Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Pendekar Besar Tapak Suci Khutbah di Godog, Jelaskan Tafsir Al-Kautsar

Iklan Landscape Smamda
Pendekar Besar Tapak Suci Khutbah di Godog, Jelaskan Tafsir Al-Kautsar
pwmu.co -
Jamaah shalat Idul Adha halaman Perguruan Muhammadiyah Desa Godog. Pendekar Besar Tapak Suci Khutbah di Godog, Jelaskan Tafsir Al-Kautsar (Alfain Jalaluddin Ramadlan/PMMU.CO)

Tafsir Surat Al-Kautsar

Kemudian Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Laren tersebut menambahkan cerita tentang turunnya surat al-Kautsar.

Ayat tersebut menceritakan, pada suatu saat Nabi Muhammad SAW mengalami waktu yang sangat susah. Beliau mempunyai anak laki-laki dan perempuan. Yang laki-laki bernama Abdullah atau Al-Qasim dan sudah meninggal. Tinggal perempuan yaitu Fatimah.

Dia menjelaskan, menurut Ibnu ‘Abbas, surat ini turun tak lama setelah Al-Ash bin Wa’il berpapasan dengan Rasulullah SAW di sebuah pintu masjid.

Mereka memang sempat bercakap-cakap. Namun ketika Al-Ash bin Wa’il masuk ke dalam masjid, ia ditanya beberapa orang terkait dengan siapa ia berbicara sebelumnya. Al-Ash menjawab, “Orang yang terputus (al-abtar) itu.’’

Abah Wi menerangkan, Al-abtar merupakan istilah yang diucapkan kaum kafir pada waktu itu, untuk mengartikan seseorang yang tidak memiliki anak laki-laki. Jika menyangkut hal tersebut, memang Rasulullah baru saja kehilangan putranya yang bernama Abdullah atau Al-Qasim di riwayat lain.

Dikisahkan Ibnul Mundzir dari Ibnu Juraij, dia mengatakan; “Telah sampai kabar kepadaku bahwasanya tatkala Ibrahim, putra Nabi Muhammad meninggal dunia, maka orang Quraisy berkata, ‘’Muhammad menjadi orang yang terputus keturunannya.’” 

Hal tersebut membuat Rasulullah marah, sehingga turunlah ayat, ‘’Sesungguhnya kami telah memberikan kepadamu al-kautsar” untuk memberikan ketenangan kepada Rasulullah SAW.

Menurut Abah Wi, dengan hati yang susah tersebut, Allah memperingatkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui surat al-Kautsar ayat 2

Iklan Landscape UM SURABAYA

‎فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْۗ

“Maka laksanakanlah salat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah)”.

Karena itu, lanjutnya, sebagai rasa syukurmu kepada Tuhanmu, maka laksanakanlah shalat dengan ikhlas semata-mata karena Tuhanmu. Bukan dengan tujuan ria. Dan berkurbanlah demi Allah dengan menyembelih hewan sebagai ibadah dan sarana mendekatkan diri kepada Allah.

“Maka, jika kita dalam keadaan mampu melakukannya, sehat wal afiat, maka kita sangat dianjurkan berkurban. Nabi SAW mengatakan, barang siapa yang berkelapangan harta, namun tidak mau berkurban, maka jangan sekali-kali mendekati tempat shalat kami,” terangnya

Imam Besar Masjid At Taqwah Godog tersebut lalu berpesan, jadi belum bisa  berkurban sekarang maka besok tidak apa-apa yang penting masih hari tasyrik. (*)

Editor Mohammad Nurfatoni

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu