Pimpinan Cabang Aisyiyah (PCA) Jabung, Kabupaten Malang menggelar Musyawarah Pimpinan Cabang (Muspimcab) I di Masjid Aisyah Radhiyallahu ‘Anha Kabupaten Malang pada Sabtu (31/1/2026).
Kegiatan ini dihadiri oleh pimpinan ranting se-Kecamatan Jabung serta PCA Jabung. Adapun tema yang diusung dalam Muspimcab I Jabung ini adalah “Dinamisasi Perempuan Berkemajuan”.
Ketua PCA Jabung, Iis Nurul Jannati, menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya Muspimcab I tersebut.
“Saya berharap PCA Jabung dapat terus menjadi sumber inspirasi, khususnya bagi BKMM Cabang Jabung melalui program Ahad Berkah. Program tersebut dinilai mampu memberikan dampak positif sehingga BKMM Cabang Jabung berkeinginan untuk mempelajari pelaksanaannya agar seluruh masjid di wilayah Jabung dapat mengadakan kegiatan serupa,” harapnya.
Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) Kabupaten Malang yang diwakili oleh Suprapti mengapresiasi pelaksanaan Muspimcab I Jabung yang telah berjalan dengan baik. Ia menilai laporan kegiatan disusun dengan rapi, serta hampir seluruh program kerja telah terlaksana.
Ke depan, program-program tersebut diharapkan dapat terus dilanjutkan agar manfaatnya semakin dirasakan oleh masyarakat Jabung.
Dalam sambutannya, Suprapti menyampaikan tujuh karakter Risalah Perempuan Berkemajuan. Karakter pertama adalah iman dan takwa, yaitu memiliki keyakinan yang kuat kepada Allah SWT sebagai landasan utama.
“Ketika keimanan dan ketakwaan tertanam dengan baik, hal tersebut akan mendorong ketaatan dalam beribadah kepada Allah SWT. Oleh karena itu, susunan tujuh karakter Perempuan Berkemajuan ini bersifat mendasar dan tidak dapat dibolak-balik,” ujarnya.
Karakter kedua, lanjutnya, adalah taat beribadah, yaitu melaksanakan ibadah wajib maupun sunah dengan benar sebagai wujud keimanan yang kuat. Ketika iman dan takwa melahirkan ketaatan kepada Allah SWT, hal tersebut akan membentuk akhlak karimah, yakni berbudi pekerti luhur dan berakhlak mulia dalam setiap interaksi. Akhlak yang baik ini kemudian mendorong lahirnya pola pikir tajdid, yaitu cara berpikir yang maju, dinamis, kreatif, inovatif, serta terbuka terhadap pembaruan.
Karakter selanjutnya adalah bersikap wasatiyah, yakni bersikap moderat, berada di tengah, tidak ekstrem, serta mampu menyeimbangkan nilai-nilai agama dengan ilmu pengetahuan. Rangkaian sikap dan karakter tersebut pada akhirnya akan melahirkan amal saleh.
“Amaliah shalihah yang dimaksud adalah melakukan amal saleh yang memberikan manfaat, baik bagi diri sendiri, keluarga, maupun masyarakat. Tidak dibenarkan jika seseorang hanya berfokus pada kesalehan pribadi sementara lingkungan sekitarnya diabaikan. Oleh karena itu, setiap individu dituntut untuk tidak hanya menyalehkan diri sendiri, tetapi juga berupaya menyalehkan keluarga dan lingkungan sekitar, agar bersama-sama meraih surga Allah SWT,” tuturnya.
Selanjutnya, menurut Suprapti, karakter terakhir adalah bersikap inklusif, yaitu memiliki rasa empati, kasih sayang, serta kesediaan untuk menerima, merangkul, dan melayani kelompok yang terpinggirkan, termasuk difabel.
Seluruh karakter tersebut saling berkaitan dan saling menguatkan, dengan tujuan agar perempuan mampu berkontribusi secara aktif dalam mewujudkan peradaban utama, yakni baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments