Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Pengajian Begandringan PCM Pandaan Ajak Jamaah Bermuhammadiyah dengan Gembira

Iklan Landscape Smamda
Pengajian Begandringan PCM Pandaan Ajak Jamaah Bermuhammadiyah dengan Gembira
DR KH Murbani Yusuf saat menyampaikan materi kajian (Luqman Wahyudi/PWMU.CO)
pwmu.co -

Pengajian Ahad Pagi Begandringan Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Pandaan kembali digelar pada Ahad (10/8/2025) di halaman Masjid Al-Jauharah, Perguruan Muhammadiyah 3 Pandaan, Jalan Pahlawan Sunaryo Nomor 256, Pandaan, Pasuruan, Jawa Timur.

Acara dimulai pukul 06.00 hingga 09.00 WIB, diawali dengan pembacaan ayat suci al-Quran dan dilanjutkan dengan kajian utama yang disampaikan oleh Dr KH Nurbani Yusuf MSi. Kegiatan ini juga diramaikan dengan penampilan musik dan diakhiri dengan sarapan bersama seluruh jamaah.

Sebelum pengajian dimulai, Ustadz Muhammad Mirdasy, mewakili PCM Pandaan, menyampaikan rencana relokasi SMP Muhammadiyah 3 Pandaan yang saat ini masih satu lokasi dengan SD Muhammadiyah 3 Pandaan.

Relokasi ini bertujuan untuk mengembangkan kedua lembaga agar bisa tumbuh dan maju secara optimal. Ia pun memohon doa restu serta dukungan dari semua pihak demi kesuksesan program tersebut.

Dalam ceramahnya, Ustadz Nurbani Yusuf menyampaikan bahwa para pengurus Muhammadiyah memang tidak dikenal sebagai orang kaya, namun organisasinya sangat kaya.

“Beda dengan organisasi lain, pengurusnya yang kaya, organisasinya miskin. Di Muhammadiyah, pengurus hanya membawa stempel,” ujarnya yang disambut tawa para jamaah.

Ia juga menyebut bahwa Muhammadiyah yang menjadi salah satu organisasi terkaya nomor empat di dunia ini, tidak terlepas dari kesederhanaan para tokohnya, seperti KH. AR Fachrudin yang meski menjadi Ketua PP Muhammadiyah, tetap hidup sederhana dan berdakwah dengan naik kendaraan umum serta menginap di rumah Pimpinan Ranting, Pimpinan Cabang, Pimpinan Daerah dan Wilayah.

“Bermuhammadiyah itu harus dengan gembira,” tegas Dosen Universitas Muhammadiyah Malang ini.

Ia juga menambahkan bahwa kajian dalam Muhammadiyah harus diakhiri dengan “koma” bukan “titik”, yang berarti ilmu dari pengajian harus diamalkan, bukan justru menjadi pemicu pertengkaran atau saling mengkafirkan.

Dadi mulih ngaji ojok tambah sumpek,” tuturnya dalam bahasa Jawa, yang berarti “Pulang dari pengajian jangan malah tambah pusing”.

Ia menekankan bahwa pengajian harus menambah semangat dan kegembiraan.

Sebagai pengasuh Pengajian Padang Mahsyar di Batu, Ustadz Nurbani juga menyinggung tentang metode pendidikan KH Ahmad Dahlan yang mengajarkan Surat al-Maun secara berulang-ulang. Ketika murid-muridnya bertanya mengapa tidak berpindah ke surat lain, Kyai Dahlan menjawab dengan bertanya kembali, “Apakah surat al-Maun sudah diamalkan?.”

Dari teologi al-Maun inilah, lanjutnya, lahir ratusan perguruan tinggi, rumah sakit, dan ribuan sekolah Muhammadiyah di seluruh Indonesia.

Dalam sesi tanya jawab, seorang jamaah mengajukan pertanyaan tentang tauhid yang benar. Ustadz Nurbani menjawab dengan mengutip hadits Nabi SAW:

مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ دَخَلَ الجَنَّةَ

Artinya: “Barang siapa yang akhir ucapannya sebelum meninggal adalah ‘Lā ilāha illā Allāh’, maka dia akan masuk surga.”

Ia menjelaskan bahwa semua nabi dan rasul diutus untuk menyampaikan kalimat tauhid, dan umat Islam harus memahami tauhid murni sebagaimana dijelaskan dalam surat al-Ikhlas.

Selanjutnya, Ustadz Nurbani menutup kajiannya dengan candaan khasnya.

“Semua yang hadir di sini insyaAllah masuk surga. Kalau tidak yakin semua masuk surga, nanti surganya suwung (kosong),” katanya disambut tawa jamaah.

Ustadz Nurbani juga mengajak jamaah untuk membaca dan memahami dua ayat terakhir surat al-Baqarah (ayat 285-286) agar selalu diberi kecukupan dan kebahagiaan oleh Allah SWT. (*)

 

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu