TK ABA 2 Pendil menyelenggarakan kegiatan parenting bertema “Peran Orang Tua dalam Menciptakan Lingkungan Belajar yang Inklusif” pada Sabtu (22/11/25). Kegiatan ini diikuti seluruh wali murid dan dibuka oleh Ketua PCA Pendil, Eni.
Dalam sambutannya, Eni menegaskan bahwa inklusivitas harus dimulai dari lingkungan keluarga. Menurutnya, bukan hanya guru yang perlu memahami perbedaan anak, tetapi orang tua juga harus membangun suasana rumah yang menerima, hangat, dan mampu memfasilitasi kebutuhan anak.
Ia berharap kegiatan ini dapat meningkatkan kesadaran orang tua bahwa pendidikan inklusif merupakan upaya bersama yang tidak dapat berjalan secara parsial.
Kepala TK ABA 2 Pendil, Nanik Hermawati, menyampaikan bahwa kegiatan parenting ini merupakan bagian dari komitmen sekolah dalam menerapkan pendidikan inklusif.
“Di kelas, kami berusaha melihat setiap anak sebagai individu yang unik. Namun keberhasilan inklusi tidak hanya ditentukan di sekolah. Orang tua adalah mitra utama,” jelasnya.
Nanik menambahkan bahwa lingkungan inklusif tidak sebatas pada penyediaan fasilitas, tetapi juga mencakup pembangunan pola pikir yang menerima dan menghargai keberagaman.
“Anak-anak belajar dari contoh. Jika orang tua dan guru sama-sama menunjukkan sikap menghargai perbedaan, anak akan tumbuh lebih empatik, percaya diri, dan siap menghadapi lingkungan sosial,” tambahnya.
Menurutnya, kegiatan parenting perlu terus dilakukan agar orang tua semakin memahami perkembangan anak, pola asuh, serta teknik komunikasi yang positif.
“Kami ingin setiap keluarga menjadi rumah yang ramah bagi setiap anak,” ungkapnya.
Paparan Psikolog tentang Love Tank dan Peran Orang Tua
Sebagai narasumber, psikolog Anggi Citra Alfiroh, S.Psi., M.Psi., memaparkan materi seputar perkembangan anak, pola asuh, serta konsep love tank atau tangki cinta. Ia menjelaskan bahwa anak membutuhkan cinta yang diekspresikan sesuai dengan bahasa cintanya, seperti quality time, sentuhan fisik, kata-kata positif, maupun bantuan.
“Anak dengan tangki cinta yang terisi dengan baik cenderung memiliki emosi yang stabil, komunikasi yang lebih lancar, serta perilaku yang positif. Inilah salah satu dasar penting dalam pembelajaran inklusif,” tegas Anggi.
Ia juga memaparkan karakteristik anak dengan hambatan belajar, hambatan komunikasi, serta kebutuhan khusus seperti ADHD dan ASD. Orang tua diajak mengenali potensi dan tantangan anak, sekaligus melakukan evaluasi rutin bersama guru.
Orang Tua Antusias, Banyak Bertanya
Suasana kegiatan berlangsung hangat dan interaktif. Anggi memandu beberapa latihan sederhana, seperti mengenali bahasa cinta anak, memahami komunikasi yang efektif, serta membangun empati dalam pengasuhan.
Para wali murid tampak antusias dan aktif mengajukan pertanyaan seputar pengasuhan sehari-hari.
Nanik mengapresiasi partisipasi para orang tua. Menurutnya, kehadiran dan keaktifan mereka menunjukkan komitmen yang kuat untuk tumbuh bersama anak.
Lingkungan Inklusif Dimulai dari Rumah
Melalui kegiatan ini, TK ABA 2 Pendil berharap pemahaman orang tua terhadap pendidikan inklusif semakin meningkat. Sekolah menegaskan bahwa inklusi bukan sekadar menerima perbedaan, tetapi juga memastikan setiap anak merasa dicintai, dihargai, dan difasilitasi sesuai kebutuhannya.
“Jika rumah dan sekolah berjalan selaras, anak-anak akan tumbuh menjadi pribadi yang bahagia, percaya diri, dan berkarakter,” tutup Nanik. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments