Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Pandu Hizbul Wathan Mengajak Amar Ma’ruf Nahi Munkar

Iklan Landscape Smamda
Pandu Hizbul Wathan Mengajak Amar Ma’ruf Nahi Munkar
Fathurrahim Syuhadi
Oleh : Fathurrahim Syuhadi Ketua Kwarwil HW Jawa Timur
pwmu.co -

Gerakan Pandu Hizbul Wathan (HW) merupakan bagian penting dari Muhammadiyah yang sejak awal dirancang sebagai kawah kaderisasi umat dan bangsa.

HW bukan sekadar aktivitas kepanduan dengan barisan, tanda kecakapan khusus, dan keterampilan survival, tetapi lebih dari itu.

HW adalah gerakan dakwah yang meneguhkan identitas Islam berkemajuan. Landasan utama HW adalah spirit amar makruf nahi munkar.

Allah Swt. berfirman “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali Imran: 110).

Ayat ini menegaskan bahwa keunggulan umat Islam tidak terletak pada jumlah atau kekuatan fisik semata. Tetapi pada kesungguhan mereka dalam menjalankan amar makruf nahi munkar.

Pandu HW dituntut menjadi pelopor dalam hal ini baik di sekolah, kampus, masyarakat, maupun dunia digital.

Rasulullah Saw. memberikan pedoman jelas dalam sabdanya “Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubah dengan tangannya. Jika tidak mampu maka dengan lisannya; dan jika tidak mampu maka dengan hatinya, dan yang demikian itu selemah-lemah iman.” (HR. Muslim).

Hadis ini menekankan tiga level keberanian. Pandu HW harus memilih sikap aktif sesuai kapasitasnya. Jika mampu, cegah dengan tindakan nyata.

Jika belum, gunakan lisan dan dakwah yang bijak. Jika pun terbatas, jangan sampai hati tunduk dan membenarkan kemungkaran.

Panglima Besar Jenderal Soedirman, seorang Pandu Hizbul Wathan yang kemudian menjadi pahlawan nasional memberikan teladan nyata tentang semangat amar makruf nahi munkar.

Beliau berpesan “Jangan sekali-kali meninggalkan kewajiban meskipun satu langkah, meskipun satu tarikan nafas.”

Pesan ini selaras dengan prinsip kepanduan HW: tangguh, setia pada amanah, dan tidak mudah menyerah.

Dalam pidato perjuangannya yang terkenal, beliau juga berkata “Perjuangan kita belum selesai! Kita masih harus terus berjuang. Kita tidak akan menyerah sebelum tetes darah penghabisan, sebelum kemerdekaan bangsa benar-benar kita raih dengan sempurna.”

Semangat ini bukan hanya relevan di masa revolusi fisik, tetapi juga di era kini. Pandu HW harus berjuang melawan penjajahan gaya baru : kemiskinan moral, narkoba, degradasi akhlak, korupsi, serta perpecahan sosial.

Semua itu merupakan “kemungkaran zaman” yang membutuhkan keteguhan sikap.

Di tengah perkembangan teknologi, amar makruf nahi munkar dapat diwujudkan dengan cara sederhana namun berdampak besar.

Mengajak teman untuk menjaga shalat, menebarkan konten positif di media sosial, mencegah penyebaran hoaks, serta aktif mengkampanyekan kepedulian lingkungan.

Pandu HW harus tampil sebagai teladan. Dakwah amar makruf nahi munkar tidak boleh dilakukan dengan wajah marah atau sikap kasar, tetapi dengan kelembutan, kasih sayang, dan ketegasan.

Amar makruf bukan sekadar menyuruh, tetapi juga menginspirasi. Nahi munkar bukan sekadar melarang, tetapi juga memberi jalan keluar.

Dengan meneladani Rasulullah Saw., mengamalkan Al-Qur’an, dan menghidupkan pesan Jenderal Soedirman, Pandu Hizbul Wathan akan selalu relevan di setiap zaman.

Mereka adalah generasi penerus yang siap memimpin dan menginspirasi, menyeru pada kebajikan, menolak kebatilan, serta menegakkan peradaban Islam yang berkemajuan.

Pandu Hizbul Wathan di mana pun dan kapan pun harus menegakkan amar ma’ruf nahi munkar. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu