
PWMU.CO – Panti Asuhan dan Pondok Pesantren Al Mizan Muhammadiyah Lamongan menggelar Akhirussanah tahun pelajaran 2024/2025 pada Sabtu (14/6/2025), bertempat di halaman Al Mizan Putra.
Suasana haru dan kebanggaan mewarnai prosesi wisuda ratusan santri tingkat Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA).
Hadir dalam acara ini Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Lamongan KH Drs Shodikin MPd, para sesepuh, Badan Pembina, serta keluarga besar Al Mizan.
Dalam sambutannya, Mudir PA dan PP Al Mizan, Mujianto MPdI, menegaskan bahwa Al Mizan bukan sekadar lembaga pendidikan formal, melainkan tempat pengkaderan yang dirancang selama enam tahun. Oleh karena itu, bagi santri kelas 9 MTs, ia berharap dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang MA di Al Mizan.
“Kalau baru tiga tahun, ibaratnya celana itu masih Zaid—belum jadi. Masih banyak pengalaman yang belum dirasakan: belum jadi ketua kamar, belum jadi IPM, belum pernah menulis paper, belum menyusun program kerja, dan sebagainya. Itulah nilai lebih pesantren,” ungkapnya.
Mujianto menekankan pentingnya pengalaman organisasi dan kehidupan berjamaah dalam membentuk karakter santri. Menurutnya, inilah yang membedakan pesantren dengan sekolah umum.
Sukses Tak Datang di Atas Nampan Emas
Lebih lanjut, Mujianto memberikan motivasi kepada santri dan wali santri untuk tidak menyerah dengan keterbatasan. Ia mencontohkan perjuangan Nabi Muhammad Saw yang lahir dalam kondisi yatim dan penuh keterbatasan, namun menjadi tokoh besar dalam sejarah.
“Kesuksesan tidak datang di atas nampan emas. Ia bisa dimulai dari keterbatasan, dari ketekunan, dan dari kesungguhan dalam belajar dan berjuang,” tuturnya.
Ia mengajak para santri kelas 12 untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi dan tidak berhenti pada titik ini. “Lanjutkan! Jangan berhenti di sini,” tegasnya.
Dalam bagian akhir sambutannya, Mujianto menyampaikan permohonan maaf kepada para wali santri, terutama kelas 9 dan 12 yang akan meninggalkan Al Mizan.
“Kami mohon maaf sebesar-besarnya jika selama enam atau tiga tahun ini ada hal-hal yang kurang berkenan. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin dengan segala keterbatasan,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan bahwa variasi capaian hafalan dan prestasi santri adalah bagian dari ikhtiar maksimal yang sudah dilakukan oleh para ustadz dan musyrif.
Mujianto menutup sambutannya dengan ajakan untuk terus mendoakan anak-anak. Menurutnya, doa adalah senjata yang mampu menembus ruang dan waktu.
“Doa Nabi Ibrahim dikabulkan Allah bukan dalam satu-dua tahun, tapi bahkan ratusan tahun kemudian. Maka iringi anak-anak kita dengan doa, semoga Allah mudahkan langkah mereka dan berikan kesuksesan,” pungkasnya. (*)
Penulis Alfain Jalaluddin Ramadlan Editor Azrohal Hasan






0 Tanggapan
Empty Comments