Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Jiken, Tulangan, Sidoarjo kembali menggelar pengajian silaturahim perdana di bulan Syawal 1447 H, Ahad (5/4/2026). Kegiatan yang berlangsung hangat ini dilaksanakan di rumah Misman. Warga sekaligus jamaah Muhammadiyah setempat.
Pengajian rutin yang digelar dua pekan sekali tersebut dihadiri warga Muhammadiyah setempat. Tampak hadir pula ibu-ibu ‘Aisyiyah, kader Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), serta pemuda ranting yang turut memeriahkan suasana kebersamaan pasca-Ramadan.
Bertindak sebagai penceramah adalah Novan Afianto M.Pd, anggota Majelis Tabligh PDM Sidoarjo. Dalam ceramahnya, mantan Kepala SD Muhammadiyah 2 Kemantren Tulangan, menyampaikan pentingnya menjaga semangat silaturahim di era digital.
Novan mengingatkan bahwa semangat berjamaah tidak boleh surut setelah Ramadan. Ia menekankan pentingnya kepedulian sosial antaranggota jamaah, termasuk saling memperhatikan kehadiran dalam kegiatan rutin.
“Kalau ada yang tidak hadir, jangan dibiarkan. Minimal ditanya, disapa. Itu bentuk perhatian. Dari situ akan tumbuh rasa memiliki dan keinginan untuk kembali hadir,” ujarnya.
Menurutnya, kebersamaan dalam mencari ridha Allah harus dibangun dengan kesamaan frekuensi iman dan amal. Jamaah yang saling menguatkan akan lebih mudah istiqamah dalam kebaikan.
Selain itu, ia mengingatkan bahaya penyakit hati seperti hasad (iri dengki) yang dapat merusak amal dan hubungan sosial. Hasad, kata dia, menjadi sumber berbagai perilaku negatif, baik dalam ucapan maupun tindakan.
“Obatnya adalah husnuzan, berbaik sangka kepada Allah dan sesama manusia. Dengan hati yang bersih, hidup akan terasa lebih tenang dan penuh keberkahan,” tegasnya.
Novan juga mengutip pesan Rasulullah SAW tentang pentingnya menjaga hubungan antar sesama Muslim. Ia menegaskan bahwa tidak diperbolehkan seseorang memutus hubungan atau saling membenci lebih dari tiga hari.
Dalam konteks kehidupan modern, ia turut mengingatkan agar bijak menggunakan media sosial. Menurutnya, meluapkan emosi atau masalah pribadi di media sosial justru dapat membuka peluang dampak negatif.
“Kalau ada masalah, selesaikan dengan cara yang baik. Bukan diumbar di media sosial,” pesannya.
Ia menutup tausiyah dengan kisah inspiratif tentang seorang sahabat yang dijamin masuk surga bukan karena banyaknya ibadah. Melainkan karena hatinya yang bersih—tidak menyimpan dendam dan mudah memaafkan.
“Setiap malam sebelum tidur, ia membersihkan hatinya dan memaafkan semua orang. Ini yang menjadi kunci kemuliaannya,” tuturnya.
Melalui pengajian Syawal ini, PRM Jiken berharap semangat kebersamaan, kepedulian sosial, dan kebersihan hati terus tumbuh di tengah jamaah. Dengan demikian, ukhuwah Islamiyah semakin kuat dan membawa keberkahan dalam kehidupan bermasyarakat.





0 Tanggapan
Empty Comments