Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Pemerintah Perkuat Pendidikan 3T, Ribuan Guru Terima Tunjangan Khusus

Iklan Landscape Smamda
Pemerintah Perkuat Pendidikan 3T, Ribuan Guru Terima Tunjangan Khusus
Pemerintah Perkuat Pendidikan 3T, Ribuan Guru Terima Tunjangan Khusus, Foto: Istimewa/PWMU.CO
pwmu.co -

Pemerintah terus memperkuat kehadiran negara dalam mendorong transformasi pendidikan di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T).

Dukungan tersebut tidak hanya menyasar peningkatan kompetensi guru, tetapi juga pemerataan fasilitas serta akses teknologi pembelajaran sebagai fondasi membangun sumber daya manusia unggul dari seluruh pelosok negeri.

Komitmen itu ditegaskan melalui berbagai kebijakan strategis, mulai dari penguatan distribusi guru hingga penyaluran tunjangan khusus bagi pendidik yang bertugas di daerah terpencil.

Dukungan Pemerintah untuk Guru 3T

Direktur Jenderal Guru, Tenaga Kependidikan dan Pendidikan Guru (Dirjen GTKPG), Nunuk Suryani, menegaskan bahwa praktik baik para guru di wilayah 3T membuktikan keterbatasan bukanlah penghalang menghadirkan pembelajaran bermakna.

“Cerita praktik baik dari para guru menunjukkan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk menghadirkan pembelajaran yang bermakna. Pemerintah akan terus memastikan dukungan yang lebih merata, mulai dari peningkatan kompetensi, penguatan distribusi guru, serta dukungan teknologi pembelajaran seperti Papan Interaktif Digital dan akses internet yang semakin luas,” ujar Nunuk.

Sebagai bentuk keberpihakan nyata, pemerintah terus menyalurkan Tunjangan Khusus Guru (TKG) bagi pendidik di daerah 3T. Pada tahun 2025, tercatat sebanyak 43.393 guru menerima TKG dengan total anggaran mencapai Rp636.710.771.290. Setiap guru penerima memperoleh tunjangan sebesar Rp2 juta per bulan.

Kebijakan tersebut menjadi bagian dari strategi pemerataan mutu pendidikan nasional agar sekolah di wilayah 3T tidak tertinggal dari daerah perkotaan.

Kisah Guru Matematika di Wilayah 3T

Semangat pengabdian itu tercermin dari Risky Jalil, guru matematika di SMAS Ilmanah, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara. Sejak 2024, ia mengajar di wilayah 3T dengan berbagai dinamika dan tantangan.

Ia mengungkapkan bahwa tantangan terbesar dalam pembelajaran tidak hanya berkaitan dengan fasilitas, tetapi juga akses menuju sekolah.

“Tantangan terbesar adalah transportasi menuju sekolah, terutama saat cuaca buruk dengan ombak keras. Fasilitas belajar seperti buku dan jaringan internet juga terbatas. Selain itu, kemampuan literasi dasar sebagian murid masih rendah sehingga proses pembelajaran membutuhkan waktu lebih lama,” ungkapnya.

Inovasi Mengajar di Tengah Keterbatasan

Di tengah keterbatasan tersebut, Risky tetap berupaya kreatif dalam mengajarkan matematika. Ia memanfaatkan benda-benda sederhana di sekitar sebagai alat bantu belajar.

Iklan Landscape UM SURABAYA

“Untuk mengajarkan operasi hitung dasar, saya menggunakan batu sebagai alat bantu konkret agar murid lebih mudah memahami konsep penjumlahan dan pengurangan,” ujarnya.

Pendekatan kontekstual tersebut dinilai efektif membantu siswa memahami konsep abstrak menjadi lebih nyata dan mudah dipahami.

Selain inovasi metode pembelajaran, Risky juga menekankan pentingnya membangun kedekatan emosional dengan murid sebagai bagian dari penguatan ekosistem pendidikan.

“Saya berusaha membangun hubungan yang dekat dengan murid, memahami latar belakang mereka, dan memberi apresiasi sekecil apa pun pencapaian mereka. Saya sering mengaitkan pelajaran dengan cita-cita mereka. Pujian dan perhatian yang konsisten sangat membantu meningkatkan rasa percaya diri mereka,” tambahnya.

Dampak Tunjangan Khusus Guru

Risky menilai program Tunjangan Khusus Guru (TKG) memberikan dampak signifikan terhadap motivasi dan kesejahteraan guru di wilayah 3T.

“Program pemerintah melalui pemberian Tunjangan Khusus bagi guru di daerah 3T telah memberikan dampak positif dalam meningkatkan kesejahteraan dan motivasi kerja guru. Dengan adanya tunjangan tersebut, guru lebih termotivasi melaksanakan tugas secara optimal dan berkomitmen untuk tetap mengabdi di daerah terpencil. Dampaknya, proses pembelajaran menjadi lebih stabil,” jelasnya.

Tak hanya kebijakan pemerintah, dukungan masyarakat sekitar juga menjadi faktor penting dalam keberhasilan pendidikan di wilayah 3T.

“Dukungan paling berarti adalah kepercayaan dan kolaborasi masyarakat. Ketika orang tua percaya sekolah dapat membawa perubahan bagi masa depan anak-anak mereka, itu menjadi kekuatan besar. Keterlibatan sederhana seperti memastikan anak hadir tepat waktu sangat membantu keberhasilan pembelajaran,” tuturnya.

Melalui sinergi antara kebijakan pemerintah, dedikasi guru, serta dukungan keluarga dan masyarakat, pembangunan sumber daya manusia di wilayah 3T terus diperkuat secara berkelanjutan.

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu