
PWMU.CO – “Jangan pernah merasa kecil sebagai pelajar. Kalian ini calon pemimpin peradaban.”
Kalimat pembuka itu menjadi pembakar semangat peserta Konferensi Pimpinan Daerah (KONPIDA) IPM Surabaya 2025 yang digelar Ahad (21/6/25) di SMA Muhammadiyah 3 Surabaya.
M Jemadi SAg MA Wakil Ketua PDM Surabaya, hadir bukan hanya untuk memberikan semangat, tetapi memberi arah ideologis pada perjuangan pelajar Muhammadiyah hari ini.
Bagi pria yang akrab disapa Pak Je ini, pelajar Muhammadiyah bukan sekadar agen regenerasi. Lebih dari itu, mereka adalah pembawa estafet perubahan dan penjaga nilai Islam berkemajuan di tengah pusaran zaman.
Tema besar KONPIDA kali ini “Elaborasi Digdaya: Manunggal Cita dan Asa, Memayu Hayuning Bawana” ia sambut sebagai penanda bahwa pelajar Muhammadiyah telah sampai pada fase kedewasaan berpikir. Bukan lagi sibuk memperkuat identitas diri sendiri, tapi sudah mulai memikirkan kontribusi pada peradaban dunia.
“Digdaya itu bukan hanya kuat otot. Tapi kuat iman, kuat pikir, kuat akhlak, kuat berorganisasi.”
Dengan penekanan itu, Jemadi ingin menegaskan bahwa kekuatan pelajar Muhammadiyah harus bersifat menyeluruh lahir dan batin. Sebab tantangan pelajar hari ini tidak lagi hanya soal nilai akademik, tetapi juga keteguhan iman, ketahanan mental, hingga kecakapan dalam menyikapi era digital.
Dalam pandangannya, gadget dan media sosial bukan musuh, tetapi alat yang harus dikuasai. Ia menyinggung fenomena pelajar yang lebih hafal tren TikTok daripada ayat al-Qur’an bukan untuk menyudutkan, tapi untuk membangkitkan kesadaran: bahwa pelajar Muhammadiyah tidak boleh kalah oleh zaman. Justru harus menjadi pemandu arah bagi teman-teman seusia mereka.
Pak Je juga membawa peserta pada jejak sejarah. Ia menyebut, dari Muhammadiyah lahir pemimpin negeri: Soekarno sebagai Presiden pertama, dan Soeharto yang juga menempuh pendidikan Muhammadiyah. Ini bukan untuk membanggakan masa lalu, tetapi menunjukkan bahwa yang hari ini duduk di forum-forum IPM bisa jadi tokoh besar esok hari asal mau belajar, berjuang, dan menjaga akhlak.
Lebih dari sekadar motivasi, sambutannya menyadarkan peserta bahwa peran kader IPM tidak selesai di ruang rapat. Justru dimulai dari sana -dibawa ke kelas, ke masyarakat, ke layar ponsel, bahkan ke arah masa depan umat-. Maka pelajar harus siap, bukan hanya menjadi pintar, tapi juga menjadi pemimpin yang amanah. (*)
Penulis Erminah Dwi Editor Alfain Jalaluddin Famadlan





0 Tanggapan
Empty Comments