dari sudut pandang pendidikan, Operasi Semut menunjukkan bahwa penyampaian pendidikan lingkungan tidak harus melalui ceramah panjang atau materi teoritis yang abstrak.
Pembiasaan melalui aktivitas sederhana justru lebih efektif dalam membangun kesadaran dan sikap peduli pada anak.
Ketika siswa terlibat langsung dalam kegiatan nyata, mereka belajar melalui pengalaman, bukan sekadar instruksi.
Bagi sekolah, kegiatan semacam ini memperkuat peran institusi pendidikan sebagai agen pembentuk karakter.
Sekolah tidak hanya menjadi tempat transfer pengetahuan akademik, tetapi juga ruang strategis untuk menanamkan nilai-nilai kehidupan yang akan mereka bawa hingga dewasa.
Lingkungan sekolah yang bersih dan terawat menjadi hasil nyata dari proses pendidikan karakter yang berjalan secara konsisten.
Menanam Iman, Ilmu, dan Amal
Pada akhirnya, Operasi Semut mengajarkan bahwa kolektivitas dalam langkah kecil mampu menciptakan dampak signifikan.
Ketika anak-anak terbiasa menjaga ekosistem sejak dini, mereka akan tumbuh menjadi generasi dengan kecerdasan ekologis dan tanggung jawab sosial yang tinggi.
Lebih jauh lagi, menjaga bumi adalah manifestasi rasa syukur dan bentuk pertanggungjawaban kepada Allah Swt.
Inilah hakikat pendidikan yang memadukan “iman, ilmu, dan amal” secara terpadu—pendidikan yang mencetak generasi berakhlak mulia, peduli, dan berdaya untuk merawat masa depan yang lestari.
Sebab, cinta lingkungan tidaklah lahir secara instan, ia adalah buah dari kebiasaan yang dipupuk setiap hari.
Melalui kegiatan sederhana seperti Operasi Semut, pendidikan memberikan kontribusi nyata dalam menyiapkan generasi yang peduli, bertanggung jawab, dan berdaya dalam menjaga bumi.***






0 Tanggapan
Empty Comments