
PWMU.CO – Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) Kabupaten Sidoarjo menggagas penyusunan Standar Operasional Prosedur (SOP) Layanan Kesehatan Inklusif melalui workshop yang digelar di Kampus 3 Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Kamis (24/4/2025).
Kegiatan yang berlangsung dari pukul 08.00 hingga 13.00 WIB ini diikuti 20 peserta dari berbagai fasilitas kesehatan seperti Puskesmas Porong, Krian, Kepadangan, RSU Khodijah, RSU Fatimah, serta perwakilan komunitas penyandang disabilitas, Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI) Sidoarjo.
Ketua PDA Sidoarjo, Siti Zubaidah Syafii SAg, dalam sambutannya menyampaikan bahwa workshop ini merupakan tindak lanjut dari pelatihan layanan kesehatan inklusif yang telah dilaksanakan sebelumnya.
“Perlu adanya persamaan dalam pelayanan kesehatan untuk penyandang disabilitas. Ini merupakan tanggung jawab kita bersama, baik pemerintah, keluarga, maupun masyarakat,” ujarnya.

Workshop ini dibuka oleh Wakil Koordinator Wilayah Program Inklusi PWA Jawa Timur, Dra Nelly Asnifati. Dalam pengarahannya, Nelly menegaskan pentingnya perhatian terhadap kelompok rentan, termasuk penyandang disabilitas.
“Aisyiyah sebagai organisasi perempuan harus terus mendorong layanan kesehatan yang aksesibel, menyeluruh, terjangkau, berkualitas, menghargai martabat, dan memberdayakan penyandang disabilitas,” ujarnya.
Ia berharap layanan kesehatan inklusif dapat tersedia di semua tingkatan fasilitas kesehatan dan mudah diakses oleh penyandang disabilitas. “Perlu sinergi berbagai pihak agar SOP yang disusun benar-benar bisa diterapkan,” tambahnya.
Materi utama disampaikan oleh dr Shopiati Sutjahjani MKes, yang membahas tentang ruang lingkup layanan kesehatan inklusif, penyiapan fasilitas ramah disabilitas, peningkatan pemahaman tenaga kesehatan, serta penyusunan SOP yang sesuai kebutuhan beragam kelompok disabilitas.
Sesi diskusi menjadi bagian penting dalam workshop ini. Setiap fasilitas kesehatan mempresentasikan draft SOP mereka dan mendapatkan masukan dari narasumber. Diskusi ini memperjelas kebutuhan spesifik antar kelompok disabilitas yang harus diakomodasi dalam SOP.
Workshop ditutup dengan harapan bahwa SOP yang telah disusun dapat ditindaklanjuti dan diimplementasikan secara berkelanjutan di masing-masing fasilitas kesehatan.
“Semoga langkah ini menjadi awal perbaikan layanan kesehatan yang lebih inklusif di Kabupaten Sidoarjo,” ujar moderator menutup acara. (*)
Penulis Alfi Faridian Editor M Tanwirul Huda






0 Tanggapan
Empty Comments