Transformasi urban di Surabaya Barat bergerak sangat cepat. Di tengah pertumbuhan perumahan modern dan gedung tinggi, persoalan klasik tata kota masih bertahan: keberadaan pasar tradisional. Pasar Sukomanunggal kini menjadi titik krusial antara kebutuhan ekonomi rakyat dan penataan ruang kota.
Penertiban lahan seluas lebih dari 4.000 meter persegi oleh Pemerintah Kota Surabaya bukan sekadar tindakan administratif. Ini adalah alarm keras tentang masa depan pasar tradisional di tengah ancaman alih fungsi lahan.
Kekhawatiran terbesar pedagang adalah perubahan pasar menjadi pusat perbelanjaan modern. Pengalaman Pasar Kaza menunjukkan bahwa transformasi menjadi mal sering diikuti kenaikan biaya sewa dan hilangnya akses bagi pedagang kecil.
Konsep drive-thru market yang diusulkan menjadi solusi alternatif. Alih-alih membangun gedung tertutup, pasar tetap dipertahankan sebagai ruang terbuka dengan sistem sirkulasi modern yang efisien.
Pendekatan ini memungkinkan pasar tetap hidup sebagai ruang ekonomi rakyat, tanpa mengorbankan pedagang demi komersialisasi eksklusif.
Inspirasi konsep ini datang dari Pasar Terapung Samarinda yang mengedepankan mobilitas pembeli.
Jika di sungai menggunakan perahu, maka di kota kendaraan menjadi “perahu” baru. Dengan jalur satu arah, pembeli dapat mengakses lapak melalui service window tanpa harus parkir lama.
Dengan jumlah pedagang sekitar 150–200 orang—mayoritas sektor pangan basah—model ini menjaga aksesibilitas tanpa menimbulkan kemacetan di jalan utama.
Pasar Sukomanunggal perlu diatur dalam dua fase operasional:
- Pagi (04.00–09.00): Pasar segar kebutuhan dapur
- Sore–malam: Kuliner dan UMKM
Di antara dua fase tersebut, dilakukan jeda logistik untuk menjaga kebersihan dan ketertiban.
Transformasi ini juga membuka peluang peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui digitalisasi retribusi. Sistem pembayaran non-tunai akan meningkatkan transparansi dan mengurangi potensi kebocoran.
Konsep “Pasar Apung Aspal” bukan sekadar inovasi teknis, tetapi pendekatan humanis dalam tata kota.
Pasar tidak hanya menjadi ruang transaksi, tetapi juga ruang sosial yang menjaga kedekatan antara masyarakat dengan sumber pangan.
Surabaya tidak kekurangan pusat perbelanjaan modern. Yang dibutuhkan adalah pasar tradisional yang tetap hangat, namun tertata dan adaptif terhadap zaman.
Pasar Sukomanunggal memiliki peluang menjadi pilot project nasional dalam penataan pasar tradisional modern berbasis kearifan lokal.
Momentum ini harus dimanfaatkan oleh Pemerintah Kota Surabaya dan PD Pasar Surya untuk membuktikan bahwa kemajuan kota tidak harus mengorbankan ekonomi rakyat.
Kemajuan sejati adalah ketika modernisasi berjalan seiring dengan keberlanjutan dan keadilan sosial.





0 Tanggapan
Empty Comments