Kegiatan ibadah Ramadan di Mushollah Al-Jihad Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Giri Gajah, PCM Kebomas terus berlangsung dengan penuh kekhusyukan dan semangat. Pada pelaksanaan salat Tarawih hari ke-5, Sabtu (21/2/2026), terlihat jumlah jamaah masih penuh memadati mushollah untuk melaksanakan ibadah malam dan mengikuti kultum Ramadan.
Pada kesempatan tersebut, yang bertindak sebagai imam sekaligus penceramah adalah Akhmad Mujahidul Authon dari PCPM Gresik Kota Baru (GKB).
Mengawali ceramahnya, Akhmad yang juga sebagai guru PAI SD Mugeb, mengajak seluruh jamaah untuk bersyukur karena masih diberi kesempatan bertemu dengan Ramadan tahun ini. Tidak semua orang yang tahun lalu berjumpa Ramadan, tahun ini masih diberi umur panjang.
Oleh karena itu, kesempatan emas ini hendaknya digunakan untuk memperbanyak amal ibadah, memperbanyak istighfar, dan bersungguh-sungguh dalam bertobat kepada Allah SWT.
Ia menyampaikan sebuah gambaran menyentuh tentang orang-orang yang telah meninggal dunia. Andaikan mereka bisa dihidupkan kembali, tentu mereka akan meminta satu kesempatan saja untuk kembali ke dunia, terutama agar bisa bertemu dengan bulan Ramadan. Mereka ingin beribadah lebih sungguh-sungguh, bersedekah lebih banyak, dan memperbaiki amal yang dahulu mungkin masih kurang.
“Karena itu, jangan sampai kita yang masih hidup justru menyia-nyiakan kesempatan yang sangat berharga ini,” tegasnya.
Hamba yang Bertakwa
Dalam tausiyahnya, Akhmad juga menegaskan bahwa menjadi hamba yang bertakwa sebenarnya tidaklah sulit. Semua telah Allah tetapkan dengan jelas: melaksanakan apa yang diperintahkan dan menjauhi apa yang dilarang. Jika kita mengikuti aturan Allah dengan taat dan ikhlas, maka jalan menuju ketakwaan akan terasa ringan.
Semua harus dimulai dengan kesadaran bahwa hidup ini adalah amanah. Semua harus dilandasi niat yang lurus. Semua harus dilakukan dengan kejujuran dan tanggung jawab.
Ia kemudian menyampaikan sebuah kisah tentang seseorang yang ingin masuk Islam, namun masih memiliki kebiasaan buruk mencuri. Ketika ia menyampaikan kegelisahannya, Rasulullah SAW mengajaknya membuat “kontrak sosial”: ia boleh masuk Islam, tetapi tidak boleh berbohong/ Ngapusi
Akhirnya orang tersebut menerima syarat itu. Setiap kali hendak mencuri, ia teringat bahwa ia tidak boleh berbohong. Jika ia mencuri, maka ketika ditanya ia harus jujur. Rasa malu dan takut itulah yang akhirnya membuatnya meninggalkan kebiasaan mencuri. Dari satu komitmen kejujuran, lahirlah perubahan besar dalam dirinya.
Dari kisah tersebut, Ustadz Akhmad menegaskan pentingnya kejujuran dalam kehidupan sehari-hari. Ramadan adalah madrasah kejujuran—jujur dalam niat, jujur dalam ibadah, dan jujur dalam bermuamalah dengan sesama.
Tiga Langkah Sederhana agar Lulus Madrasah Ramadan
Sebagai penutup ceramahnya, Akhmad menyampaikan tiga langkah sederhana namun penting agar setiap muslim dapat “lulus” dari madrasah Ramadan dan menjadi pribadi yang lebih baik.
Pertama, mulai dari diri sendiri. Menurut beliau, perubahan tidak bisa hanya menuntut orang lain, tetapi harus diawali dari diri. Perbaiki kualitas salat, perbaiki sikap, dan latih kesabaran dalam kehidupan sehari-hari. Hal kecil yang sering terjadi di jalan bisa menjadi contoh.
Saat kondisi macet dan banyak orang tidak sabar membunyikan klakson, kita belajar menahan diri untuk tidak ikut-ikutan. Kesabaran seperti inilah yang menjadi bagian dari pendidikan diri di bulan Ramadan.
Kedua, mulai dari hal kecil. Kebaikan tidak harus menunggu kesempatan besar. Justru kebiasaan sederhana yang dilakukan dengan ikhlas akan membentuk karakter yang kuat. Misalnya, ketika melihat tanaman di depan rumah tetangga yang roboh, kita bantu menegakkannya. Atau saat melihat tanaman yang layu karena kekurangan air, kita tergerak untuk menyiramnya. Kepedulian kecil seperti ini adalah wujud nyata dari akhlak seorang mukmin.
Ketiga, mulai sekarang. Ramadan mengajarkan bahwa waktu adalah kesempatan yang tidak boleh ditunda. Jika ingin berubah, lakukan hari ini. Jika ingin memperbaiki diri dan bertobat, lakukan saat ini juga. Karena tidak ada seorang pun yang mengetahui apakah masih diberi umur panjang untuk bertemu Ramadan di tahun berikutnya.
“Mari kita tanamkan tiga hal ini dalam hati: mulai dari diri sendiri, mulai dari hal kecil, dan mulai sekarang, agar Ramadan benar-benar membawa perubahan dalam hidup kita,” harapnya. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments