Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Paradoks Negeri Paling Santai

Iklan Landscape Smamda
Paradoks Negeri Paling Santai
Paradoks Negeri Paling Santai. Foto: Ilustrasi
Oleh : . Ainul Yaqin Ahsan, M. Pd. Wakabid. Dakwah PCPM Rungkut
pwmu.co -

​Di sudut jalan yang berdebu, seorang tukang becak tertawa lepas saat skakmat terjadi di papan caturnya, meski seharian tidak ada yang meminta jasanya. Di tempat lain, seorang ayah mendorong gerobak sampah, sedang bercanda dengan dua anaknya yang berada diatas gerobak, tertawa riang seolah sedang menaiki kereta kencana.

Pemandangan ini adalah potret mayoritas keseharian Indonesia, tentu masih banyak contoh lainnya yang serupa. Sebuah anomali di mana kebahagiaan tampaknya tidak berbanding lurus dengan angka di rekening bank.

Fenomena ini menarik untuk dibedah. Bagaimana mungkin sebuah bangsa yang secara statistik ekonomi masih berjuang, justru dinobatkan sebagai negara “paling santai” di dunia? Apakah ini bentuk ketahanan mental yang luar biasa atau justru sebuah bius sosial yang melenakan kita dari realitas kemiskinan struktural?

​Mari bicara data. Pada tahun 2019, riset dari agen perjalanan asal Inggris, Lastminute.com, menobatkan Indonesia sebagai “Most Chilled Out Country in The World” (Negara Paling Santai di Dunia). Indikatornya meliputi jumlah hari libur, lingkungan dan budaya masyarakatnya.

​Namun, data Badan Pusat Statistik (BPS) per Maret 2024 menunjukkan realitas yang kontras. Tingkat kemiskinan Indonesia berada di angka 9,03% (sekitar 25,22 juta jiwa). Sebentar, angka ini menipu. Menurut Bank Dunia, jika kita menaikkan sedikit saja garis kemiskinan ke standar Lower Middle Income Class, jumlah warga yang “rentan miskin” melonjak drastis. Artinya, jutaan orang Indonesia hidup “hanya satu sakit parah” atau “satu PHK” jauhnya dari jurang kemiskinan.

​Logika ekonomi konvensional mengatakan: kemiskinan melahirkan stres, kriminalitas, dan depresi. Namun, di Indonesia, tukang becak dan pendorong gerobak tadi mematahkan kurva tersebut. Mengapa?

​”Santai” Sebagai Mekanisme Pertahanan (Coping Mechanism)

​Secara sosiologis dan psikologis, sikap “santai” warga kelas bawah Indonesia bukanlah bentuk kemalasan, melainkan sebuah mekanisme pertahanan diri (coping mechanism).

Dalam ​Psikologi menyebutnya sebagai Hedonic Adaptation. Ketika seseorang hidup dalam kesulitan yang konstan (kemiskinan struktural), otak manusia beradaptasi dengan menurunkan ekspektasi kebahagiaan. Bagi pendorong gerobak tadi, kebahagiaan bukan mobil mewah, melainkan bisa makan hari ini dan melihat anaknya tertawa.

​Sikap nrimo (menerima) dalam budaya Jawa atau konsep serupa di suku lain, menjadi bantalan sosial (social cushion) yang meredam ledakan konflik kelas. Jika warga miskin Indonesia memiliki tingkat stres yang sama dengan warga miskin di Eropa atau Amerika, mungkin negara ini sudah terbakar kerusuhan sosial setiap hari. “Santai” adalah cara rakyat kecil menjaga kewarasan di tengah himpitan ekonomi yang mencekik.

​Perspektif Teologis: Batas Tipis Antara Qana’ah dan Jabariyah
​Dalam perspektif Islam, fenomena ini bisa dilihat dari dua lensa: Qana’ah (merasa cukup) atau Jabariyah (fatalisme/pasrah total).

​Tukang becak yang murah senyum dan membantu orang menyeberang meski pendapatannya minim, mungkin sedang mempraktikkan Qana’ah yang merupakan puncak kekayaan jiwa. Nabi Muhammad SAW bersabda:

Iklan Landscape UM SURABAYA

“Kekayaan bukanlah banyaknya harta benda, akan tetapi kekayaan yang hakiki adalah kekayaan jiwa.” (HR. Bukhari dan Muslim).

​Sikap ini juga merupakan manifestasi dari janji Allah dalam QS. Ibrahim ayat 7:

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu…”

​Senyum mereka adalah bentuk syukur yang menjaga kesehatan mental mereka. Namun, ada bahaya laten jika sikap “santai” ini tergelincir menjadi paham Jabariyah, yaitu paham bahwa manusia tidak punya daya upaya dan menyerahkan nasib sepenuhnya pada takdir tanpa usaha perbaikan.

​Jika kemiskinan diterima sebagai “takdir mutlak” sehingga menghilangkan etos kerja keras dan tuntutan akan keadilan sosial, maka “santai” menjadi racun. Islam sangat keras menolak kemiskinan yang membelenggu akidah. QS. Ar-Ra’d ayat 11 menjadi pengingat logis yang kuat:

“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”

​Romantisme yang Harus Diwaspadai

​Melihat tukang becak dan pemulung yang tertawa adalah pemandangan yang mengharukan sekaligus menampar. Kita harus mengapresiasi ketangguhan mental mereka, bahwa kebahagiaan mereka tidak disandera oleh materi. Bentuk kekuatan spiritual bangsa ini.

​Namun, sebagai sebuah opini kritis, kita tidak boleh terjebak meromantisasi kemiskinan. Jangan sampai narasi “orang Indonesia itu ramah dan santai” menjadi pembenaran bagi negara untuk abai terhadap kesejahteraan.

​Mereka tetap santai dan tertawa bukan karena mereka tidak butuh uang, tetapi karena mereka telah memenangkan pertarungan melawan kepahitan hidup. Tugas kita (dan negara) adalah memastikan bahwa di balik tawa renyah di atas becak dan gerobak itu, ada jaminan kesehatan, pendidikan, dan akses ekonomi yang layak. Agar “santai” mereka bukan lagi sebuah pelarian, melainkan buah dari kesejahteraan yang nyata.

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu