Ukuran tertinggi keimanan bukan terletak pada banyaknya ibadah, melainkan pada seberapa halus seseorang menjaga perasaan orang lain.
Pesan mendalam itu disampaikan Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jatim Dr. KH. M. Sholihin Fanani saat mengisi Pengajian Insyiroh di Masjid Al-Khoory kompleks Universitas Muhammadiyah Surabaya (UM Surabaya), Kamis (30/10/2025).
Dalam pengajian yang diikuti dosen, tendik, dan mahasiswa tersebut, beliau menegaskan pentingnya memperkuat iman melalui ilmu, amal, dan akhlak di tengah derasnya arus kehidupan modern.
Acara ini dibuka oleh Wakil Rektor I Bidang Akademik, Dr. dr. Muhammad Anas, yang menegaskan bahwa pengajian tersebut menjadi bagian dari upaya kampus dalam menanamkan nilai-nilai keislaman dan Kemuhammadiyahan di lingkungan akademik.
“Kegiatan ini merupakan implementasi dari program Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah untuk memperkuat spiritualitas civitas academica. Harapannya, kegiatan seperti ini bisa membentuk karakter islami yang utuh,” ujar dr. Anas.
Dalam ceramahnya, Kiai Sholihin Fanani mengawali dengan mengutip pandangan Imam Al-Ghazali bahwa perilaku manusia dipengaruhi oleh empat faktor utama: agama, ilmu, kebiasaan, dan lingkungan.
Dari keempat faktor tersebut, kata beliau, agama menempati posisi paling penting karena menjadi dasar bagi lahirnya keimanan.
“Ukuran keimanan tertinggi itu terlihat dari bagaimana seseorang menunaikan salatnya. Namun, salat yang baik seharusnya tercermin dalam akhlaknya. Dan akhlak yang paling penting adalah kemampuan menjaga perasaan orang lain,” ujar Kiai Sholihin di hadapan jamaah.
Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa untuk memperkuat iman, seseorang perlu memperdalam ilmu agama, memperbanyak doa, bergaul dengan orang saleh, beramal, dan berzikir. Iman yang kuat, katanya, tidak lahir secara tiba-tiba, tetapi merupakan hasil dari upaya yang berkelanjutan dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Kiai Sholihin juga menyoroti hal-hal yang dapat merusak iman. Menurutnya, sifat iri hati, berbohong, dan sombong merupakan penyakit hati yang berbahaya karena bisa mengikis nilai-nilai keimanan tanpa disadari.
“Tiga hal ini ibarat racun yang merusak fondasi spiritual seseorang. Maka kita harus selalu waspada dan melakukan introspeksi diri,” kata dosen AIK UM Surabaya itu.
Selain itu, Kiai Sholihin juga menjelaskan fungsi iman dalam kehidupan sehari-hari.
Iman, kata dia, bukan sekadar keyakinan, tetapi juga sumber kekuatan dan harapan, landasan moral dan etika, serta sarana mencapai kebahagiaan dan keselamatan hidup.
“Orang yang beriman tidak mudah putus asa karena ia memiliki sandaran yang kokoh. Iman membuat seseorang tegar menghadapi ujian hidup,” jelasnya.
Kegiatan Pengajian Al-Insyiroh ini direncanakan menjadi agenda rutin di UM Surabaya. Selain sebagai ajang silaturahmi antarwarga kampus, pengajian ini juga diharapkan menjadi sarana penguatan karakter religius bagi dosen, tendik, dan mahasiswa.
Dengan tema besar penguatan nilai-nilai spiritual, kegiatan ini menegaskan komitmen Universitas Muhammadiyah Surabaya dalam mewujudkan visi kampus sebagai pusat unggulan ilmu, iman, dan amal. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments