Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Panggilan untuk Ayah: Hadirlah Sepenuh Jiwa

Iklan Landscape Smamda
Panggilan untuk Ayah: Hadirlah Sepenuh Jiwa
Oleh : Ahmad Afwan Yazid, M.Pd Wakil Kepala SD Muhammadiyah 4 Kota Malang, Praktisi Pendidikan dan Parenting Keluarga
pwmu.co -

Kehadiran seorang ayah di rumah sering kali hanya diukur berdasarkan kemampuannya mencari nafkah.

Padahal, rumah tangga yang kokoh tidak hanya dibangun di atas fondasi materi, tetapi juga di atas fondasi kehadiran jiwa, dukungan emosional, dan bimbingan moral seorang ayah.

Dalam konsep Islam, keluarga adalah pilar peradaban. Jika Ibu sebagai markazus sakinah (pusat ketenangan), maka Ayah adalah markazul amni (pusat rasa aman).

Ketika pusat rasa aman ini kosong atau rapuh, dampak yang ditimbulkan pada anak dan keluarga sangatlah besar.

Ketika ayah tidak hadir

Ketidakhadiran seorang ayah atau figur orang tua/pengasuh yang signifikan dapat memiliki dampak yang mendalam pada perkembangan anak.

Peran pengasuhan yang konsisten dan suportif dari kedua orang tua (atau figur pengasuh utama) penting untuk pertumbuhan yang sehat.

1. Kehilangan arah moral: Anak, terutama remaja laki-laki, kehilangan kompas moral utama.

Mereka akhirnya meniru apa saja yang menarik di media sosial atau lingkungan luar yang belum tentu benar, karena tidak ada figur kuat yang menanamkan nilai-nilai kebenaran dan tanggung jawab.

2. Krisis rasa aman anak perempuan: Anak perempuan yang kehilangan rasa aman dari ayahnya seringkali mencarinya di luar rumah dan pada usia muda.

Ayah menjadi standar pertama bagi anak perempuan tentang bagaimana seharusnya seorang laki-laki memperlakukan wanita.

3. Ibu menanggung beban ganda: Ketika Ayah absen, ibu menanggung beban yang luar biasa berat.

Ia tidak hanya mengurus rumah, tetapi juga harus mengajar, menasihati, dan memikul tanggung jawab emosional anak sendirian.

Ini menciptakan kelelahan fisik dan mental yang besar pada pihak Ibu.

Iklan Landscape UM SURABAYA

4. Krisis moral generasi: Harus kita sadari, krisis moral generasi hari ini bukan hanya karena lemahnya sekolah, tetapi juga karena kurangnya figur ayah di rumah.

Pendidikan terbaik selalu dimulai dari keteladanan ayah dan ibu.

Rasulullah SAW sebagai figur ayah 

Ayah harus sadar posisi dan memahami perannya yang ditetapkan Allah sebagai qawwam (pemimpin) dalam keluarga (QS Surah An-Nisa ayat 34).

Peran qawwam bukan berarti otoriter, tetapi mengandung empat variabel tanggung jawab yang integral:

  1. Himayah (perlindungan): Memberikan perlindungan fisik dan non-fisik (dari bahaya lingkungan, digital, dan moral).
  2. Riayah (pengasuhan): Aktif terlibat dalam mendidik dan membimbing anak, bukan hanya menyerahkan sepenuhnya kepada ibu atau sekolah.
  3. Wilayah (kepemimpinan): Menjadi penentu keputusan strategis keluarga, penasihat, dan teladan utama.
  4. Al-Kifayah (pencukupan): Menanggung nafkah dan memastikan kebutuhan anak terpenuhi secara halal, disertai sikap merasa cukup dan transparansi keuangan agar Ibu dapat mengelola kebutuhan dengan baik.

Teladan terbaik Ayah yang hadir adalah Rasulullah SAW. Meskipun beliau menanggung beban kenabian, kepemimpinan umat, dan tugas negara, beliau tetap seorang ayah yang hadir sepenuh jiwa di tengah anak-anaknya.

Teladan terbaik bagi para ayah adalah Rasulullah SAW. Meskipun mengemban beban kenabian, kepemimpinan umat, dan tugas negara, beliau tetap seorang ayah yang hadir sepenuh jiwa di tengah keluarganya.

Rasulullah SAW mendidik anak-anaknya dengan hati dan tindakan. Kehadiran beliau bukan sekadar fisik, melainkan kehadiran emosional (emotional presence) yang utuh.

Beliau menunjukkan nilai-nilai kehadiran ayah melalui tindakan nyata:

  • Kasih Sayang dan Perhatian: Seorang ayah harus menunjukkan cinta secara verbal dan fisik, tidak hanya melalui pemberian nafkah. Nabi Muhammad SAW sering mencium cucunya dan bermain bersama anak-anaknya, menunjukkan afeksi yang jelas.
  • Dialog dan Nasihat Bijak: Beliau memanfaatkan setiap momen, seperti waktu makan atau saat dalam perjalanan, untuk berdialog, mendengarkan, dan memberikan nasihat bijak yang menyentuh hati.
Delapan dimensi kehadiran ayah dalam pendidikan anak

Untuk menjadi Ayah yang qawwam sejati, kehadirannya harus menyangkut 8 hal:

  1. Kehadiran spiritual (ruhiyah): menanamkan nilai iman, ibadah, dan akhlak dengan teladan dan bimbingan rohani (misalnya, mengajak shalat berjamaah).
  2. Kehadiran intelektual (aqliyah): menuntun anak berpikir kritis, mencintai ilmu, dan mengenal hikmah kehidupan, seperti mendiskusikan pelajaran sekolah atau ilmu pengetahuan.
  3. Kehadiran emosional (‘athifiyah): hadir dengan hati, mendengar aktif, memahami, dan menenangkan anak saat ia sedang sedih, marah, atau takut.
  4. Kehadiran material (maddiyah): menanggung nafkah dan memastikan kebutuhan anak terpenuhi secara halal dan bermartabat.
  5. Kehadiran sosial (ijtima’iyah): menanamkan nilai tanggung jawab sosial, empati, dan adab bermasyarakat, misalnya mengajak anak menjenguk tetangga sakit.
  6. Kehadiran moral dan akhlak (adabiyyah): menjadi contoh nyata dalam kejujuran, disiplin, tanggung jawab, dan amanah dalam setiap tindakan sehari-hari.
  7. Kehadiran psikologis (nafsiyyah): menciptakan rasa aman, stabilitas, dan keyakinan diri pada anak, sehingga anak merasa berharga dan terlindungi di rumah.
  8. Kehadiran digital (tiknulujiyyah raqmīyah): menjadi pandu dan pelindung anak di dunia digital dan media sosial, mengajarkan literasi digital, dan menetapkan batasan yang bijak.

Ayah, panggillah namamu, hadirkan jiwamu! Kehadiranmu lebih dari sekadar uang, tapi merupakan fondasi rasa aman, kompas moral, dan kunci keberhasilan generasi yang akan datang.

Selamat hari Ayah untuk para Ayah dimanapun berada, 12 November 2025.***

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu