Search
Menu
Mode Gelap

Optimalisasi Pendidikan Karakter di Tengah Derasnya Arus Industrialisasi

Optimalisasi Pendidikan Karakter di Tengah Derasnya Arus Industrialisasi
Penulis (kanan) bersama guru SMKN 1 Suboh Situbondo, Ariska saat mendampingi siswa ujian kompetensi di SMK Muhammadiyah 2 Genteng. (Istimewa/PWMU.CO)
Oleh : Taufiqur Rohman Guru Pendidikan Agama Islam SMK Muhammadiyah 2 Genteng
pwmu.co -

Jumat pagi nan penuh berkah, bertepatan dengan (26/12/2025). Hari yang sebagian besar civitas pendidikan vokasi sedang menjalani masa liburan sekolah. Mereka memanfaatkan waktu tersebut untuk rekreasi, bercengkrama, atau berkumpul dengan keluarga tercintanya.

Lain halnya dengan salah satu sisi pendidikan vokasi di SMK Muda sebutan SMK Muhammadiyah 2 Genteng Banyuwangi yang masih menunjukkan geliatnya. Tepatnya berada di Jurusan Teknik Sepeda Motor (TSM) Kelas Honda. Tim TSM ini justru memanfaatkan waktu liburan untuk mengasah kompetensi siswa SMK se-Karesidenan Besuki.

Para siswa yang berasal dari tiga kabupaten, yakni Jember, Situbondo, dan Banyuwangi itu terlihat sangat semangat mengikuti Uji Kompetensi Keahlian (UKK). Tidak kaleng-kaleng, UKK ini bukanlah sekadar ujian biasa. Namun, ujian yang berstandarkan industri dari sebuah perusahaan ternama, PT Astra Honda Motor.

Materi ujian terkait pengukuran, pengecekan, dan penyetelan komponen sepeda motor. Semuanya tersaji dalam sebuah menu perbaikan yang berbentuk instrumen. Hal ini yang menjadi acuan dan menuntut para siswa agar mengerjakan ujian secara runtut. Instrumen ini layaknya SOP kerja di industri yang telah tersusun dengan rapi. Step by step, peserta ujian mengamati dan mengulik pemesinan roda dua tersebut.

Kegiatan yang berlangsung di Tempat Uji Kompetensi TSM SMK Muda Genteng ini berjalan dengan sangat tertib. Semua peserta ujian bekerja sesuai petunjuk dan tata tertib yang telah ditetapkan panitia. Seolah tak boleh ada celah kesalahan sedikitpun yang dilakukan dalam ujian ini. Ketelitian dan presisi harus diterapkan dengan disiplin tinggi.

Bahkan untuk menjaga objektivitas dan menjamin kompetensi ujian ini, panitia tidak cukup mengandalkan asesor internal. Asesor eksternal pun didatangkan. Semua asesor telah bersertifikasi mekanik Ahass Motor dari AHM sehingga layak sebagai penguji profesional.

Uji Kompetensi

Sambil menyaksikan para siswa yang begitu semangat dan berjuang menghadapi tantangan ujian tersebut, penulis sempat berbincang dengan seorang guru pendamping dari SMKN 1 Suboh Situbondo, Ariska namanya.

Ia menjadi seorang pendidik sejak tahun 2012. Keberangkatannya ke SMK Muda ditemani 2 orang guru bersama 23 siswa. Dengan menggunakan dua unit kendaraan roda empat.

Aris begitu ia disapa, mengatakan bahwa timnya telah berkemas sejak pukul 24.00 WIB tengah malam. Dua jam kemudian, barulah mereka berangkat menuju SMK Muda Genteng. Rombongan tiba di lokasi ujian pada pukul 6.00 pagi.

Ketika bertemu dengan penulis, ia menceritakan pendampingannya terhadap peserta didik menjelang ujian kompetensi ini.

Iklan Landscape UM SURABAYA

“Selain pelajaran harian di sekolah, para siswa juga praktik secara mendalam agar dalam ujian ini mampu meraih hasil yang maksimal,” ujarnya.

Di balik berbagai upaya yang dilakukan tersebut, lelaki berbadan tegap itu menyampaikan bahwa ia bersama tim TSM sekolahnya telah melakukan seleksi awal dengan ketat terhadap siswa yang akan masuk di Kelas Honda.

Terutama terkait karakter siswa. Hingga yang lolos seleksi hanya 23 dari ratusan siswa. Karakter siswa ini menjadi faktor penting yang akan menjadi bekal utama mereka di saat bekerja di industri selain kompetensi yang dimilikinya.

Praktik Salat

Di tengah asyiknya mendengarkan cerita guru TSM itu, saya menjadi teringat kejadian beberapa tahun yang silam ketika awal merintis Kelas Honda SMK Muda Genteng.

Ketua Program Keahlian TSM saat itu Janu Prasetyo meminta tolong kepada saya untuk mengobservasi siswa TSM yang menjalankan salat lima waktu dengan istikamah. Hal ini dijadikan sebagai bahan pertimbangan sebelum siswa dinyatakan lolos masuk Kelas Honda.

Oleh karena itu saya melakukan uji praktik salat terhadap siswa satu persatu. Dari situ dapat diketahui, siapa siswa yang terbiasa menjalankan salat lima waktu dengan baik dalam kesehariannya. Sehingga dari pembiasaan ibadah tersebut mampu menumbuhkan karakter yang baik pada diri siswa.

Harapan Janu Prasetyo selaras dengan Aris yang menekankan pada pembentukan karakter siswa. Ia berharap siswa yang masuk Kelas Honda adalah siswa yang telah terseleksi dengan memiliki karakter yang baik. Setelah itu barulah skill peserta didik masuk di urutan berikutnya.

Optimalisasi pendidikan karakter siswa tidak dapat hanya mengandalkan pengajaran dari sekolah. Tapi, harus ada kolaborasi bersama antara sekolah, orang tua, dan masyarakat. Siswa yang berkarakter-lah, yang akan tetap mampu beradaptasi di tengah derasnya arus industrialisasi. (*)

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments