Selain itu, prinsip utama dalam pengasuhan anak:
- Anak harus diperlakukan dengan cinta dan kasih sayang, penghargaan, dan saling memaafkan. Bebas dari tindakan kekerasan. Kesalahan dijadikan pelajaran yang berharga, dan tidak dibeda-bedakan.
- Menyediakan lingkungan yang aman, nyaman, dan menyenangkan bagi tumbuh kembang anak, dengan cara menjaga keharmonisan keluarga, memenuhi kebutuhan anak, melakukan stimulasi/pendidikan sesuai taraf kembang anak, dan memberikan perlindungan dari tindakan kekerasan.
“Kemudian, apa peran orang tua dalam pengasuhan dan pendidikan anak?” kata Agus di hadapan seluruh peserta.
- Memenuhi kebutuhan anak akan makanan bergizi dan kesehatan.
- Menanamkan nilai-nilai agama dan moral dalam kehidupan.
- Membangun kelekatan emosional dengan anak sebagai dasar keterampilan bersosialisasi.
- Memenuhi kebutuhan atas kasih sayang, perhatian, dan rasa aman.
- Menumbuhkan perilaku saling menghargai, menyayangi, toleransi, cinta kasih, kerja sama, tanggung jawab, dan kesederhanaan.
- Mengajarkan cara menyelesaikan masalah, konflik yang dihadapi, serta mengambil keputusan.
“Bagaimana cara pengasuhan positif, Bapak dan Ibu semua?” imbuh Agus sambil menunjuk salah satu peserta yang membawa anaknya ikut parenting.
Ia menjelaskan bahwa pola pengasuhan positif dapat dilakukan melalui keteladanan, konsistensi, pembiasaan, komunikasi yang positif, disiplin positif, serta tanpa kekerasan. Demikian pula, bagaimana membangun komunikasi efektif dengan anak?
- Memberi kesempatan pada anak agar bicara lebih banyak.
- Mendengar aktif.
- Berkomunikasi dengan posisi tubuh sejajar dengan anak dan melakukan kontak mata.
- Berbicara dengan jelas dan singkat agar anak mengerti.
- Gunakan bahasa (kata-kata) yang positif (hindari kata yang menyakitkan).
- Merefleksikan/memantulkan perasaan dan arti yang disampaikan.
Sekarang, apa penghalang komunikasi? Hal itu di antaranya: menyalahkan, meremehkan, memberi perintah, berceramah, mengomel, memberi label, mengejek, membandingkan, dan menyindir.
Kemudian, ia juga menjelaskan how to be smart parents for the digital era melalui tiga tahap utama ini.
- Bersikap antusias terhadap berbagai hal yang berkaitan dengan dunia digital anak.
- Bukan hanya memberikan fasilitas gadget, tetapi mendampingi anak dalam mengaksesnya, terutama saat anak memasuki usia remaja.
- Membekali anak agar bisa bertahan (survive) di masa depan melalui berbagai informasi yang tersedia di internet, dan seterusnya.
“Terakhir, Bapak dan Ibu sekalian, mari kita pahami dan amalkan pesan sahabat Nabi Ali bin Abi Thalib. Sebuah pesan populer dari Ali bin Abi Thalib RA: Didiklah anak-anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup bukan di zamanmu,” tandasnya.
“Bahwa orang tua tidak harus selalunya memberikan pola asuh sesuai dengan era anak atau zaman. Akan tetapi, orang tua perlu memetakan baik buruknya di setiap zamannya, manfaatnya atau ancamannya,” tuturnya sambil tersenyum berpamitan.
Penulis Ali Shodiqin Editor Zahra Putri Pratiwig






0 Tanggapan
Empty Comments