Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Pemahaman Al-Qur’an Mengalami Dislokasi Makna

Iklan Landscape Smamda
Pemahaman Al-Qur’an Mengalami Dislokasi Makna
Oleh : Mirwanuddin Pembelajar pada forum terbatas (limited group) Kajian Al-Qur'an berbasis 'Ilmu 'Alat dan alumni IMM FISIP Unmuh Malang
pwmu.co -

‎​Tulisan ini menganalisis fenomena sosio-religius (sosial-keagamaan), di mana Al-Qur’an lebih dominan dikonsumsi sebagai ritual untuk orang yang mati.

‎Ini gejala sosial yang menarik dan mungkin sekaligus memprihatinkan, bahwa terjadi proses pergeseran fungsi Al-Qur’an dari yang sebelumnya sebagai pedoman bagi orang yang masih hidup di dunia.

Melalui pendekatan Ilmu Balaghah (seni sastra dan ketajaman makna bahasa Arab) serta psikologi perilaku, hasil analisis ini menemukan adanya “pelarian kognitif” —proses mental untuk menghindari beban pikiran— dari tuntutan moral teks menuju kenyamanan ritual semata.

‎​Telaah Ilmu Balaghah

‎​Dalam Ilmu Balaghah, setiap kalimat dalam Al-Qur’an harus sesuai dengan Muqtadhal Hal (tuntutan situasi dan kondisi saat pesan disampaikan).

Di antara cabang ilmu Balaghah adalah Ilmu Ma’ani.

‎Ditinjau dari a​spek Ma’ani (Fungsi Komunikasi): Mayoritas ayat Al-Qur’an berbentuk Amr (perintah), Nahyu (larangan), dan Nida’ (seruan/ panggilan).

‎Secara kaidah bahasa, sebuah seruan (panggilan) seperti “Wahai orang-orang yang beriman” hanya berlaku bagi orang (subjek) yang masih hidup dan memiliki Idrak (daya tangkap kesadaran).

‎Maka, berdasarkan sudut pandang Ilmu Ma’ani, membacakan ayat-ayat perintah dan larangan (hukum) di depan jenazah adalah sebuah anomali komunikatif (ketidak-sambungan komunikasi), karena lawan bicara/target pesan (mukhathab/ komunikan) bukan lagi seorang yang dibebani kewajiban agama (mukallaf).

‎Jika ditela’ah dari gaya bahasa ​Majaz (kiasan) dalam Al-Qur’an Surah Al-Fathir 22, pemakaian kata “mati” dalam ayat ini adalah isti’arah (peminjaman istilah/metafora).

‎Allah menggunakan istilah “mati” untuk menggambarkan hati manusia yang sudah membatu dan menutup diri yang tidak mau peduli dengan pesan dari ayat-ayat al_qur’an.‎

‎Ilmu Balaghah mengajarkan bahwa Al-Qur’an adalah “ruh” atau sejenis pembangkit peradaban.

Sehingga, menjadi ironi ketika “ruh” (Al-Qur’an) dibacakan kepada jasad yang sudah kehilangan nyawa, namun diabaikan oleh orang-orang yang fisiknya hidup tetapi “mati” tanggapan.

‎​Telaah Psikologi

‎​Secara psikologis, pergeseran fungsi Al-Qur’an ini dapat dijelaskan melalui beberapa teori:

‎Pertama, sebagai m​ekanisme pertahanan diri (defense mechanism).

Membaca Al-Qur’an sebagai pedoman hidup menimbulkan cognitive dissonance (pertentangan batin akibat ketidak-sesuaian antara keyakinan dan perilaku).

Seseorang ketika membaca ayat berkaitan dengan larangan berzina, misalnya, ia akan merasa tertekan karena bertentangan dengan perilakunya sendiri yang masih gemar melakukan zina.

Karena itu, kemudian mental manusia melakukan “sublimasi” atau pengalihan, yaitu: mengubah aktivitas membaca tersebut menjadi ritual kematian yang tidak menuntut perubahan perilaku dalam dirinya.

‎Kedua, ​rasa kendali (perceived control).

Iklan Landscape UM SURABAYA

Ritual kematian memberikan rasa bahwa manusia masih bisa “berbuat sesuatu” di hadapan maut yang tak terelakkan.

‎Secara psikologis, ini menjadi alat ukur atau anchor (jangkar) untuk meredakan kecemasan diri, meskipun esensi pesan perintah Sang Pencipta tidak dipedulikannya.

‎Ketiga, ​formalisme simbolik.

Dalam psikologi massa, bunyi suara Al-Qur’an seringkali dianggap memiliki efek sedatif (penenang).

‎Hal ini sangat berpotensi mengubah Al-Qur’an dari information processing (proses mengolah informasi/berpikir) menjadi sekadar sensory experience (pengalaman indrawi/pendengaran) tanpa melibatkan pemahaman otak yang menyentuh kesadaran makna.

‎​Dislokasi Makna

‎​Masalah utama yang ditemukan adalah komodifikasi sakralitas (mengubah hal suci menjadi sekadar barang atau simbol ritual).

‎Al-Qur’an diposisikan sebagai benda keramat (sacred object) saja, dan bukan sebagai active message —pesan yang harus segera dikerjakan sebagai bentuk keta’atan.

​Umat seringkali lebih takut pada kesalahan tajwid (teknis bunyi) saat ritual kematian daripada kesalahan etik (perilaku buruk) dalam kehidupan sehari-hari.

‎​Ini merupakan bentuk “kematian fungsional” Al-Qur’an.

Kitabnya dibaca dengan nyaring, namun fungsinya sebagai penggerak peradaban telah mati di tangan penganutnya sendiri.

‎​Secara Ilmu Balaghah, Al-Qur’an adalah teks dinamis yang menuntut respon nyata dari pendengarnya.

Secara psikologis, dominasi penggunaan Al-Qur’an untuk orang mati adalah bentuk kompensasi atas ketidakmampuan umat dalam menerapkan nilai Al-Qur’an ke dalam kenyataan.

‎Sesuai peringatan dalam Surah Fathir: 22, Al-Qur’an diturunkan agar manusia tidak menjadi “mayat-mayat berjalan” yang kehilangan kepekaan hati dalam menanggapi kebenaran selagi masih bernapas.***‎

‎Wallahu a’lamu bis_shawaab.

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu