Suasana pembukaan Diklat Jaya Melati 1 Kwartir Daerah (Kwarda) Hizbul Wathan Kabupaten Sidoarjo di Hotel Permata Biru, Jumat (6/2/2026), terasa istimewa. Sebanyak 112 peserta mengikuti pelatihan yang menjadi gerbang awal mencetak pelatih-pelatih baru Hizbul Wathan (HW).
Di tengah semangat itu, hadir sosok pelatih nasional yang telah lama berkhidmat di dunia kepanduan Muhammadiyah, Dra. Maharti Rahayuningtyas. Perempuan kelahiran Surabaya, 5 Juli 1964 tersebut, sejak 2017 dipercaya sebagai Pelatih Nasional Kepanduan Hizbul Wathan dan kini menjabat Wakil Ketua Bidang Pustaka dan Literasi di tingkat wilayah.
Dalam wawancara khusus usai pembukaan kegiatan, Maharti—yang akrab disapa Bunda Maharti—membagikan trik dan strategi menanamkan rasa cinta serta rasa memiliki Hizbul Wathan di hati para pandu dan calon pelatih.
Antusiasme 112 Peserta Jadi Barometer Kebangkitan
Menurutnya, jumlah peserta yang mencapai 112 orang menjadi indikator menggembirakan bagi perkembangan HW di Sidoarjo.
“Ini luar biasa. Jumlah peserta cukup banyak. Artinya, antusiasme kader untuk menjadi pelatih semakin tumbuh,” ujarnya.
Ia menilai, pelatihan Jaya Melati 1 bukan sekadar formalitas jenjang kaderisasi, tetapi pintu strategis untuk mencetak pelatih yang memahami regulasi, arah gerak organisasi, dan ruh perkaderan Muhammadiyah.
Terlebih, saat ini Kwartir Pusat telah merintis golongan Tunas Athfal sebagai hasil Muktamar 2023. Kondisi tersebut menuntut hadirnya pelatih yang memiliki bekal pemahaman regulator dan metode pendampingan yang sesuai.
“Pendamping Tunas Athfal harus benar-benar paham arah gerak Hizbul Wathan sebagai kader persyarikatan. Jangan sampai kegiatan berjalan, tapi ruh kaderisasinya tidak terasa,” tegasnya.
Menjembatani Generasi Z dengan Nilai Perkaderan
Maharti juga menyoroti tantangan generasi saat ini. Peserta pelatihan minimal berusia 18 tahun, yang berarti masuk kategori Generasi Beta—generasi yang tumbuh bersama teknologi digital.
“Metode pendekatan harus menyesuaikan. Transfer pengetahuan, pembentukan karakter, dan cara mendidik harus menggunakan metode yang mudah dipahami generasi sekarang,” jelas pensiunan Guru BK SMP Muhammadiyah 1 Surabaya itu.
Sebagai generasi Baby Boomers, ia menyadari adanya perbedaan karakter zaman. Namun, menurutnya, perbedaan itu justru menjadi peluang untuk saling melengkapi.
“Kuncinya adaptif, tapi nilai dasarnya tetap. Karakter, disiplin, dan semangat berkemajuan harus tetap ditanamkan,” tambahnya.
Dari Tidak Mengenal Muhammadiyah hingga Mencintai HW
Perjalanan Maharti di Hizbul Wathan tidak instan. Ia mengaku awalnya tidak memiliki latar belakang kuat di Muhammadiyah. Bahkan, pengenalannya terhadap HW berawal dari kebutuhan pribadi untuk menemukan wadah pembinaan karakter.
“Saya pernah ikut Pramuka, tapi rasanya kurang sreg. Ketika bertemu Hizbul Wathan, saya merasa cocok. Ada pembangunan karakter yang sejalan dengan latar belakang saya di Bimbingan Konseling,” kenangnya.
Sejak 2009 bergabung di HW, kecintaannya semakin tumbuh. Ia mengikuti berbagai jenjang pendidikan kader, di antaranya Jaya Matahari 2 dan Jaya Pertiwi. Baginya, kecintaan adalah fondasi utama untuk istiqamah.
“Kalau sudah suka, kita tidak banyak hitung-hitungan. Dari rasa suka itu lahir keinginan untuk terus belajar dan mendalami,” ujarnya.
Maharti juga mengungkap bahwa dirinya memiliki karakter “pengumpul” dalam pemetaan potensi diri (talent mapping). Ia gemar mengumpulkan informasi dan pengetahuan, termasuk seputar HW.
“Semua tentang HW ingin saya tahu. Saya kumpulkan ilmunya. Dari situlah saya bertahan,” tuturnya.
Harapan Lahirnya Pelatih Nasional Perempuan
Di balik dedikasinya, terselip harapan besar. Hingga kini, Maharti mengaku masih menjadi satu-satunya pelatih nasional perempuan dari Jawa Timur.
“Saya ingin punya teman. Harapannya, peserta putri yang banyak ini tidak berhenti di Jaya Melati 1 saja, tapi terus naik jenjang hingga menjadi pelatih nasional,” ungkapnya dengan mata berbinar.
Ia berharap kelak lahir lebih banyak pelatih nasional perempuan yang mampu menjadi cahaya dan penguat kaderisasi HW di berbagai daerah.
“Jangan hanya satu. Bisa dua, tiga, bahkan sebanyak cahaya matahari,” katanya penuh optimisme.
Menutup wawancara, Maharti menegaskan bahwa kunci mengokohkan Hizbul Wathan di dada kader adalah rasa cinta yang lahir dari pemahaman dan pengalaman langsung di lapangan.
“Kenali dulu, pahami, lalu cintai. Kalau sudah cinta, insyaAllah akan istiqamah dan percaya diri dalam menggerakkan kaderisasi,” pesannya.
Dengan semangat tersebut, Diklat Jaya Melati 1 di Sidoarjo bukan sekadar agenda rutin, melainkan momentum kebangkitan kaderisasi. Dari ruang-ruang pelatihan inilah, diharapkan lahir pelatih-pelatih tangguh yang menanamkan nilai, karakter, dan semangat berkemajuan Hizbul Wathan di hati generasi muda Muhammadiyah. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments