
PWMU.CO – Pernahkah kita merasa shalat kita terasa hambar? Mungkin itu karena wudhu kita hanya sekadar basah, namun belum benar-benar menyentuh kalbu. Shalat tanpa thaharah yang sempurna ibarat bangunan tanpa pondasi.
Ungkapan tersebut disampaikan oleh Hj Nur Hanafiyah dalam Pengajian Rutin Nyai Walidah yang diselenggarakan oleh Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) Kota Batu pada Minggu (20/7/2025), bertempat di Mushala Baiturrahim Dadaprejo, Kecamatan Junrejo, Kota Batu.
Acara yang dihadiri oleh puluhan anggota ‘Aisyiyah se-Kota Batu ini mengupas tuntas makna thaharah sebagai landasan ibadah sekaligus transformasi spiritual. Bertajuk “Thaharah: Kunci Ibadah Bermakna”, acara ini berhasil menyihir 65 peserta untuk memaknai ulang ritual bersuci sebagai proses penyempurnaan iman.
Ia juga menyampaikan bahwa air wudhu memiliki kekuatan untuk menyucikan jiwa.
“Allah mencintai orang yang bertaubat dan menyucikan diri. Setiap tetes air wudhu seharusnya mengalirkan taubat, membersihkan dosa mata yang melihat yang haram, tangan yang mengambil yang bukan hak, dan kaki yang melangkah ke tempat maksiat,” ucapnya
Nur Hanafiyah juga menyampaikan empat poin penting revolusioner dalam wudhu:
‣ Membasuh wajah= Memohon cahaya untuk pancaran wajah yang jernih.
‣ Membasuh tangan= Komitmen untuk menjauhi korupsi dan tindakan zalim.
‣ Mengusap kepala= Menyucikan pikiran dari prasangka buruk.
‣ Membasuh kaki= Tekad untuk hanya melangkah ke jalan yang penuh berkah.
Suasana semakin hidup saat sesi tanya jawab. Salah satu pertanyaan menarik datang dari seorang ibu dari Pimpinan Cabang Aisyiyah Batu yang bertanya, “Bagaimana jika kita merasa ragu dalam berwudhu?.”
“Ragu itu berasal dari setan! Yakinlah bahwa air yang mengalir adalah bukti kasih sayang Allah yang membersihkan kita,” jawab Nur Hanafiyah dengan tegas
Ia juga mengingatkan bahwa jangan biarkan air wudhu mengalir sia-sia, biarkan ia mengalirkan cahaya ke dalam jiwa.
Selanjutnya Nur Hanafiyah juga menyoroti pentingnya efisiensi penggunaan air sesuai sunnah Nabi Muhammad SAW:
“Rasulullah SAW berwudhu hanya dengan sekitar 600 ml air. Jangan sampai kita boros air, tapi miskin makna,” sambungnya.
Acara ini diawali dengan lantunan tilawah merdu oleh Ibu Mariani, dilanjutkan saritilawah yang menyentuh hati oleh Ibu Ainur Rosidah. Suasana semakin syahdu dan penuh renungan.
Sebagai penutup, para peserta menyatakan komitmen bersama untuk menjalankan Gerakan “Wudhu Berkesadaran” di setiap rumah tangga dan Jurnal “Penyucian Diri”, berupa catatan refleksi spiritual setelah berwudhu.
“Dari muslimah yang suci, lahir peradaban yang bersih. Bersuci itu seperti meng-upgrade diri. Setiap wudhu, kita install ‘software’ takwa yang baru,” pungkas Nur Hanafiyah disambut tepuk tangan hangat dari hadirin. (*)
Penulis Ainur Rosida dan Anna Astuti Editor Ni’matul Faizah





0 Tanggapan
Empty Comments