
PWMU.CO – SD Muhammadiyah 1 Krian (SD Sakri) Sidoarjo menghadirkan narasumber profesional dalam bidang penanganan emosional anak dalam acara Parenting Akbar yang digelar di Raflesia Ballroom Hotel Fave Sidoarjo, Sabtu (19/7/2025). Acara ini dihadiri hampir 600 peserta yang terdiri dari wali murid, guru, dan karyawan SD Sakri.
Perpaduan warna ungu khas hotel menambah kesan elegan pada ruangan. Dalam sambutannya, Kepala SD Sakri, Arum Ndalu SPd MPd, menyampaikan pemahamannya tentang tantangan yang dihadapi orang tua masa kini. “Orang tua harus bekerja sekaligus mengurus anak,” ujarnya.
Kegiatan ini juga dirangkai dengan peluncuran buku karya siswa. Kepala sekolah berharap kegiatan ini dapat memperkuat hubungan emosional antara orang tua dan anak.
Parenting Akbar ini menghadirkan Aniqq Al Faqiroh SPsi CH CHt, seorang professional therapist. Dalam paparannya bertema Seni Mengelola Emosi Anak, ia menekankan pentingnya refleksi diri bagi orang tua. “Perjalanan menjadi orang tua adalah perjalanan mendidik diri sendiri,” tegasnya.
Ia mengajak peserta merenung melalui pertanyaan-pertanyaan mendalam: “Apakah kita sudah menjadi orang tua yang sholeh dan sholehah? Apakah kita termasuk orang tua yang dirindukan anak? Bagaimana anak bisa belajar tenang jika orang tuanya sendiri tidak tenang?”
Bunda Aniqq, sapaan akrabnya, menyampaikan bahwa semua luka batin berasal dari rumah, dan support system terbaik juga berasal dari rumah. Perilaku anak yang tidak baik seringkali mencerminkan luka yang belum terselesaikan. “Efek dari kemarahan bisa sangat merusak otak,” jelasnya.
Menurutnya, tidak ada anak yang ingin dimarahi. Anak yang merasa dicintai akan tumbuh percaya diri dan tidak mudah merasa insecure. Proses mendidik anak sebenarnya hanya berlangsung sampai usia 14 tahun. Dalam rumah tangga, ayah berperan sebagai kepala sekolah, sedangkan ibu adalah jantungnya. Keduanya memiliki peran yang sangat penting.
Ia juga menekankan bahwa mendidik anak adalah proses panjang yang menuntut pembelajaran terus-menerus. “Dalam mendidik anak pasti ada ketidaksempurnaan, namun jika terus belajar, maka akan terus membaik,” ujarnya.
Di rumah, bentuk bullying bisa muncul dari ungkapan sederhana seperti, “Kalau tidak bisa, berarti bukan anak Mama.” Padahal, setiap anak sejatinya ingin memberikan yang terbaik dan tidak berniat mengecewakan orang tua.
Bunda Aniqq mengajak semua peserta untuk terus berikhtiar mendidik anak, karena anak adalah investasi dunia dan akhirat. Ia menjelaskan berbagai bentuk luka batin yang bisa muncul:
- Pengkhianatan
- Penolakan
- Pengabaian
- Pertengkaran terus-menerus
- Pelecehan
- Dipermalukan
- Direndahkan
- Ketidakadilan
- Kehilangan
“Dengan mengenali jenis luka ini, kita akan lebih mudah mengobatinya,” tambahnya. Ia menegaskan bahwa setiap anak lahir dengan fitrah yang baik dan memiliki potensi yang dititipkan oleh Allah Swt. Tidak ada anak yang bodoh, hanya saja kadang orang tua belum menempatkan anak pada posisi yang tepat.
Efek dari luka batin sangat beragam, mulai dari insomnia, psikosomatis, menarik diri, merasa tidak aman, tidak dewasa, overthinking, cemas berlebihan, hingga lemahnya batasan personal (personal boundaries).
Luka lama yang tidak disembuhkan akan berpotensi menimbulkan luka baru di fase kehidupan berikutnya. Emosi yang muncul adalah reaksi psikologis dan fisiologis, serta bagian dari cara berpikir, bertindak, dan berinteraksi.
“Emosi adalah pemberian Allah Swt. Ia berfungsi sebagai motivasi, adaptasi, komunikasi, dan perlindungan diri. Emosi adalah komunikasi diri,” jelasnya.
Ia membedakan antara emosi dasar dan emosi sekunder. Menurutnya, emosi hadir bukan untuk melukai kita. Jika terjadi respons yang keliru, hal itu sering disebabkan oleh emosi lama yang belum terselesaikan.
“Orang yang tidak bisa mencintai orang lain adalah orang yang belum bisa mencintai dirinya sendiri,” ujarnya. Jika mulai merasa lelah dan emosi, istirahatlah sejenak agar bisa kembali menghadapi permasalahan dengan lebih jernih. “So, just relax,” pesannya kepada seluruh peserta. (*)
Penulis Sri Kasmuni Editor Wildan Nanda Rahmatullah






0 Tanggapan
Empty Comments