
Sebuah catatan pelatihan oleh salah satu peserta, Ria Pusvita Sari MPd.
PWMU.CO – Di tengah mengerjakan tugas pelatihan di aula, suasana tenang mendadak berubah ketika sebuah lagu mulai diputar secara tiba-tiba, Selasa (8/7/2025).
Lagu tersebut menceritakan tentang perjalanan selama dua hari pelatihan yang dijalani bersama. Yang lebih mengejutkan dan mengharukan, lagu itu secara khusus menyebut nama SD Muhammadiyah Manyar (SDMM).
Sebagai salah satu peserta, saya tidak bisa menahan rasa haru. Lagu itu seolah menjadi cerminan dari setiap pengalaman, kebersamaan, dan pembelajaran yang kami alami. Lagu tersebut menjadi simbol dari perjalanan yang penuh makna, bagaimana kami, para guru, bersama-sama berkomitmen menciptakan lingkungan sekolah yang bahagia, bebas dari bullying, di mana setiap anak merasa aman dan dihargai.
Sebagai salah satu peserta dalam pelatihan dua hari yang dipandu oleh Peace Generation Indonesia untuk guru-guru SDMM, saya merasakan pengalaman yang sangat berkesan dan penuh makna. Pelatihan bertema Sekolah Happy Tanpa Bully ini tidak hanya memberikan ilmu dan wawasan baru, tetapi juga membangun ikatan emosional yang kuat antarpeserta.
Pelatihan ini tidak hanya memberikan teknik dan strategi untuk mencegah bullying, tetapi juga menanamkan semangat empati, kasih sayang, dan keberanian untuk melawan segala bentuk tindakan perundungan. Momen saat lagu itu diputar menjadi pengingat betapa pentingnya setiap langkah yang kami ambil dalam membangun sekolah yang lebih baik.
Pelatihan ini dirancang secara interaktif dan menyeluruh. Kegiatan dimulai dengan pengenalan konsep bullying serta dampaknya terhadap perkembangan anak, kemudian dilanjutkan dengan berbagai sesi diskusi, simulasi, dan coaching yang membekali para guru dengan strategi pencegahan bullying serta cara mengelola dinamika kelas secara positif.
Materi-materi seperti jurus SELAMAAT untuk menyampaikan permintaan maaf, metode 5R (Role, Resource, Relation, Rule, Result) untuk membangun sistem anti-bullying di sekolah, hingga praktik penguatan empati menjadi inti pelatihan yang aplikatif ini.
Pada momen ini, saya merasa sangat beruntung bisa menjadi bagian dari perjalanan ini, dan berharap SDMM senantiasa menjadi inspirasi sekolah yang penuh cinta dan terbebas dari bully.

Salah satu coach, Irfan Nazhran, mengungkapkan bahwa ia bersama Kang Irfan Amalee memang sengaja menyiapkan kejutan khusus untuk SDMM.
“Kami terbiasa memulai sesuatu dengan membuat lagu dan logo terlebih dahulu. Melalui elemen visual dan auditori ini, sebuah gerakan yang awalnya hanya berupa gagasan bisa lebih mudah dirasakan, karena dapat dilihat dan didengar. Energinya pun jadi lebih terasa,” ungkapnya.
Kejutan ini, lanjutnya, juga sebagai dukungan dari Peace Generation untuk SDMM yang akan menuju sekolah yang semakin Happy Tanpa Bully.
Berikut lagu yang diciptakan oleh Kang Irfan dan Kang Nazhran https://drive.google.com/file/d/1Hhb51nGjY7Vn4oNCm1Fak_RC-kwA4GQ5/view?usp=sharing
SDMM bersatu bukan cuma teori
Dari guru, petugas, semua ikut berpartisipasi
Bersama PeaceGen berkolaborasi
Bikin suasana jadi damai dan happy
Reff :
Happy tanpa bully ini jalan kami
Habis bully terbitlah empati
SD Muhammadiyah Manyar berdiri
Satu hati bikin sekolah penuh harmoni
Dua hari pelatihan semua ikut serta
Bukan cuma guru semua punya peran nyata
Dari pak satpam sampai pak sopir
Kita bareng-bareng bikin bullying minggir
Misi pertama selamatkan Romi
Remuk karena bully hatinya sunyi
Kami belajar dampak yang nyata
Bullying itu luka gak bisa dianggap biasa
Misi kedua masuk museum antibully
Lihat bibitnya semua mulai dari hal silly
Ada dua puluh bibit yang sering diabaikan
Padahal dari situlah semua dimulai perlahan
Misi ketiga tangkap ayam bu Susan
Korban yang jadi pelaku itu bukan kebetulan
Bahas anatomi relasi kuasa yang bermain
Siapa kuat siapa lemah kita beda dengan yang lain
Happy tanpa bully ini jalan kami
Habis bully terbitlah empati
SD Muhammadiyah Manyar berdiri
Satu hati bikin sekolah penuh harmoni
Misi keempat tentang korban harus dikenali
Bukan disalahkan tapi perlu dilindungi
Kenali cirinya, beri empati
Agar mereka tak merasa sendiri
Misi kelima bicara soal penonton
Yang diam saja saat bully ditonton
Kini mereka harus diberdayakan
Bukan diam tapi jadi kawan yang menenangkan
Misi keenam bicara pelakunya yang galak
Tapi ternyata juga korban yang retak
Pelaku pun kadang luka di dalam
Mereka butuh dukungan bukan diserang
Kita rangkul bukan dijatuhkan
Biar rantai kekerasan bisa dihentikan
Misi terakhir saatnya berpikir sistem
bully itu terstruktur bukan cuma serem
Kita bikin SOP bangun ekosistem
Biar sekolah ini ada pegangan yang pakem
Happy tanpa bully ini jalan kami
Habis bully terbitlah empati
SD Muhammadiyah Manyar berdiri
Satu hati bikin sekolah penuh harmoni
Ini bukan akhir, ini permulaan
SD Muhammadiyah Manyar jadi panutan
Semua bersuara, semua peduli
Karena sekolah bahagia itu happy tanpa bully
Terima kasih Kang Irfan dan Kang Nazhran. (*)
Penulis Ria Pusvita Sari Editor Ni’matul Faizah





0 Tanggapan
Empty Comments