Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Pelajar Muhammadiyah dan Tugas Dakwah di Era Algoritma

Iklan Landscape Smamda
Pelajar Muhammadiyah dan Tugas Dakwah di Era Algoritma
Pelajar Muhammadiyah tidak boleh membiarkan algoritma media sosial sepenuhnya dikuasai akun-akun provokatif, potongan ceramah tanpa konteks, atau komentar yang mempermalukan tradisi keilmuan Islam. (Akhmad Hasbul Wafi/PWMU.CO).

Artinya, teknologi memang dapat membantu, tetapi ia tidak boleh dibiarkan menjadi pengganti akal sehat, adab, dan tradisi keilmuan.

Karena itu, islamisasi digital tidak boleh dipahami secara dangkal sebagai menempelkan simbol-simbol Islam ke media sosial.

Islamisasi Digital 

Islamisasi digital harus dimengerti sebagai usaha serius menanamkan adab, tanggung jawab ilmu, kedisiplinan verifikasi, serta orientasi dakwah dalam seluruh aktivitas digital pelajar. Ini bukan proyek kosmetik, melainkan agenda peradaban.

Jika ruang digital telah menjadi tempat generasi muda mencari identitas, ilmu, pengakuan sosial, dan arah hidup, maka Islam harus hadir di sana bukan sebagai penonton. Namun sebagai kerangka nilai yang aktif membimbing.

Bagi pelajar Muhammadiyah, tanggung jawab itu bahkan lebih besar. Muhammadiyah sejak awal berdiri bukan hanya gerakan sosial-keagamaan, tetapi gerakan dakwah, tajdid, dan ilmu.

Karena itu, pelajar Muhammadiyah tidak cukup menjadi pengguna gawai yang saleh secara pribadi tetapi pasif secara sosial. Mereka memiliki tanggung jawab moral dan tanggung jawab persyarikatan untuk menjadikan gawai sebagai instrumen dakwah, pendidikan, penjernihan, dan pelayanan umat.

Tanggung jawab moral berarti menggunakan teknologi dengan amanah, jujur, tabayyun, dan tidak ikut memperkeruh kebisingan digital.

Tanggung jawab persyarikatan berarti ikut menjaga marwah Islam berkemajuan dengan menghadirkan narasi yang mencerahkan di tengah ruang digital yang gaduh.

Hal ini tampak sangat penting ketika ruang publik digital sering dipenuhi carut-marut moderasi beragama. Perbedaan awal puasa, misalnya, kerap berubah dari perbedaan metode menjadi bahan olok-olok, saling sindir, dan perang komentar yang miskin ilmu.

Pada 2026, Muhammadiyah menetapkan 1 Ramadan 1447 H jatuh pada 18 Februari 2026, sedangkan pemerintah melalui sidang isbat menetapkannya pada 19 Februari 2026.

Perbedaan ini adalah fakta, tetapi fakta itu tidak seharusnya diubah menjadi bahan permusuhan. Justru di titik inilah pelajar Muhammadiyah harus hadir menjelaskan perbedaan hisab dan rukyat secara jernih, sederhana, dan berakhlak.

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

Peran Pelajar Muhammadiyah

Pelajar Muhammadiyah tidak boleh membiarkan algoritma media sosial sepenuhnya dikuasai akun-akun provokatif, potongan ceramah tanpa konteks, atau komentar yang mempermalukan tradisi keilmuan Islam.

Mereka harus meramaikan ruang digital dengan konten yang santun, argumentatif, dan mencerahkan. Mereka perlu belajar menjelaskan bahwa perbedaan metode bukan ancaman bagi ukhuwah, bahwa beragama tidak identik dengan marah-marah, dan bahwa dakwah yang kuat tidak harus bising.

Namun dakwah digital pelajar Muhammadiyah tidak boleh berhenti pada konten reaktif. Mereka harus bergerak dari sekadar ikut tren menuju memimpin percakapan.

Artinya, pelajar Muhammadiyah perlu membangun ekosistem dakwah digital yang terorganisasi: membuat konten singkat yang kuat secara pesan, menghidupkan literasi AI yang etis, melatih kemampuan cek fakta keagamaan, membiasakan tabayyun sebelum membagikan informasi, serta mengembangkan bahasa dakwah yang relevan dengan generasi sebaya.

Dalam forum resminya, Muhammadiyah juga telah menegaskan pentingnya membangun AI yang berkah, beretika, dan berkemajuan. Sikap ini menunjukkan bahwa Persyarikatan tidak alergi pada teknologi, tetapi ingin memastikan teknologi tunduk pada nilai.

Masa depan pelajar Muhammadiyah pada akhirnya akan sangat ditentukan oleh cara mereka memperlakukan gawai. Jika gawai hanya dipakai untuk hiburan, konsumsi tren, dan perdebatan kosong, maka pelajar Muhammadiyah akan larut menjadi pengguna biasa yang dibentuk oleh sistem digital.

Tetapi jika gawai dipakai untuk berdakwah, menjernihkan, mendidik, dan menghidupkan akhlak bermedia, maka mereka sedang mempersiapkan diri sebagai generasi penerus peradaban Persyarikatan.

Di era ketika algoritma ikut menentukan apa yang dilihat, dipikirkan, dan dipercayai publik, meramaikan media sosial dengan dakwah yang berilmu bukan lagi pilihan tambahan. Itu sudah menjadi bagian dari amanah sejarah.

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡