Majelis Tabligh Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Wiyung menggelar Kajian Ahad Pagi di Masjid At-Taqwa SD Muhammadiyah 15 Surabaya (SDM Limas) pada Ahad (5/10/2025). Kajian yang menghadirkan anggota Majelis Tabligh PWM Jawa Timur, Ustaz Afifun Nidlom, S.Ag., M.Pd., M.H., ini mengangkat tema “Kepemimpinan Profetik dalam Keluarga Muhammadiyah”.
Kegiatan ini diikuti segenap PCM Wiyung, segenap PCA Wiyung, segenap Pimpinan Majelis dan Lembaga se-Cabang Wiyung, segenap Pimpinan Ranting Muhammadiyah se-Cabang Wiyung, serta segenap Pimpinan Cabang Aisyiyah se-Cabang Wiyung.
Selain itu, kajian ini juga dihadiri oleh Kepala Sekolah KB-TK Aisyiyah 31, SD Muhammadiyah 15, SMP Muhammadiyah 17, dan SMA Muhammadiyah 9, beserta guru dan karyawan Perguruan Muhammadiyah Wiyung, LKSA Muhammadiyah dan Aisyiyah Wiyung, Pondok Pesantren KH Mas Mansyur, Takmir Masjid se-Cabang Wiyung, Daarul Hufaadz, Lazismu, serta anggota dan simpatisan Muhammadiyah Wiyung.
Ketua PCM Wiyung, H. Suri Marzuki, SE., dalam sambutannya menyampaikan ucapan terima kasih atas kehadiran Ustaz Nidlom sebagai narasumber dalam Kajian Ahad Pagi bulan Oktober ini. Ia mengajak seluruh hadirin untuk bersama-sama menyimak tausiyah yang akan disampaikan oleh Ustaz Nidlom.
“Kami juga mengucapkan terima kasih banyak atas kehadiran seluruh peserta kajian. Kita harus terus semangat dan istiqomah dalam menuntut ilmu melalui kajian seperti ini. Semoga ilmu yang kita peroleh bermanfaat dan dapat kita amalkan dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Abah Suri, panggilan akrabnya.
Usai sambutan, acara dilanjutkan dengan kajian bersama Ustaz Nidlom.
Dalam materinya, Ustaz Nidlom menjelaskan bahwa kepemimpinan profetik bukan hanya tentang mengarahkan masyarakat kepada keyakinan yang benar, tetapi juga bagaimana bertindak untuk menjadi umat terbaik. Ia mengingatkan ayat dalam Al-Qur’an surat Ali Imran ayat 110 yang berbunyi:
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ
Artinya: Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.
Ustaz Nidlom menjelaskan bahwa terkadang terdapat pemicu internal dalam kehidupan berkeluarga, seperti karakter dan kebiasaan yang belum dibentuk secara utuh (shibghah), masalah anak dan pendidikan, seksualitas, finansial, lemahnya komitmen syar’i, ketidakseimbangan peran, istri yang bekerja, serta perbedaan harapan dalam rumah tangga.
“Karakter dan kebiasaan seperti acuh, kikir, cemburu, kasar, cerewet, berbohong, mata keranjang, pendiam, boros, dominan, pemarah, hobi yang berlebihan, penampilan yang tidak terjaga, teledor, hingga perselingkuhan harus bisa kita kendalikan,” terangnya sambil tersenyum.
Ia juga menambahkan bahwa problematika eksternal merupakan godaan dunia, sebagaimana telah disampaikan oleh Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam dalam salah satu haditsnya.
إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ، وَإِنَّ اللهُ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ، فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَانَتْ فِي النِّسَاءِ
Artinya: Sesungguhnya dunia itu manis (rasanya) dan hijau (menyenangkan dilihat). Dan sesungguhnya Allah menguasakan kalian di dalamnya, maka Dia akan melihat bagaimana kalian beramal. Maka takutlah kalian terhadap godaan dunia dan takutlah wanita, karena ujian yang pertama kali menimpa Bani Israil adalah godaan wanita. (HR. Muslim dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu).
Selain itu, Ustaz Nidlom juga menyinggung tentang adanya intervensi pihak ketiga dalam rumah tangga, yang terkadang memengaruhi keharmonisan pasangan. Ia menyampaikan sebuah kisah yang diriwayatkan oleh Sahl bin Sa’d radhiyallahu ‘anhu, tentang perselisihan kecil antara Ali bin Abi Thalib dan istrinya, Fatimah az-Zahra radhiyallahu ‘anha.
“Suatu hari Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam datang ke rumah Fatimah dan tidak mendapati Ali di sana. Beliau pun bertanya, ‘Di mana putra pamanmu?’ Fatimah menjawab, Tadi kami sempat berselisih. Dia marah kepadaku lalu keluar rumah, dan siang ini dia tidak tidur di sampingku,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa Rasulullah kemudian bertanya kepada para sahabat tentang keberadaan Ali. Para sahabat menjawab, “Wahai Rasulullah, beliau sedang tidur di masjid.” Rasulullah pun mendatangi masjid dan menemukan Ali sedang tertidur, dengan pakaian atas yang terlepas dan debu menempel di tubuhnya. Beliau lalu mengusap debu dari tubuh Ali. Lalu Rasulullah mengusap debu itu, seraya berkata, قُمْ أَبَا تُرَابٍ، قُمْ أَبَا تُرَابٍ
Artinya: Bangun wahai Abu Thurab, bangun wahai Abu Thurab).
Lebih lanjut, Ustaz Nidlom memberikan beberapa solusi dalam menghadapi konflik rumah tangga. Salah satunya adalah dengan kembali kepada syariat sebagai landasan utama dalam menyelesaikan setiap permasalahan.
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَطِيعُوا۟ ٱللَّهَ وَأَطِيعُوا۟ ٱلرَّسُولَ وَأُو۟لِى ٱلْأَمْرِ مِنكُمْ ۖ فَإِن تَنَٰزَعْتُمْ فِى شَىْءٍۢ فَرُدُّوهُ إِلَى ٱللَّهِ وَٱلرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌۭ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kalian. Jika kalian berselisih pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagi kalian) dan lebih baik akibatnya. (QS An Nisaa’ :59)
“Marilah kita jaga keseimbangan dalam rumah tangga, saling menerima, saling memahami, bersama-sama mencari jalan keluar, serta memperbaiki komunikasi. Jangan menghindar dari masalah, selesaikan segera, fokus dan jangan melebar ke hal-hal lain. Kenali sumber permasalahannya, introspeksi diri, dan jangan mudah melibatkan pihak ketiga. Serahkan semuanya kepada Allah dengan tawakal,” pungkas Ustaz Nidlom menutup kajiannya. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments