
PWMU.CO – Malam kedua Simposium Berseri Ortom Muhammadiyah, Jumat (20/6/2025), kembali menghadirkan ruang perenungan yang dalam.
Berlangsung di Gedung Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Malang, sesi kedua dari lima rangkaian ini tidak menghadirkan pemateri sebagaimana malam sebelumnya, melainkan menghadirkan suasana diskusi yang mengalir secara alami—penuh kejujuran dan refleksi dari para peserta sendiri.
Jika pada hari pertama para peserta diajak menyelami nilai dasar gerakan melalui materi dan pemantik akademik, maka malam ini suara-suara peserta menjadi poros utama.
Suara yang tidak hanya bicara program kerja, tetapi menyentuh nurani: tentang identitas, kekecewaan, dan kejujuran.
Acara diawali dengan permainan kartu refleksi yang sederhana namun menggugah. Pertanyaan-pertanyaan seperti “Apa hal yang pernah kamu perjuangkan namun akhirnya harus kamu relakan?” hingga “Jika hidup diulang, apakah kamu tetap memilih jalan yang sama?” membuat percakapan mengalir dari sisi terdalam setiap peserta. Dari situasi akrab, lahir keberanian untuk bicara lebih jujur.
Kata “rumit” dipilih peserta untuk menggambarkan kondisi Ortom hari ini. Sebuah masa transisi yang dipenuhi keraguan, ketegangan antar generasi, serta kekosongan makna dalam proses kaderisasi.
Salah satu refleksi paling menggelitik sekaligus menyakitkan muncul saat seorang peserta menyampaikan kekecewaan karena pemimpin struktural tidak mengetahui keberadaan ortom yang ia pimpin.
Kekecewaan itu bukan hanya soal nama organisasi yang tak dikenal—tapi tentang rasa tidak diakui, tidak dianggap, dan terpinggirkan.
“Bagaimana bisa seorang pemimpin memanggul amanah, tetapi bahkan tidak tahu siapa yang dipimpinnya?” ucap seorang peserta dalam suasana hening yang menggantung.
Ungkapan itu menyentil banyak pihak—bahwa kepemimpinan tanpa pemahaman bukanlah pengabdian, tapi kekosongan.

Diskusi berkembang menuju persoalan lebih luas. Banyak ortom hari ini terjebak dalam aktivitas seremonial, sibuk pada penampilan formal, tapi tidak benar-benar menyentuh akar masyarakat atau menyuarakan nilai gerakan. Kaderisasi pun kadang hanya memindahkan jabatan tanpa mewariskan kesadaran.
Struktur yang ada belum sepenuhnya ditopang oleh sistem internal yang jelas. Koordinasi seringkali masih terputus, arah gerakan tidak satu visi, dan program-program berjalan tanpa napas ideologis yang kuat. Beberapa peserta menyebut ortomnya sendiri “berjalan di tempat”.
Menjelang akhir, “bola kejujuran” menjadi simbol perenungan kolektif. Dilempar dari satu tangan ke tangan lain, setiap peserta menyampaikan satu kalimat refleksi paling jujur tentang kondisi ortom hari ini.
Di sinilah kesadaran mulai muncul: bahwa krisis bukan semata di struktur—tapi di kesadaran para pelaku gerakan.
Acara malam itu ditutup dengan riuh tepuk tangan. Tapi bukan sekadar tepuk tangan basa-basi. Itu adalah suara lega dari keberanian untuk bicara.
Dari kejujuran yang selama ini terpendam. Simposium ini bukan sekadar pertemuan—ia adalah cermin, dan mungkin juga tamparan.
Sebab jika kepemimpinan hanya soal jabatan tanpa pengakuan dan pemahaman, maka organisasi hanya akan bergerak di tempat—lelah, tanpa tujuan.(*)
Penulis Nyardianti Artika Devi Editor Zahrah Khairani Karim






0 Tanggapan
Empty Comments