Kala itu senja merah menyala di ufuk barat, seolah menyemangati siapa saja yang ingin membangun peradaban gemilang. Sambil duduk di teras rumah, saya menatap panorama itu dengan penuh rasa syukur. Sungguh, keindahan ini sayang untuk dilewatkan.
Ingin rasanya berlama-lama menikmati pemandangan ini. Namun tiba-tiba, ponsel saya yang berada di atas meja menyala. Rupanya, ada sebuah chat masuk.
Bahasanya sangat sopan, sebuah tanda bahwa pengirimnya adalah seorang yang terdidik. Setelah salam, dia mengenalkan dirinya.
“Maaf mengganggu waktunya, Pak. Saya Ahmad Davin dari PC IPM Genteng. Kami ingin mengadakan kegiatan pelatihan jurnalistik. Kami berniat untuk berkolaborasi dengan jenengan (Anda) selaku Majelis Tabligh PCM Genteng. Apabila berkenan, kami ingin meminta waktunya untuk bertemu dengan jenengan membahas kelanjutannya,” ujarnya.
Membaca pesan dalam chat tersebut, penulis menjadi sangat terharu. Betapa tidak, banyak pihak yang menyoroti rendahnya minat baca generasi muda negeri ini dan merasa kebingungan bagaimana cara mengatasi buruknya literasi di era digital. Bahkan, konon negara sampai menganggarkan 10% dari dana BOS untuk pengadaan buku di sekolah.
Ternyata, masih ada kader Ortom persyarikatan yang membuat program strategis terkait literasi. Ini merupakan hal yang sangat mendasar bagi sebuah peradaban besar.
Rasa optimisme ini sontak tumbuh. Ada harapan besar untuk membangun peradaban gemilang yang sempat diragukan ketercapaiannya.
Akhirnya, saya menanggapi dengan mengajak pertemuan lebih lanjut. Rencananya, pada hari Senin (19/1/2026) di sekolah. Keesokan harinya, saat rasa optimisme sedang membumbung tinggi itu, ada lagi chat masuk ke ponsel saya. Wibi Ahmad, sang Ketua Pimpinan Cabang IPM Genteng, yang mengirim pesan.
“Mohon maaf, Pak, mengganggu waktunya. Teman-teman dari PC IPM Genteng ingin mengadakan acara administrasi dan jurnalistik. Kami ingin bertemu dengan jenengan untuk komunikasi acara ini. Apa bisa nggeh, Pak?” ulasnya, bercampur bahasa Jawa.
Wibi, panggilan akrabnya, meminta untuk segera bertemu. Padahal, kemarin salah satu pengurus IPM yang lain sudah berjanji untuk mengadakan pertemuan pada hari Senin.
Ahad siang hari itu, setelah pulang dari Srono, saya mengabari bahwa saya berada di rumah. Ketua IPM itu menjawab akan datang ke rumah setelah Asar. Saya pun menunggu dengan sabar.
Takdir Allah, siang itu Pandan, tempat saya bertinggal, diguyur hujan lebat. Bahkan hingga Asar belum ada tanda-tanda hujan akan reda. Layar ponsel kembali menyala dengan terkirimnya chat.
“Mohon maaf, di sini masih hujan deras. Insyaallah menunggu agak terang berangkat ke rumah jenengan,” chat Wibi.
Saya pun menunggu kembali dengan sabar hati hingga waktu salat Magrib. Namun, belum juga ada tanda-tanda kedatangan mereka. Memang, hujan masih turun dengan sangat deras.
Setelah mendampingi anak-anak membaca Al-Qur’an di rumah, penulis menyaksikan pertandingan voli yang sedang seru-serunya pada putaran pertama Proliga.
“Apa mereka tidak jadi datang?” batin saya.
Pada saat yang bersamaan, seberkas cahaya lampu menembus kaca jendela rumah. Ternyata anak-anak IPM telah datang. Mereka berempat, Wibi Ahmad, Saabirah Tanjia, Ahmad Davin Arviansyah, dan Arrsyidan Nazwa Ulin Nuha.
Setelah memarkir kendaraan roda dua di halaman, mereka pun masuk ke rumah. Jas warna kuning emas kebanggaan mereka terlihat basah, tetapi wajah mereka tetap tampak sumringah. Hal ini menunjukkan kesungguhan mereka dalam menindaklanjuti rencana yang telah dibuat agar terlaksana dengan maksimal.
Silaturahmi ini berlangsung dengan gembira. Tidak terasa, satu jam lebih telah berlalu. Keempat pengurus Ortom tersebut mengemukakan ide dan gagasannya demi keberhasilan program IPM.
Semuanya berharap dan optimis dapat melaksanakan program pelatihan jurnalistik sebagai sumbangsih untuk membangun peradaban gemilang.






0 Tanggapan
Empty Comments