Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Pecahkan Cermin atau Operasi Wajah? Refleksi atas Kritik Salafisme dan Otokritik Muhammadiyah

Iklan Landscape Smamda
Pecahkan Cermin atau Operasi Wajah?  Refleksi atas Kritik Salafisme dan Otokritik Muhammadiyah
Asruri Muhammad. Foto: Chat-GPT/PWMU.CO
Oleh : Asruri Muhammad Pemerhati Sosial Keagamaan
pwmu.co -

Tulisan tentang “Bahaya Salafisme di Tubuh Muhammadiyah” karya Dr. Sholikh Al Huda di PWMU.CO sebelumnya layak dibaca bukan dengan emosi, tetapi dengan kejernihan. Ia bukan sekadar opini, melainkan sebuah peringatan ideologis. Dalam situasi seperti ini, sikap paling bijak bukanlah membantah secara reaktif, apalagi mempersonalisasi kritik, melainkan menjadikannya cermin untuk bercermin.

Ada sebuah ungkapan sederhana namun bermakna: “jika saat bercermin kita melihat wajah sendiri tampak buruk, maka yang perlu diperbaiki adalah wajah kita—bukan memecahkan cerminnya, apalagi merusak wajah orang lain agar wajah kita tampak lebih baik”. Kritik yang jujur memang sering tidak nyaman, tetapi memecahkan cermin tidak akan membuat wajah kita membaik.

Tulisan Dr. Sholikh, suka atau tidak, sedang memantulkan realitas yang dirasakan sebagian warga Muhammadiyah. Bahwa di ruang-ruang dakwah, di mimbar masjid, di grup WhatsApp, dan terutama di media sosial, terdapat pergeseran otoritas keagamaan. Banyak warga yang lebih akrab dengan ustaz-ustaz populer di platform digital daripada dengan ulama, mubaligh, dan pemikir Muhammadiyah sendiri. Ini bukan tuduhan, melainkan gejala sosial yang mudah kita temukan.

Persoalannya menjadi sensitif karena istilah yang digunakan adalah “Salafisme”. Istilah ini sering memantik reaksi defensif, sebab Muhammadiyah sejak awal juga dikenal sebagai gerakan pemurnian. Kembali kepada al-Qur’an dan Sunnah adalah slogan yang telah mengakar sejak Kiai Ahmad Dahlan. Maka, penting ditegaskan sejak awal: kritik terhadap Salafisme bukan kritik terhadap semangat beragama yang taat sunnah, melainkan kritik terhadap cara beragama yang menutup ruang nalar, konteks, dan kemanusiaan.

Namun di titik inilah refleksi harus dimulai. Jika benar ada kecenderungan sebagian warga Muhammadiyah merasa lebih “murni” setelah mengikuti ceramah dari luar ekosistem persyarikatan, pertanyaan yang lebih jujur bukanlah: siapa yang menyusup? melainkan mengapa ruang itu kosong sehingga mudah diisi?

Muhammadiyah adalah gerakan tajdid. Tajdid tidak hanya berarti membersihkan praktik ibadah dari yang tidak berdasar, tetapi juga memperbarui cara berpikir, cara berdakwah, dan cara membaca realitas. Dalam sejarahnya, Muhammadiyah tidak tumbuh dengan dakwah konfrontatif, melainkan dengan dakwah pencerahan: melalui sekolah, rumah sakit, panti asuhan, dan kerja-kerja sosial yang membumi. Rasionalitas, dialog, dan keberpihakan pada kemaslahatan adalah napas panjang gerakan ini.

Ketika hari ini muncul kesan bahwa Islam berkemajuan kalah nyaring dibandingkan narasi keagamaan yang sederhana, hitam-putih, dan penuh klaim kebenaran tunggal, boleh jadi masalahnya bukan pada kekuatan ideologi lain, tetapi pada melemahnya narasi kita sendiri. Islam berkemajuan sering terdengar indah di forum-forum resmi, tetapi kurang hadir dalam bahasa populer, konten digital, dan keseharian umat.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Karena itu, membaca kritik ini seharusnya tidak membawa kita pada polarisasi baru: “kami Muhammadiyah sejati” versus “kalian terpapar Salafi”. Polarisasi semacam ini justru bertentangan dengan etos keilmuan dan akhlak persyarikatan. Kritik ideologis yang sehat tidak melahirkan penghakiman, melainkan kesadaran untuk berbenah.

Muhammadiyah tidak alergi terhadap purifikasi, tetapi sejak awal menolak puritanisme yang mematikan akal. Muhammadiyah tidak anti-sunnah, tetapi menolak pemahaman sunnah yang tercerabut dari maqashid, sejarah, dan realitas sosial. Inilah keseimbangan yang sejak lama dijaga, dan inilah yang hari ini perlu terus dirawat.

Tulisan “Bahaya Salafisme…” seharusnya kita baca sebagai alarm, bukan sebagai vonis. Alarm dibunyikan bukan untuk menakut-nakuti, tetapi untuk membangunkan. Jika ada kecenderungan warga Muhammadiyah menjauh dari khazanah pemikiran persyarikatan, maka tugas kita bukan memecahkan cermin kritik itu, melainkan bertanya dengan jujur: apa yang harus kita perbaiki?

Mungkin kita perlu menghadirkan kembali Islam berkemajuan dalam bahasa yang lebih hidup. Mungkin kita perlu membenahi dakwah agar lebih relevan dengan generasi digital. Mungkin kita perlu menguatkan kaderisasi pemikiran, bukan hanya kaderisasi struktural. Semua itu adalah pekerjaan rumah yang tidak ringan, tetapi justru di situlah makna tajdid diuji.

Menjaga Muhammadiyah bukan dengan saling mencurigai, tetapi dengan keberanian bercermin. Kritik yang jujur adalah rahmat, selama kita membacanya sebagai undangan untuk memperbaiki wajah, bukan alasan untuk memecahkan cermin. Dan dari cermin inilah, semestinya perbincangan yang lebih dalam tentang reformasi dakwah dan ideologi Muhammadiyah dimulai. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu