Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Pendidikan dalam Tazkiyatul ‘Aql

Iklan Landscape Smamda
Pendidikan dalam Tazkiyatul ‘Aql
Prof. Triyo Supriyatno. Foto: Istimewa
Oleh : Prof. Triyo Supriyatno Wakil Rektor III UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
pwmu.co -

Dalam wacana pendidikan Islam, istilah tazkiyah sering dilekatkan pada dimensi jiwa, tazkiyatun nafs, penyucian hati dan dorongan batin.

Namun, ada satu dimensi yang kerap luput dari perhatian, yakni tazkiyatul ‘aql, penyucian akal atau pencerahan pikiran.

Padahal, akal adalah piranti fundamental yang membedakan manusia dari makhluk lainnya. Pendidikan Islam yang mengabaikan tazkiyatul ‘aql berisiko melahirkan generasi yang cerdas secara teknis tetapi miskin integritas, atau sebaliknya, saleh dalam ritual tetapi lemah dalam nalar kritis.

Akal sebagai Amanah Ilahi

Al-Qur’an menegaskan berkali-kali tentang pentingnya menggunakan akal. Firman Allah: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” (QS. Ali Imran [3]: 190).

Ayat ini menunjukkan bahwa akal adalah instrumen tafakkur untuk menyingkap tanda-tanda kebesaran Allah. Akal bukan sekadar mesin logika, melainkan medium spiritual untuk menemukan kebenaran.

Dalam tradisi pendidikan Islam klasik, akal dipandang sebagai amanah yang harus dijaga kemurniannya.

Imam al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menyebut akal sebagai “raja” yang mengatur seluruh anggota tubuh.

Bila akal keruh, maka keputusan yang lahir darinya pun akan keliru. Karena itu, pendidikan Islam tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga membersihkan akal dari syubhat, kesombongan intelektual, dan prasangka yang menyesatkan.

Tazkiyatul ‘Aql: Menjaga Kebeningan Berpikir

Apa yang dimaksud dengan tazkiyatul ‘aql? Secara sederhana, ia adalah proses penyucian pola pikir dari hal-hal yang merusak objektivitas dan kejujuran intelektual. Penyucian ini mencakup:

Pertama, menghindari taklid buta. Pendidikan Islam mendorong peserta didik untuk tidak sekadar menelan dogma, tetapi memahami argumen di baliknya.

Nabi Muhammad saw bersabda, “Janganlah kalian menjadi orang yang ikut-ikutan, jika orang berbuat baik kamu ikut baik, jika orang berbuat buruk kamu pun ikut buruk. Tetapi biasakanlah diri kalian, jika orang berbuat baik kamu pun berbuat baik, dan jika mereka berbuat buruk, kamu tetap tidak berbuat buruk.” (HR. Tirmidzi). Hadis ini relevan dengan pendidikan kritis: berani berpikir mandiri dan tidak hanyut oleh arus mayoritas.

Kedua, menjaga dari syahwat dan ghaflah. Akal yang dikuasai hawa nafsu akan kehilangan orientasi. Dalam konteks pendidikan, ini berarti menumbuhkan etika berpikir: mengutamakan kebenaran, bukan kepentingan pribadi atau kelompok.

Ketiga, menyinergikan wahyu dan ilmu. Tazkiyatul ‘aql tidak mengingkari sains modern. Justru ia menuntut keterpaduan: wahyu sebagai sumber nilai, dan ilmu pengetahuan sebagai instrumen aktualisasi.

Relevansi bagi Pendidikan Indonesia

Mengapa isu ini penting untuk pendidikan Islam di Indonesia? Pertama, kita menghadapi paradoks kualitas: di satu sisi, banyak lembaga pendidikan Islam telah maju secara kelembagaan; di sisi lain, belum sepenuhnya menghasilkan generasi yang kritis dan mandiri berpikir.

Fenomena hoaks yang mudah dipercaya, maraknya ujaran kebencian yang justru diproduksi oleh kalangan terdidik, serta rendahnya budaya literasi adalah tanda bahwa akal kita belum benar-benar disucikan.

Kedua, pendidikan kita kerap terjebak pada aspek kognitif semata. Anak dididik untuk menghafal, bukan memahami; mengulang informasi, bukan mengolah makna.

Padahal, tazkiyatul ‘aql menghendaki lebih dari sekadar transfer ilmu: ia menuntut internalisasi nilai kebenaran, keterampilan berpikir kritis, serta keberanian moral untuk menegakkan yang benar sekalipun bertentangan dengan arus.

Ketiga, di tengah pusaran globalisasi dan kecerdasan buatan, tazkiyatul ‘aql menjadi filter etis. Teknologi mampu menghadirkan data dan analisis dalam hitungan detik, tetapi tanpa akal yang jernih, manusia justru bisa terjerumus pada manipulasi, konsumerisme, bahkan dehumanisasi. Pendidikan Islam yang menekankan penyucian akal akan melahirkan generasi yang mampu memanfaatkan teknologi untuk maslahat, bukan mudarat.

Praktik dalam Pendidikan Islam

Bagaimana mewujudkan tazkiyatul ‘aql dalam praksis pendidikan Islam? Ada beberapa langkah strategis:

Pertama, integrasi kurikulum ilmu dan akhlak. Ilmu pengetahuan harus selalu diikat dengan nilai. Misalnya, pembelajaran sains tidak hanya membahas hukum fisika, tetapi juga mengajak siswa merenungi kebesaran Sang Pencipta dan keberadaan Tuhan dalam kehidupan.

Kedua, menghidupkan tradisi debat sehat. Dalam khazanah Islam klasik, munazarah adalah bagian dari pendidikan. Debat bukan untuk menjatuhkan lawan, melainkan melatih kejernihan berpikir dan menghargai perbedaan.

Ketiga, menanamkan etika intelektual. Sejak dini, peserta didik dibiasakan dengan kejujuran akademik: tidak mencontek, tidak plagiat, tidak memanipulasi data. Ini bagian dari penyucian akal agar tetap jernih dan amanah.

Keempat, mendorong literasi luas. Penyucian akal juga berarti memperluas cakrawala berpikir. Membaca karya klasik, literatur modern, hingga hasil riset kontemporer akan mencegah eksklusivisme intelektual.

Pencerahan Pemikiran: Jalan Peradaban

Pada akhirnya, pendidikan Islam dalam tazkiyatul ‘aql bukan sekadar wacana, melainkan jalan membangun peradaban.

Sejarah mencatat bagaimana kejernihan akal umat Islam pada era keemasan melahirkan Ibnu Sina, al-Farabi, al-Khawarizmi, dan tokoh-tokoh lain yang memberi kontribusi universal. Mereka tidak hanya saleh dalam ibadah, tetapi juga jernih dalam berpikir.

Indonesia hari ini membutuhkan generasi serupa: berakhlak sekaligus kritis, beriman sekaligus berilmu.

Pendidikan Islam harus menjadi lokomotif untuk lahirnya manusia yang bersih akalnya, sehat jiwanya, dan kokoh integritasnya.

Itulah buah dari tazkiyatul ‘aql—pencerahan pemikiran (penyucian akal) yang melahirkan kejernihan pandangan, kekuatan moral, dan arah hidup yang lurus.

Jika pendidikan Islam mampu menginternalisasikan tazkiyatul ‘aql, maka ia bukan hanya mendidik murid menjadi cerdas, melainkan juga menumbuhkan generasi yang berani berpikir jernih, menolak kebatilan, dan mengabdi pada kemaslahatan umat manusia. Di situlah letak harapan sekaligus tantangan besar pendidikan Islam di Indonesia. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu