Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Pemanfaatan Limbah Organik: Mahasiswa KKN UMG Tinjau Budidaya Maggot di Desa Roomo

Iklan Landscape Smamda
Pemanfaatan Limbah Organik: Mahasiswa KKN UMG Tinjau Budidaya Maggot di Desa Roomo
pwmu.co -
Dokumentasi tim KKN bersama Ja’far pembudidaya Maggot di Desa Manyar (Bela Putri Dewi Nawangsari/PWMU.CO)

PWMU.CO — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG) melaksanakan kunjungan lapangan ke lokasi budidaya maggot di Desa Roomo, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program edukatif dan pengabdian masyarakat yang bertujuan mengeksplorasi solusi pengelolaan limbah organik berbasis potensi lokal yang berkelanjutan.

Budidaya maggot yang memanfaatkan larva Black Soldier Fly (BSF) menjadi fokus utama dalam kunjungan tersebut. Mahasiswa mendapat kesempatan untuk menyaksikan langsung proses transformasi limbah organik rumah tangga menjadi produk bernilai ekonomis dan ekologis, seperti pakan ternak dan pupuk kompos alami.

Kegiatan disambut hangat oleh Ja’far, pelaku usaha lokal yang telah berhasil mengembangkan budidaya maggot sebagai alternatif pengelolaan sampah organik. Ia menjelaskan tahap-tahap budidaya, mulai dari fermentasi limbah, penetasan telur, pembesaran larva, hingga panen dan pengolahan hasil produksi.

“Budidaya maggot ini bukan hanya cara efektif untuk mengurangi timbunan sampah, tetapi juga menciptakan peluang ekonomi baru bagi masyarakat, khususnya di sektor peternakan dan pertanian,” ujar Ja’far ketika dikunjungi di Rumah Budidaya maggotnya, Jumat (18/7/2025).

Ja’far, yang dengan sabar memulai pembudidayaan maggot dari skala kecil, merasa bangga ketika hasil jerih payahnya dihargai oleh masyarakat dan beberapa perusahaan sekitar yang bersedia memberikan bantuan untuk pengembangan usahanya.

“Kami memulai dari skala kecil, hanya dengan sisa dapur dan wadah seadanya. Tapi karena konsisten dan melihat manfaatnya, kini kami bisa menjual hasil panen ke peternak sekitar hingga beberapa perusahaan melirik usaha kami dan dengan sukarela memberikan bantuan untuk pengembangan usaha maggot ini,” tambahnya penuh kebahagiaan.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Ia juga memiliki harapan besar agar masyarakat sekitar turut membudidayakan maggot guna menekan pembuangan sampah organik rumah tangga.

“Harapannya, lebih banyak lagi warga yang ikut mengelola sampah sendiri dengan cara ini. Saya juga terbuka untuk siapa saja yang ingin belajar. Silakan datang kapan saja, saya siap membantu konsultasi dan berbagi pengalaman soal budidaya maggot,” ungkapnya penuh harap.

Tiga Produk Utama Maggot

Larva dewasa berusia 3 minggu dengan ukuran ± 0,2 cm, tinggal menunggu masa panen tiba (Bela Putri Dewi Nawangsari/PWMU.CO)

Dari kegiatan budidaya tersebut, dihasilkan tiga produk utama yang bernilai jual, yaitu maggot segar, maggot sangrai, dan pelet maggot. Ketiganya berfungsi sebagai pakan ternak bergizi tinggi serta bahan tambahan dalam proses pengomposan.

“Kami saat ini memproduksi tiga jenis maggot. Pertama, maggot segar, yaitu larva hidup yang langsung dipanen dari media pembesaran. Ini biasanya digunakan sebagai pakan ikan atau unggas. Kedua, ada maggot sangrai, yaitu maggot yang telah dibersihkan lalu dikeringkan dengan cara disangrai agar tahan lama. Produk ini lebih praktis untuk pakan ternak kering dan bisa bertahan hingga beberapa bulan,” tandasnya.

Ja’far menjelaskan bahwa produk ketiga adalah pelet maggot, yaitu maggot yang telah dikeringkan, digiling, lalu dicetak menjadi bentuk pelet menggunakan alat sederhana. Produk ini cocok digunakan sebagai pakan lele dan unggas. Ia menambahkan bahwa harga jual maggot di Desa Roomo sekitar Rp5.000 per gram.

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu