MTs Muhammadiyah 10 Mojopetung (Matsamuluh) Pondok Pesantren Ulul Albab Kabupaten Gresik menggelar acara parenting bersama wali murid pada Kamis (4/9/2025).
Kegiatan ini berlangsung di Aula KH Ahmad Dahlan Mojopetung, yang menjadi lokasi strategis untuk pertemuan dan penyelenggaraan acara. Pada kesempatan tersebut, parenting mengusung tema “Anak Hebat Karena Orang Tua Terlibat.”
Hampir seluruh wali murid MTs Muhammadiyah 10 dan Pondok Pesantren Ulul Albab hadir, mencerminkan tingginya kesadaran orang tua akan pentingnya keterlibatan dalam pendidikan anak.
Dalam kegiatan ini, Kepala MTs Muhammadiyah 10 Mojopetung tidak hanya melakukan sosialisasi program, tetapi juga menghadirkan narasumber untuk mengisi agenda parenting tentang pola pengasuhan.
Salah satu dosen Universitas Muhammadiyah Surabaya, Ustadz Drs Najib Sulhan MA, menjadi narasumber dalam kegiatan ini dengan menyampaikan materi bertema “Anak Hebat karena Orang Tua Terlibat.” Harapannya, para orang tua dapat memahami cara mendidik anak sesuai dengan tuntunan al-Quran.
Sebelumnya, penanggung jawab kegiatan parenting, Drs Zakariya, telah merencanakan dan mengundang narasumber sejak tiga bulan lalu. Ia yang merupakan sahabat karib narasumber semasa kuliah di Universitas Muhammadiyah Surabaya merasa bersyukur acara ini akhirnya dapat terlaksana pada hari ini.
Kegiatan dimulai pukul 08.00 WIB dan dibuka oleh Kepala MTs Muhammadiyah 10 Mojopetung, Indah Faizah SPdI.
Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa acara tersebut menjadi momen penting untuk meningkatkan kesadaran peran orang tua dalam pendidikan anak.
“Acara ini merupakan kesempatan yang sangat baik bagi kita untuk membahas dan meningkatkan kesadaran tentang pentingnya peran orang tua dalam pendidikan anak-anak.” ujarnya.
Ia meyakini bahwa pendidikan anak bukan hanya tanggung jawab sekolah, tetapi juga orang tua, sehingga melalui kerja sama dan komunikasi yang baik dapat tercipta lingkungan kondusif bagi anak untuk belajar dan berkembang.
“Saya meyakini bahwa pendidikan anak-anak bukan hanya menjadi tanggung jawab sekolah, tetapi juga orang tua. Melalui kerja sama dan komunikasi yang baik antara sekolah dan orang tua, kita dapat menciptakan lingkungan yang kondusif bagi anak-anak untuk belajar dan berkembang” tuturnya.
Ia juga berharap agar acara ini dapat menjadi wadah yang efektif untuk saling berbagi pengetahuan, pengalaman, dan gagasan tentang upaya meningkatkan kualitas pendidikan anak-anak.
“Semoga kegiatan ini juga dapat menginspirasi kita semua untuk menjadi orang tua yang lebih peduli dan aktif terlibat dalam pendidikan mereka” ungkapnya.
Untuk memulai materi, Najib Sulhan mengisahkan masa kecilnya. Ayahnya bekerja sebagai marbot Masjid Dakwah di Embong Malang, sementara ibunya berjualan nasi kerupuk di desa.
“Setiap kali menerima rapor, saya tidak bisa mengambilnya tepat waktu karena SPP belum lunas. Saat itu saya hanya bisa duduk termenung di ruang tamu. Ibu yang melihat saya bersedih kemudian menjual hewan peliharaan di belakang rumah, seperti bebek, menthok, dan ayam, meski dengan harga murah. Karena masih belum cukup untuk melunasi SPP, ibu akhirnya meminjam uang kepada tetangga,” tuturnya dengan mata berkaca-kaca mengenang masa lalu.
Najib Sulhan menegaskan bahwa keterlibatan orang tua tercermin dari perhatian penuh terhadap pendidikan anak. Kendati masalah finansial kerap menjadi kendala, menurutnya hal terpenting adalah doa.
“Sesungguhnya puncak dari agenda parenting adalah doa. Jika orang tua senantiasa membaluri anak-anaknya dengan doa, maka mereka akan tetap tegar dalam menempuh perjuangan mencari ilmu,” ungkapnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa anak adalah investasi abadi. Anak bukan sekadar titipan di dunia, tetapi juga aset yang hasilnya akan terus mengalir kepada orang tua bahkan setelah meninggal dunia, sebagai amal jariyah, baik dalam bentuk kebaikan maupun keburukan.
Dua Faktor Utama yang membentuk Anak
Ia menyampaikan bahwa ada dua faktor utama yang membentuk anak:
1. Modalitas (Potensi Bawaan): Karunia dasar yang Allah berikan kepada setiap anak sejak lahir, yakni:
• Berakal (QS. ali ‘Imran: 190–194): Kemampuan untuk berpikir dan memahami.
• Fitrah (QS. ar-Rum: 30; Al-A’raf: 172): Kecenderungan alami untuk beriman kepada Allah dan berbuat baik.
• Cerdas (QS. an-Nahl: 78): Potensi kecerdasan dan kemampuan untuk belajar yang Allah berikan melalui pendengaran, penglihatan, dan hati.
2. Orang Tua Terlibat. Faktor eksternal yang paling krusial, yakni peran aktif orang tua dalam mendidik, membimbing, dan memberi teladan.
Sifat Dasar Manusia (QS. asy-Syams: 8-10). Kedua faktor di atas akan memengaruhi sifat dasar anak. Dalam Surat asy-Syams ayat 8-10, Allah telah mengilhamkan kepada jiwa manusia dua jalan yang berlawanan:
1. Fujur: Jalan kefasikan, keburukan, dan kedurhakaan.
2. Taqwa: Jalan ketakwaan, kebaikan, dan ketaatan.
Keterlibatan orang tualah yang akan menentukan ke arah mana kecenderungan anak lebih dominan.
Dari sifat dasar tersebut, muncul dua kemungkinan hasil “investasi” bagi orang tua:
1. Jalur Fujur (Jika Orang Tua Lalai)
Tanpa bimbingan yang benar, anak bisa menjadi:
- Hiasan (QS. al-Kahf: 46)
Anak hanya menjadi kebanggaan duniawi yang melalaikan. - Fitnah (QS. at-Taghabun: 15) Anak menjadi ujian berat yang dapat menjerumuskan orang tua.
- Musuh (QS. at-Taghabun: 14) Anak bisa menjadi penentang atau penyebab kesusahan bagi orang tuanya.
2. Jalur Taqwa (Jika Orang Tua Terlibat Aktif)
Dengan bimbingan penuh ketakwaan, anak akan menjadi:
• Anak Penyejuk Mata (Qurrata A’yun) (QS. al-Furqan: 74)
Anak yang shaleh, menenangkan hati, dan menjadi kebahagiaan sejati bagi orang tuanya di dunia maupun akhirat.
• Anak yang Kuat Iman dan Karakter (QS. an-Nisa: 9)
Ayat ini mengingatkan agar jangan sampai meninggalkan keturunan yang lemah, baik dalam iman, ekonomi, maupun karakter. Hasil ini hanya dapat dicapai melalui didikan yang berlandaskan ketakwaan.
Makna ini menjadi pengingat sekaligus panduan bagi para orang tua. Setiap anak dilahirkan dengan potensi luar biasa dari Allah seperti akal, fitrah, dan kecerdasan, yang perlu diasah serta diarahkan.
Keterlibatan aktif orang tua dalam pendidikan agama dan pembentukan karakter merupakan kunci untuk menuntun anak ke jalan takwa, sehingga mereka menjadi “investasi abadi” yang menghadirkan kebahagiaan (penyejuk mata) di dunia dan pahala yang terus mengalir di akhirat.
Sebaliknya, kelalaian orang tua dapat membuat anak tergelincir ke jalan fujur, yang pada akhirnya justru menjadi beban dan sumber kesusahan (fitnah atau musuh).
“Jika ingin anak-anaknya hebat, orang tua harus terlibat,” pesan Najib Sulhan mengakhiri materinya.
Setelah penyampaian materi, kegiatan dilanjutkan dengan sesi diskusi interaktif. Para orang tua tampak antusias mengajukan pertanyaan seputar pola pengasuhan anak.
Acara ditutup pada pukul 11.00 WIB dengan harapan kegiatan ini dapat mempererat hubungan antara sekolah dan keluarga, sekaligus menjadi bekal bagi orang tua untuk terus terlibat secara positif dalam perkembangan anak.
Usai parenting bersama wali murid, kegiatan dilanjutkan dengan sesi sharing interaktif bersama guru dan ustadz mengenai kiat sukses PPDB/SPMB 2026/2027, dengan tujuan mewujudkan sekolah yang unggul dan berdaya tarik.
Seluruh rangkaian acara berakhir pada pukul 13.00 WIB dan ditutup dengan foto bersama, pembagian buku serta ramah tamah. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments