Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Pengajian Ahad Pagi di LKSA Muhammadiyah Rungkut Bahas Shalat dalam Perspektif Sosial dan Pendidikan

Iklan Landscape Smamda
Pengajian Ahad Pagi di LKSA Muhammadiyah Rungkut Bahas Shalat dalam Perspektif Sosial dan Pendidikan
Dr. Munzakir, S. Kep., Ns., M. Kes. di Pengajian Ahad Pagi PCM Muhammadiyah Rungkut. Foto: Ahsan/PWMU.CO
pwmu.co -

Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Rungkut melalui Majelis Tabligh menggelar Pengajian Ahad Pagi di LKSA Muhammadiyah Rungkut, Ahad (18/1/2026). Kegiatan yang berlangsung pukul 06.30–08.00 WIB ini mengangkat tema “Shalat Ditinjau dari Perspektif Sosial dan Pendidikan” dengan menghadirkan Dr. Mundakir, S. Kep., Ns., M. Kes., Rektor Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura), sebagai pengisi kajian.

Dalam sambutan perwakilan PCM Rungkut, Fathur Rahim, menyampaikan bahwa pengajian Ahad Pagi merupakan agenda rutin yang dilaksanakan setiap Ahad ketiga setiap bulan. Kegiatan ini bertujuan untuk mengingatkan umat Islam bahwa kehidupan memiliki tujuan dan pada akhirnya akan berakhir dengan kematian.

“Melalui kajian ini, kita diingatkan agar mempersiapkan diri sejak dini, sehingga di akhir hayat dapat meraih husnul khatimah,” ujarnya.

Pada sesi kajian, Dr. Mundakir memaparkan hasil survei internasional terkait praktik shalat umat Islam di berbagai negara. Dalam survei tersebut, Nigeria menempati posisi teratas dengan 91% responden mengaku melaksanakan shalat lima waktu, sedangkan Indonesia dengan 84%. Ia kemudian mengaitkan data tersebut dengan peristiwa Isra Mi’raj, di mana shalat merupakan satu-satunya ibadah yang diperintahkan secara langsung oleh Allah SWT.

Namun demikian, Dr. Mundakir menekankan bahwa pelaksanaan shalat tidak cukup hanya sebatas rutinitas fisik. Ia menyebut fenomena “shalat mekanik”, yakni shalat yang dilakukan tanpa kekhusyukan sehingga tidak meninggalkan bekas dalam perilaku sehari-hari.

“Jika shalat dilakukan tanpa memahami bacaan dan maknanya, maka dialog dengan Allah tidak terbangun. Padahal, shalat sejatinya adalah komunikasi langsung dengan Allah,” jelasnya.

Menurutnya, shalat yang khusyuk akan menumbuhkan kesadaran bahwa manusia selalu diawasi oleh Allah, sehingga melahirkan rasa malu untuk berbuat keburukan. Ia juga mengutip temuan psikologi yang menyebutkan bahwa orang yang taat beragama pada umumnya memiliki kecenderungan menjadi pribadi yang lebih baik.

Dari perspektif sosial, shalat memiliki dampak nyata dalam kehidupan bermasyarakat. Shalat, lanjutnya, mampu meningkatkan moralitas individu maupun kelompok sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an bahwa shalat mencegah perbuatan keji dan mungkar. Selain itu, shalat menumbuhkan kepedulian sosial, empati, serta ikatan kebersamaan.

“Ketika seseorang yang biasa shalat berjamaah tiba-tiba tidak hadir, jamaah lain akan saling bertanya dan peduli terhadap kondisinya,” ungkapnya.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Shalat juga mengajarkan nilai egaliter, karena di dalam masjid semua manusia setara tanpa memandang jabatan dan status sosial.

“Yang membedakan hanyalah ketakwaan,” tegasnya.

Sementara dari perspektif pendidikan, Dr. Mundakir menjelaskan bahwa shalat melatih kedisiplinan dan keteraturan waktu, meningkatkan etos kerja melalui ritme yang teratur, serta menanamkan nilai tanggung jawab dan integritas. Ia menegaskan keyakinannya bahwa pendidikan awal yang berbasis agama akan membangun pondasi karakter yang kuat.

“Jika memungkinkan, anak-anak disekolahkan di lembaga pendidikan Islam, khususnya Muhammadiyah, agar nilai-nilai keagamaan tertanam sejak dini,” katanya.

Ia menambahkan, shalat juga melatih fokus dan konsistensi, serta berperan penting dalam menjaga kesehatan mental. Shalat menjadi sarana interaksi, konsultasi, dan tempat mencurahkan harapan kepada Allah dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan.

Pengajian Ahad Pagi ditutup dengan penyerahan santunan kepada fakir miskin, dilanjutkan dengan ramah tamah antara jamaah dan panitia kegiatan.

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu