
PWMU.CO – Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Gubeng melaksanakan kajian rutin Ahad pagi setiap Ahad pertama bertempat di Masjid Jenderal Sudirman pada tanggal 6 Juli 2025 M bertepatan dengan 11 Muharram 1447 H.
Pada kesempatan kali ini, PCM Gubeng mengambil tema kajian yaitu “Resolusi Pendidikan Muhammadiyah Membangun Generasi Berperadaban”. Staf Ahli Kemendikbud Ristek RI dan Sekretaris PWM Jawa Timur, Prof Dr H Biyanto MAg berkesempatan menjadi narasumber pada acara rutinan tersebut.
Pada tema kajian tersebut, Prof Biyanto menyoroti bahwa pendidikan adalah kunci utama dalam membangun peradaban suatu bangsa, sebagaimana perjuangan Kyai Dahlan yang menekankan pendidikan terlebih dahulu sebelum membentuk organisasi.
Mengapa Pendidikan Harus Baik
Prof Biyanto mengajak para hadirin yang datang untuk merefleksikan kembali bahwa Kyai Ahmad Dahlan sebelum mendirikan Muhammadiyah, terlebih dahulu memfokuskan peradaban bangsa pada pendidikan.
“Kalau mengutip dan merefleksikan kembali bahwa Kyai Dahlan, beliau sebelum mendirikan Muhammadiyah, beliau mendirikan sekolah terlebih dahulu dengan nama Madrasah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah (MIDI),” ujar Biyanto.
Madrasah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah (MIDI) didirikan pada tanggal 1 Desember 1911 M, sedangkan Muhammadiyah didirikan pada 12 November 1922 M. Hal ini membuktikan bahwa Kyai Dahlan memang betul-betul memfokuskan pendidikan yang baik untuk memajukan bangsa.
“Hal ini sebagai langkah awal bahwa untuk membangun masa depan itu harus memulai dari pendidikan terlebih dahulu,” ungkap Biyanto melanjutkan.
Lalu, Prof Biyanto memberikan gambaran pada era kontemporer dengan negara-negara maju yang banyak juga umat Islam tidak menyukai negara tersebut. Namun, Prof. Biyanto memberikan fakta bahwa negara-negara tersebut maju karena sistem pendidikan yang diutamakan.
“Negara-negara maju seperti Jepang, Korea Selatan, China, kalau kita analisis mengapa mereka bisa maju, karena pendidikan,” ujar Biyanto.
Melalui Pendidikan Dapat Memutus Garis Kemiskinan
Prof Biyanto mengatakan bahwa pernyataan tentang pendidikan mampu memutus garis kemiskinan itu benar adanya. Hal ini harus menjadi pegangan sebuah bangsa jika nantinya ingin bangsa itu berperadaban.
“Jika ada pernyataan bahwa pendidikan dapat memutus garis kemiskinan, hal ini benar adanya,” tegas Biyanto.
Pendidikan tersebut akan berdampak secara langsung pada perkembangan dan kemajuan ekonomi serta kesehatan yang nantinya akan mengarah pada gerakan-gerakan sosial. Hal ini sudah dilakukan oleh Muhammadiyah, dan terus akan dikembangkan lebih luas.
“Sehingga dengan pendidikan itu akan memajukan ekonomi, kesehatan, kesejahteraan yang akan mengarah ke sosial, dan hal ini adalah langkah yang dilakukan oleh Muhammadiyah,” terang Biyanto.

Paham Kyai Dahlan dalam Gerakan Berkemajuan
Prof Biyanto mengatakan bahwa pemikiran gerakan kemajuan yang digagas oleh Kyai Haji Ahmad Dahlan harus diimplementasikan dalam kehidupan sosial masyarakat.
“Implementasi faham Kyai Dahlan dalam berkemajuan dapat kita renungkan dengan 17 poin,” terang Biyanto.
Maka, 17 paham berkemajuan Kyai Dahlan sebagai berikut:
- Ningrat tapi merakyat
- Kritis tapi konstruktif
- Kaya dan bersahaja
- Alim namun tidak ekstrem
- Teguh tapi tidak angkuh
- Arab tapi tidak kearab-araban
- Guru tetapi tidak menggurui
- Taat tetapi tidak radikal
- Berani namun rendah hati (Abd Mu’ti, 2021)
- Puritan tapi inklusif
- Priyayi tapi melayani
- Hartawan dan dermawan
- Kiai namun tidak semuci
- Elit tapi tidak elitis
- Jawa tetapi tidak kejawen
- Terbuka namun tidak liberal
- Bersahabat tetapi tidak menjilat.
Kemudian sebagai penutup, untuk mengamalkan paham tersebut harus pelan-pelan dan teliti, sehingga bisa menjadi sebuah amal yang baik, sebagaimana Kyai Dahlan jika mengkaji suatu firman dalam al-Quran membutuhkan waktu yang lama dan sangat teliti.
“Kyai Dahlan itu manusia amal atau man of action, sebagaimana Kyai Dahlan dalam mengkaji al-Quran itu lama, dua bulan bahkan dua tahun, lalu diimplementasikan kepada masyarakat dengan paham yang berkemajuan,” tutup Biyanto.(*)
Penulis Fariz Zakariya Fauzan Editor Zahrah Khairani Karim





0 Tanggapan
Empty Comments