Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah (PDA) Bojonegoro menghadiri undangan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Bojonegoro dalam kegiatan Deklarasi Damai Natal dan Tahun Baru (Nataru). Kegiatan ini mengusung tema “Kebangsaan sebagai Rahmat Membangun untuk Bojonegoro” dengan jargon “Bojonegoro Bahagia, Makmur, dan Membanggakan.”
Acara tersebut berlangsung di Kantor FKUB Kabupaten Bojonegoro, Jalan Trunojoyo, Kota Bojonegoro, pada Selasa (23/12/2025).
Kegiatan ini diikuti oleh sekitar 60 peserta yang berasal dari unsur lima agama di Bojonegoro, yaitu Islam, Kristen, Katolik, Hindu, dan Konghucu. Masing-masing agama diwakili oleh tiga umat. Turut hadir pula 10 anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser) dan 10 anggota Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (Kokam).
Sejumlah tokoh lintas agama tampak hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya KH Alamul Huda selaku Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bojonegoro, Nyai Hj Tjitjik Mursyidah sebagai Penasihat Muslimat NU, serta Romo Sapto Widodo, Pastor Paroki Santo Paulus. Ketiganya merupakan Dewan Penasihat FKUB Kabupaten Bojonegoro.
Acara diawali dengan doa akhir tahun yang dipimpin oleh lima tokoh lintas agama, kemudian dilanjutkan dengan pembacaan Deklarasi Damai Nataru yang dipimpin Ketua FKUB Bojonegoro, H. Hanafi, MM.
Melalui kegiatan ini, FKUB menegaskan komitmennya dalam menjaga dan merawat keberagaman budaya serta agama di Bojonegoro. Kerukunan dan sikap saling menghargai antarumat beragama menjadi fondasi penting dalam menciptakan kehidupan sosial yang harmonis.
Dalam sambutannya, H. Hanafi, MM menyampaikan bahwa kegiatan FKUB merupakan bagian dari upaya memperkuat kerukunan dan menjaga kondusivitas daerah menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru. FKUB juga berkolaborasi dengan pemerintah daerah serta Polres Bojonegoro.
“Sinergi antar organisasi perangkat daerah (OPD) dalam menyambut Natal dan Tahun Baru sangat penting demi menjaga kedamaian dan kerukunan antarumat beragama di Bojonegoro,” ujarnya.
Sementara itu, Nyai Hj Tjitjik Mursyidah mengibaratkan harmoni seperti alat musik yang berbeda-beda, namun mampu menghasilkan irama yang indah ketika dimainkan bersama. Menurutnya, sikap toleransi sejatinya telah tumbuh di tengah masyarakat dan perlu terus dirawat secara konsisten oleh seluruh elemen.
“Hidup bertoleransi sudah tercipta, tugas kita adalah merawat dan saling menghargai antar pemeluk agama,” tuturnya.
Kegiatan semakin hangat saat sesi sarasehan yang diisi dengan pemaparan materi tentang harmoni beragama oleh Romo Sapto Widodo, esensi rukun, guyub, dan damai oleh KH Alamul Huda, serta aksi toleransi oleh Hj Tjitjik Mursyidah. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments